Cerita Ngentot Dewasa 2018 Terbaru Daun Muda Semok Terhot

Cerita Bokep Mesum, Cerita Dewasa Bergambar, Cerita Dewasa Sex Terbaru, Cerita Dewasa Terbaru, Cerita Mesum Bergambar, Cerita Mesum Terbaru, Cerita Ngentot, Cerita Ngentot Hot, Cerita Ngewe Panas, Cerita Pemerkosaan Perawan, Cerita Seks Bergambar, Cerita Seks Terbaru, Cerita Sex Tante, Cerita XXX Terbaru, Kumpulan Cerita Seks Terbaru 2018, Situs Cerita Sex Terbaik
Perkenalkan nama saya Andra (tidak ada nama asli). 24 tahun dan sekarang belajar di sebuah universitas swasta di Kediri. Saya orang yang populer di kampus (sedingin nama saya). Tapi saya punya kelemahan, saat ini saya belum perawan lagi (sekarang emang bukan masa keperjakaan kebaikan). Nah, kehilangan nyawaku inilah yang ingin kuberitahu.

Cerita Ngentot Dewasa 2018 Terbaru Daun Muda Semok Terhot

Aku punya banyak cewek. Di antara banyak gadis yang paling saya sukai adalah Rere. Tapi dalam cerita ini bukan karakter utama Rere. Karena kehilangan kepribadian saya tidak ada hubungannya dengan Rere. Padahal, waktu itu saya lagi bersuara dengan doski.

Sex Story – Saya pikir Rere tidak terlalu peduli dengan saya. Saya sangat baik bersamanya. Tak lama sudah lima bulan berpacaran, memasak Rere hanya memberi pipi matahari doang. Ceritanya pas saya ngapel ke tempat kostnya, saya ngajakin dia ML. Aku sangat menyesal. (sering mantengin VCD parto kali ya …). Tapi Rere langsung menolaknya. Sebagai gantinya saya diberi tahu, busyet dah!

Makanya malam itu saya tidak ngapel (ceritanya rewel). Aku hanya duduk-duduk saja di ruang kos. Semua temanku di ngapel ngapel entah nglayap entah dimana. Rumah utama yang kebetulan bersebelahan dengan rumah kos agak sepi. Karena sejak sore ini kost dan bapak pergi ke undangan. Putri sulungnya, Murni dijemput oleh pacarnya sejam yang lalu. Sedang Maidy, adiknya Murni baik nglayap dimana. Hanya ada Maya, yang termuda dan Ersa, sepupunya yang kebetulan mengunjungi rumah oomnya lagi. Ada irama lagu-lagu India dari dalam rumah utama, jadi mereka akan menikmati menonton Gala Bollywood.

Tidak tahu, entah karena suaraku merdu atau mungkin karena suaraku keliru dan ribut, Maya mendatangiku.

“Ngapel lagi ngapel ya, Mas Andra?” salam ramah (harap dicatat jika Maya benar-benar orang yang ramah)
“Ngapel dengan siapa, May?” Jawabku sambil terus memainkan Damn Chocolate.
“Ah … Mas Andra pura-pura melupakan pacarnya.”
Gadis itu duduk di sampingku (saat dia duduk beberapa pahanya yang mulus terlihat karena Maya cuman memakai kotek hanya lutut). Aku hanya tersenyum kecut.
“Aku putus dengan dia.” Jawab saya nanti
Saya tidak tahu, tapi saya menangkap sesuatu yang aneh tentang tanda Maya. Gadis berusia 14 tahun itu sepertinya senang mendengar saya putus. Tapi dia mencoba menutupinya.
“Iya, benjolan deh … putus dengan pacar ya?” dia menggoda. “Saya pikir itu benar-benar sebuah lagu.”
Saya menghentikan klip gitar saya.
“Nah, bagaimana ya … kurasa aku lebih memilih Maya deh daripada bersamanya.”

Baik lo Tentu itu berubah wajahnya. Gadis berkulit gelap berkulit gelap itu berwajah merah. Saya langsung berpikir, gosip bener apa apa yang beredar di tempat kos ini jika Maya mau ikut dengan saya.
“Mungkin, kenapa kau tidak malu?”

Maya melirikku manja. Tiba-tiba ngrasani batinku, gadis yang duduk di sampingku itu manis juga. Masih duduk di kelas dua smp tapi kok sudah bertubuh tua seperti sma aja. Ramping langsing ramping, maninya maninya boneka mannequins, payudara … waduh kok terlalu besar ya. Tiba-tiba jantungku berdebar menatap tubuh Maya hanya cuman yang mengenakan kemeja tanpa lengan yang ketat. Belahan tubuhnya sedikit terlihat di antara kancing manis. Eh, ereksi saya meningkat saat saya melirik pahanya yang semakin terlihat. Kulit paha itu ditumbuhi bulu halus tapi ukurannya cukup tebal betina.

“Mas, dari pada malas bagaimana kalau Mas Andra membantuku ngerjain teman sebaya?”
“Nah Maya, Sabtu malam rekan ngerjain kupas? Berbagi kencan sama Mas Andra, iya nggak?” tangan saya.
“Ah, ini Andra Mas aja bisa godain aja ..”
Maya mencubit pahaku sekilas. Siir .. Wuih, bagaimana rasanya seperti ini? Caranya ya, saya kayak kayak kayak nafsu sama anak ini. Wow, ayam saya bangun yah?
“Mau tidak Mas, tolong Maya?”
“Apakah ada upah?”
“Iiih, tolong minta tolong minta upah ya …”
Sedikit pinch Maya kembali memburu pahaku. Siiiir … kok malah tambah ngeri seperti ini ya?
“Jika dibayar oleh Sun Mas Andra ingin pergi.” pensil saya sekali lagi
“Aah … Mas Andra nakal deh …”

Sekali lagi Maya mencubit pahaku. Kali ini aku memegang tangan Maya untuk menahanku di pahaku. Busyet, gadis itu tidak menolak. Dia cuman diam sambil menahan malu.
“Nah, Maya mengambil bukunya dan mengajak rekannya ke kamar Mas Andra, tidak akan membantu rekan kerja, tidak suka bonus pacaran?”

Gadis itu tersenyum lalu masuk ke rumah utama. Menyenangkan … tentu dia mau. Benar saja, tidak sampai dua menit aku bisa menuntunnya ke kamar kosku.

Kami terpaksa duduk di satu-satunya tempat tidur cuman di dalam ruangan. Pintu ditutup, tapi aku tidak mengunci. Saya sengaja tidak segera membantunya ngerjain peer, saya hanya mengajaknya untuk ngobrol.
“Apakah Anda memberi tahu Ersa apakah Anda datang ke sini?”
“Ya, saya sudah bilang ke tempat Mas Andra berada.”
“Lalu seperti apa Ersa? Tidak marah?”
“Ya bisbol, apa yang sedang kacau?”
“Sendirian dengan dia?”
“Mas Andra kenapa kamu ingin Ersa memulai?” Sukanya adalah Ersa, bukan? “Kata Maya dengan cemberut.
“Yee … Maya marah, cemburu?”
Maya mengerutkan kening, tapi sesaat tidak lagi. Dia membuka buku yang dia bawa dari rumah utama.

“Maya sudah punya pacar?” Aku bertanya memancing
“Belum.”
“Kencan belum pernah?”
“Dia bilang Mas Andra ingin mengajari pacaran Maya.” Jawab Maya
“Maya bener mau?” Bersama denganku, pikirku.
“Kencan pada dasarnya pasti seperti itu.” Aku melanjutkan saat Maya sangihar membungkuk malu. “Maya menyukai Andra?”

Maya menatapku penuh arti. Matanya tampak ingin menghibur pertanyaanku. tapi aku butuh jawaban yang bisa didengar. Aku duduk melawan Maya.
“Maya menyukai Mas Andra?” Saya ulangi.
“Ya.” dia bergumam pelan.
Kanan!! Dia menyukai saya. Jika aku bisa …
“Mas Andra ingin ngesun Maya, Maya nurut aja yah …” bisikku ke telinga Maya

Tanganku mengusap rambutnya dan wajah kami semakin dekat. Maya memejamkan mata dan membasahi bibirnya (aku benar-benar bersorak). Lalu bibirku menyentuh bibirnya yang seksi, sangat lembut. Kulumat bibir bawahnya pelan tapi penuh dengan keinginan, nafasnya mulai berat. Napasku semakin cepat saat aku menggigit bibirku.
Mmm..muah … bibir kuhisap pematangan itu.

“Engh .. emmh ..” Maya mulai berteriak.
Napasnya mulai tidak beraturan. Matanya tertutup rapat seolah-olah antara lidah hitam saling berkelahi satu sama lain, dan saling menggigit. Tanganku tanpa harus diperintah telah menyusup di balik kemeja ketat. Payudara Maya penuh perasaan. ereksi saya mulai menyala saat gundukan hangat terasa kenyal di ujung jari saya.

Bibirku merangkak di leher Maya. Aku cumbui leher harum. Kupagut katelyot perlahan sambil menahan sesaat. Gigitan kecilku menggoyang nafas Maya.
“Engh .. Misa … jangan … aku uuuh …”
Ketika saya melepaskannya, nampaknya tanda itu memerah di seputar leher Maya.

“Mungkin … baju itu dilepas ya sayang …”
Gadis itu hanya mengangguk. Matanya masih tertutup rapat tapi bibirnya tersenyum. Napasnya memburu. Sambil menahan nafsu, saya membuka empat tombol kemeja Maya satu per satu dengan tangan kanan saya. Sementara tangan kiriku masih meremas payudara Maya secara bergantian dari balik kemeja. Tidak ada hati untuk membiarkan Maya kehilangan kesenangannya. Jari-jari Maya menggelitik dada dan perutku, dengan paksa membuka ikat pinggang yang aku kenakan. Aku menggeliat melawan kemarahan romansa yang diciptakan Maya.

Cerita Ngentot Dewasa 2018 Terbaru Daun Muda Semok Terhot

Kemeja pink Maya jatuh di tempat tidur. Mata saya melebar melihat dua gundukan manis yang ditutupi kain tipis berwarna merah muda. Aku memeluk tubuh Mayan dan kembali mencium leher gadis manis itu, aroma parfum dan keringat bercampur membuatku lebih bersemangat membuat hiasan merah di sekeliling lehernya. Dengan susah payah aku menarik kait bra-nya, sampai sekali cabut bra itupun jatuh ke tempat tidur. Dua gundukan daging dihangatkan di jurang hatiku.

Aku mengendurkan tubuh perlahan di tempat tidur. Wow … payudara Maya (yang kira-kira ukuran 34) membengkak. Tepi merah kecoklatan yang sangat menggairahkan. Beberapa kali aku menelan ludah di payudara Maya. Saat aku tidak merasakan apa-apa, Maya menyipitkan matanya.

“Semoga … adek mu begitu besar …”
“Sudah waktunya untuk memilih ya …”
“Ehem, biar aku yang metik ya May …”
Aku di atas Maya. Tanganku langsung bekerja untuk menciptakan kesenangan demi kesenangan di dada Maya.
Mainkan … belok … Aku memutar pentel yang membengkak.
“Auh … Misa .. aku tidak tahan Misa … seperti sekarat mas kencing ..” Maya mengerang.

Aku mengabaikan erangan itu. Aku langsung menyomot payudara Maya dengan mulutku.
“Mmmm … suuup … mmm …” Aku kukenyot-kenyot lalu aku isap puting susu.
“Misa … sakiit …” desah Maya sambil memegangi vaginanya.
Sekali lagi, saya tidak mengabaikan erangannya. Bagi saya, memutar payudara Maya itu menyenangkan. Sebaliknya, rintihan menambah kesenangan yang tercipta.

Tapi seiring waktu aku tidak tahan juga membuat Maya menahan air kencing. Jadi saya hanya mengangkat celananya. Dan ternyata CD merah muda yang dipakai Maya sudah basah.
“Maya kencing di celana ya Misa?”
“Bukan cinta, bukan buang air kecil, hanya lendir vagina cantik saja.”
Maya tertawa terkikik saat telapak tanganku kusut di permukaan vaginanya yang sudah basah. Karena geli di belakangnya terbuka lebar. Vaginanya ditumbuhi bulu yang terawat. Lubang pernikahan itu berkilau karena lendir Maya. Perona merah, vagina masih perawan.

Aku tidak tahan melihat suara mas kawin. Segera aku menarik penisku keluar dari kandang. Lalu aku memasukkannya ke bukaan yang membukanya.
“Pegang ya sayang … engh ..”
“Aduh … sakiiit massa …”
“Egh … santai saja ….”
“Mas … aah !!!” Maya meraih rambutku dengan liar.
Slup … batang penisku yang kuat menembus gua perawan Maya yang masih kecil. Beruntung vagina berair sehingga tidak terlalu sulit untuk menaruhnya. Perlahan, dua senti lima sentimeter masih sangat sempit.
“Aduuuh Misa … sakiiit …” desah Maya.

Aku mengguncang penisku dengan segenap kekuatanku.
“Jruub …”
Segera runtuh seketika sampai ujungnya menyentuh dinding rahim Maya. Batang penisku berdenyut sedikit kesakitan seperti diintimidasi dua dinding tebal. Ujung itu tersentuh oleh cairan hangat. Aku menarik kembali penisku. Kemudian masuk lagi, keluar lagi berkali-kali. Rasa sakit itu perlahan hilang.

Aku membimbing penisku mengibas.
“Sakit sayang …” kataku.
“Enakkk … eungh …” Maya menyukainya.
Dia juga ikut menggoyangkan pantatnya. Semakin lama semakin sulit sampai tempat tidur mencicit. Sampai-sampai tubuh Maya berayun. Sampai-sampai kedua gunung kembar Maya itu terombang-ambing. Segera aku menangkap gunung itu dengan tanganku.

“Enggh .. ahhh ..” Maya mendesis saat tanganku mulai meremas.
“Misa aku ingin buang air kecil …”
“Pipis aja mungkin … gak papa kok.”
“Aaach … !!!”
“Hegh … engh …”
“Suuur … crot .. crot ..”
Kue Maya kawin lendir, sperma saya juga berlumuran juga. Kita berdua sudah mencapai orgasme.

“Ah …” lega. Aku menarik kembali penisku nan kuat. Darah Dara Maya akhirnya berhenti berbaur dengan maniku dan cairan kelautannya. Aku memeluk dan mencium gadis baru yang memberiku kepuasan. Semua orang tertidur.

Kreek … Pintu kamar saya terbuka. Aku langsung berbalik ke pintu dengan panik. Ersa berdiri di depan pintu yang menatap tubuh Maya terbaring telanjang di tempat tidur dan kemudian menatap penisku yang mulai mengendur. Tapi saya juga membeku saat melihat Ersa yang sudah abis abis. Aku tidak tahu apakah Maya pernah masuk. Ersa mengintip di depan ruangan.

“Ersa? Ng … anu ..” antara rasa takut dan nafsu aku melihat Ersa.
Gadis ini dua tahun lebih tua dari Maya. Tak heran jika ia lebih matang dari dunia maya. Meski wajahnya tidak bisa menandingi Maya Maya, namun tubuhnya tak kalah menarik dibanding Maya, apalagi dalam keadaan telanjang bulat seperti itu.

“Saya tidak akan mengatakan kepada oom dan tante asal …”
“Apa yang sedang terjadi?”
Mata Ersa berkaca-kaca ke arah Maya dan penisku bergantian. Lalu dia membelai payudaranya dan vaginanya sendiri. Tangan kirinya bermain-main di vaginanya yang sudah basah. Ersa dengan sengaja memprovokasi nafsu saya. Melihat kejadian itu, gairah saya melambung kembali, ereksi penis saya lagi. Tapi aku masih ingin Ersa mengutarakan gairahku lebih jauh.

Ersa sedang duduk di mejaku. Posisi kaki mekangkang jadi buka pus vaginanya terbuka. Tangannya masih meremas susu sendiri. Angkat tinggi-tinggi seperti menawarkan seikat daging itu untukku.
“Mas Andra .. disini .. ay …”
Saya tidak peduli apakah dia cekikikan seperti rekaman. Aku berdiri di depan gadis itu.
“Ayo .. mas playin aku panas lagi ..” tanyanya penuh semangat.

Saya ganti Ersa meremas payudaranya seukuran 36. Puting diujungnya sudah bengkak dan keras, tandai Ersa sudah nafsu banget banget.
“Eahh .. mmhh …” erangannya yang seksi pernah membuatku mengencangkan jepitanku.
“Eahhh .. mas .. sakit .. bagus ….”

Ersa memainkan jarinya di penisku. Memainkan buah junior membuat saya sangat senang. “Eh … tanganmu sangat nakal …”
Gadis cuman itu terkikik tapi terus bermain dengan senjataku. Karena aku kesal aku menangkap susu susu Ersa secara bergantian. Aku kukenyot saat aku blow-blow.
“Auh …”
Ersa menekan penisku.
“Ers … rasa sakit sayang” keluhku di antara payudara Ersa.
“Dingin di luar sana …” jawabnya.

Setelah puas aku melihat wajah Ersa.
“Ersa, mau sikap baru Mas Andra?”
Gadis itu mengangguk penuh semangat.
“Kalau Ersa terbaring di lantai gih!”
Ersa mematuhinya saat aku berbaring di lantai. Saat aku hendak berbalik, Ersa meraih lenganku. Gadis yang telah jatuh malu segera memelukku untuk menghancurkan bibirnya. Serangan lidahnya menggila di mulut mulut saya jadi saya harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk mengimbanginya. Tanganku menuntunnya dengan menggosok alat kelaminnya. Tentu saja saya langsung merespon. Jariku diputar di antara hutan hitam tebal di atas bukit. “Mmmm … enghh …”
Kami saling bertukar perasaan saling menguntungkan dengan jutaan ciptaan.

Aku tergabung di lantai. Saya mengarahkan Ersa untuk menempati posisi ke-69, tapi kali ini saya berada di lantai bawah. Setelah siap, tanpa harus disuruh segera dimalsukan Ersa ayam ke mulutnya (saya jadi berpikir jika anak ini sudah berpengalaman).
Ersa dengan penuh semangat menghancurkan penisku yang berdenyut nikmat. Begitupun saya, begitu baik menjilati lendir di setiap inci vagina Ersa, jari-jari saya bermain di kedua payudara. Sirup sirup, jadi kedengarannya kerna lendir kausa dari lubang vagina Ersa. Ukuran vagina Ersa sedikit lebih besar dari pohon Maya, bulunya juga lebih padat milik Ersa. Dan klitorisnya … mmm … mungil merah kenyal dan menggairahkan. Jadi jangan ngiri kalau saya benar-benar melumatnya dengan penuh semangat.

“Ngngehhh … uuuhh ..” teriak Ersa sambil terus meremukkan pistolku.
Wabah lendir terus berlanjut.
“Erss … isep sayang, iseppp …” kataku saat aku ingin keluar.
Ersa mengisap keras penisku dan crooott … cairan putih tebal itu penuh dengan corong Ersa. Ersa berhenti menghancurkan penisku, lalu ia berbaring di lantai (tidak lagi menunggangiku). Aku tercengang dan menatapnya.
“Aha …” dia juga menikmati indra sperma di wajahnya, pangkal anak gemblung.

Beberapa saat kemudian dia kembali menyerang penisku. Mendapat serangan seperti itu, saya ganti dia. Aku tumbruk dia, kul kulirnya bibirnya dengan biadab. Tapi tak lama kemudian Ersa berbisik, “Mas .. aku belum tahan …”
Dengan bisikan Ersa memegang penisku dengan maksud menikamnya ke dalam vaginanya.

Saya meminta Ersa menelepon, dan saya siap menusuk kontol kuat saya. ayam saya semakin kencang saat menyentuh bibir vagina. Aku menusuk senjataku melalui terowongan sempit.
“Sick Mas …”
Sulit memasuki lubang pemakaman Ersa, untungnya temboknya basah karena jadi saya tidak terlalu ngoyo.

“Nggeh … sedikit lagi Ers …”
“Eeehhh … waaa !!”
“Jlub …” 15 centi tongkat ayam saya roboh sudah membasmi lubang pembiakan Ersa. Aku diam beberapa saat kemudian aku kocok dengan nafas.
“Eeehh … tetaplah massa … uhh …”
Gadis itu menggeliat nikmat. Darah merembes di belakangnya. Entah sadar atau tidak tangan Ersa meremas payudaranya sendiri.

Lima belas menit penisku bermain petak umpet di vagina Ersa. Rupaya gadis enggan melepaskan penisku. Berulang kali sperma saya muncrat di rongga tubuhnya. Ersa berulang kali menjerit menandakan bahwa dirinya berada di puncak kepuasan tertinggi. Sampai akhirnya Ersa kelelahan dan memilih tidur di punggungnya di samping Maya.

Lelah merasa seperti bekerja di kedua daun muda ini. Saya tidak tahu apakah mereka menyesal tentang apa yang terjadi malam ini. Yang pasti saya tidak menyesal kehilangan balita saya di vagina mereka. Tak berujung puas Setidaknya aku bisa mengobati kekecewaanku pada Rere.

Malam mulai sepi. Sebelum yang lain pulang, aku langsung memindahkan tubuh Maya ke kamarnya lengkap dengan bajunya. Begitu juga dengan Ersa. Dan malam ini saya sibuk berpura-pura tidak tahu apa-apa tentang hal itu. Apalagi tak ada bukti, cipokan bekas di leher Maya sudah pudar.
Dia .. dia .. dia .. mereka akan berpikir ini hanya mimpi. – Situs seks seks online paling komprehensif, novel seks yang diperbarui, novel seks dewasa, novel terbaru dari novel, novel cerita panas, novel bokep, novel novel porno, novel abg ml, novel tante cheat, novel jangkung hypersex, perawan baru seperti telanjang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *