Cerita Dewasa TerUpdate 2018 Celah Onani Terhebatku

Cerita Bokep Mesum, Cerita Dewasa Bergambar, Cerita Dewasa Sex Terbaru, Cerita Dewasa Terbaru, Cerita Mesum Bergambar, Cerita Mesum Terbaru, Cerita Ngentot, Cerita Ngentot Hot, Cerita Ngewe Panas, Cerita Pemerkosaan Perawan, Cerita Seks Bergambar, Cerita Seks Terbaru, Cerita Sex Tante, Cerita XXX Terbaru, Kumpulan Cerita Seks Terbaru 2018, Situs Cerita Sex Terbaik
Saya berada di kelas dua dan lebih dari 14 tahun. Saya memang telah menjadi anak laki-laki yang sangat tergila-gila dengan segala bentuk aktivitas yang ada hubungannya dengan seks bahkan saya bisa membuat sesuatu menunjukkan seputar masalah seks.

Cerita Dewasa TerUpdate 2018 Celah Onani Terhebatku

Kisah Onani Terbesar – Sebagai contoh, saya melihat sebuah benda yang langsung saya pikirkan bahwa jika dibuat, memang sangat menyenangkan. Sejak saya merasakan dan mengetahui bahwa tindakan seks itu menyenangkan dan menyenangkan, saya terus memburu dan mencarinya.

Sebelum Ana dan Tari pindah dari lorong saya, saya sering melakukan keduanya. Ke mana saja dan kapan saja yang penting saya mendapatkan waktu yang tepat untuk memastikan saya melakukannya, jadilah dengan Dance atau dengan Ana. (baca: “Seks Pertama 1 dan 2”). Tapi mereka telah pindah dengan keluarga masing-masing dari sekolah dasar tapi lokasi kepindahan mereka masih ada di sekitar kota saya juga. Jaraknya sekitar 15 kilometer dari tempat saya tinggal.

Paksa saya untuk mengatasi gejolak seks saya dengan cara saya sendiri, terkadang saya masturbasi alias masturbasi sambil berfantasi nikmat yang saya dapatkan dari Ana dan Dance meski kurang enak rasanya dibanding bermain langsung dengan mereka atau orang lain. Seperti pria yang bermain tinju jika tidak ada selera lawan yang kurang bagus. Tapi seiring waktu aku bisa menikmatinya sepenuhnya.

Sampai suatu hari saya mendapat kesempatan dimana kedua orang tua dan saudara sepupu saya bahkan bibi saya menjadi media untuk masturbasiku dan inilah yang akan saya ceritakan pada ceritaku kali ini.

*****

Ini dimulai pada suatu malam ketika saya terbangun dengan perasaan ingin buang air kecil. Aku akan bangun ke kamar mandi. Karena saya terbangun jadi sulit untuk menutup mata saya kembali sehingga sudah menjadi kebiasaan saya apalagi jam di dinding kamar saya saat itu sudah menunjukkan pukul 01.57 pagi.

Sambil mencoba memejamkan mata untuk tidur lagi, pikiranku mulai terlihat kemana-mana sambil menatap langit-langit ruangan. Tapi usaha itu kurang berhasil ditambah pikiran saya sudah mulai berfantasi tentang tindakan seks yang pernah saya dapatkan dari Ana atau Dance.

“Shh .. ah .. ahh ..”, saya mulai mendesis sambil membelai penis saya yang mulai ereksi.

Tapi saya melakukannya perlahan karena takut kedua saudara kandung saya terbangun yang bersama teman sekamar saya. Kamar saya adalah tempat kami tinggal di tiga, saya bersama tiga saudara perempuan saya yang bernama Sony tapi dia berada di bawah saya karena kami berdua memakai tempat tidur susun dua lantai sementara tempat tidur lainnya sekitar satu meter di samping tempat tidur kami yang diduduki oleh saudara laki-laki saya yang kedua bernama Rony, mereka Usia juga hanya satu tahun berbeda dengan usiaku. Sambil terus berkhayal, saya terus membelai kepala penis saya yang semakin licin karena air jernih keluar dari senapan saya.

“Ouh .. ah .. ah ..”, desisku pelan.

Tapi sepertinya ada desahan lain selain desahanku sendiri yang terkadang desahan itu tiba-tiba lenyap.

“Oh .. iya iya ..”, terdengar desahan samar.

Saya juga menaruh telingaku untuk memastikan bahwa suara itu bukan suara saya, saya juga berhenti sejenak dan ternyata sekarang saya tidak terdengar tapi desahnya masih terdengar. Lalu aku bangkit dan duduk untuk mencari tahu dari mana suara itu berasal. Bangun kembali telingaku dengan hati-hati. Aku melihat setiap sudut kamarku dan tatapanku berhenti di langit-langit kamarku dan sepertinya datang dari situ.

Di kamarku ada semacam pintu untuk naik dan turun jika kita ingin naik ke puncak langit-langit. Tempat tidur saya sangat dekat dari pintu langit-langit karena tempat tidur saya berada di tingkat kedua. Begitu mudahnya saya membuka pintu plafon tapi tetap sangat pelan karena takut bisa menciptakan suara yang bisa membangunkan kedua saudara kandung saya.

“Yeah .. oh .. oh .. fuck me .. iya ..”, suaranya semakin jernih saat aku membuka pintu plafon dan suaranya seperti suara yang keluar dari TV.

Dugaan saya adalah suara itu berasal dari kamar Papa dan Mama karena hanya di ruangan itu ada televisi selain televisi di tengah rumah saya. Keingintahuan didorong oleh apa yang orang tua saya tonton, akhirnya saya putus asa untuk naik di atas langit-langit. Meski saya sudah tahu mereka sedang bermain film Blue atau BF, saya bisa mengonfirmasi dengan suara desahan yang keluar dari televisi di kamar mereka.

Ketika aku berada di atas, aku tidak bisa langsung menuju ke langit-langit kamar Papa dan Mama karena mataku harus beradaptasi dari terang ke gelap. Begitu saya bisa melihat saya merangkak menuju kamar orang tua saya dengan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan suara sama sekali apalagi suara yang bisa membangunkan seluruh rumah.

“Persetan ya .. oh .. iya iya ..”, suara dari televisi semakin jernih, nampaknya saya sudah diatas kamar orang tua saya.

“Tidakkah kamu dong Mam .. belanjakan film pertama”, suara Papaku dengan sedikit berbisik, tapi karena saat ini aku berada di atas kamar mereka jadi meski ibu saya berbisik, saya bisa mendengarnya dengan jelas bahkan suara nafas mereka kadang terdengar di telingaku dari di atas langit-langit.

“Shh .. oh .., ayo Pap ..”, sekarang suara mama saya yang terdengar oleh saya dengan nada manja dan setengah merengek seperti memohon sesuatu dari ayah saya.

“Sudah banjir ya Mam .., itu jemari Papa basah semua ya ..”, seru ayahku.

“He .. eh .. oh .. shh ..”, itu saja yang berasal dari mulut Mama menjawab pertanyaan Papaku tadi.

Birahku mulai bangkit dan membayangkan apa yang dimaksud dengan pembicaraan Papa dan ibuku ditambah desahan kecil yang keluar dari mulut Mama yang bercampur dengan desahan yang keluar dari film yang mereka tonton. Penis saya tegang tidak bisa ditangkap lagi oleh celana karet yang saya pakai sehingga celana membentuk bukit kecil dengan desakan penis saya dari dalam.

Karena saya tidak puas dengan hanya membayangkan, saya sangat ingin membuat celah kecil di atas langit-langit untuk bisa melihat ke dalam kamar Papa dan Mama saya. Dengan berbagai upaya dan sangat hati-hati akhirnya saya berhasil, sayangnya gap hanya fokus satu arah saja. Kebetulan saja itu hanya layar televisi dan akhir ranjang Papa dan Mama sehingga kedua ujung jari kaki bisa terlihat juga dari betis.

Saya juga melihat pemandangan dari film tersebut melalui celah yang saya buat sambil sesekali melihat juga kaki ayah saya dan ibu saya saling tumpang tindih. Napasku yang tidak teratur melihat pemandangan di layar televisi ditambah desahan dari ruangan, entah dari mulut orangtuaku atau dari pemeran yang sedang kami tonton.

Penisku semakin tegang, akhirnya tanganku menarik penisku keluar dari celana, sementara yang satunya membuka celah sehingga aku masih bisa melihat kejadian di sana. Kuelus-elus penisku dengan perlahan merasakan kenikmatan sambil terus nonton dan dengarkan pemandangan dari dalam ruangan Papa dan Mama ku.

“Sst .. ohh .. ah ..”, aku mendesis pelan sambil memejamkan mata membayangkan kalau aku juga di dalam ruangan menyaksikan Papa dan ibuku sedang bersenggama.

“Ouh .. ah .., hisap pap .., iya .. so, shh ..”, tiba-tiba suara mama saya terdengar sangat seru.

Saya juga segera mencoba untuk melihat apa yang mereka lakukan tapi hanya separuh dari punggung Papak saya yang bisa saya lihat dengan posisi setengah tertekuk. Dengan sedikit berkhayal aku bisa menebak Ayahku sedang menyedot payudara Mama ku.

“Oh .. ahh .., lidahmu berputar-putar di sana Pap, iya .. oh .. tetap .. ah .. enak”, terdengar desingan lebih nikmat dari mulut Mama saat aku terus berfantasi apa yang mereka lakukan gerakan karena aku tidak bisa melihat mereka berdua secara langsung dan utuh.

Kocok ayam saya yang tumbuh perlahan sekarang mendapatkan momentum untuk mendesah. Sekarang saya tidak lagi peduli dengan lubang kecil yang bisa dilihat di bawah sana karena perannya sekarang adalah khayalan saya dan desahan Mama yang semakin sering terdengar mengalahkan suara televisi mereka di ruangan bahkan perkiraan saya mereka belum pernah menonton lagi tapi sedang sibuk. untuk berlatih juga apa yang mereka tonton.

Tak lama kemudian suara televisi terdengar seolah melambat, dan aku membuka beberapa celah di hadapanku untuk melihat apa yang terjadi di lantai bawah. Ternyata mamaku yang hanya berpakaian sedang mematikan televisi. Tenggorokan saya menjadi kering saat melihat tubuh Mama putih saya dengan payudara dan puting susu yang indah yang mekar akibat permainan mulut Papaku. Tanganku segera berhenti mengguncang penisku tapi sebenarnya aku meremas penisku dengan erat menelan air liurku beberapa kali untuk melembabkan tenggorokanku yang kering.

Setelah menolak televisi, aku melihat ibuku kembali ke tempat tidurnya tapi berhenti di antara kedua kakinya. Sekarang hanya punggung Mama yang bisa kulihat dengan posisi setengah bengkok dan payudaranya sedikit bergoyang dan bergoyang kecil saat dilihat dari samping.

“Ah .. oh .. eh ..”, tiba-tiba ayahku mendesis dengan nikmat.

“Bagus ya Pap?”, Suara My Mama dengan nada meminta ayahku.

“Lezat .. oh .. Mam”, jawab ayahku.

“Ya .. oh .. sedot Mam, oh .. jadi .. ah ..”

Cerita Dewasa TerUpdate 2018 Celah Onani Terhebatku

Saya juga melepaskan pegangan untuk membuka celah dan tidak mempedulikannya. Karena sekarang saya kembali ke fantasi saya untuk membayangkan posisi yang dibuat oleh Papa dan Mama saya saat tangan saya dengan lembut merapikan penis saya dari kepala sampai ke dasar yang telah licin oleh air kesenangan saya yang menyenangkan.

“Hentikan Mam, aku bisa keluar sekarang”, terdengar suara Papua lagi.

“Memasuki sekarang ya Pap ..?”, Sekarang suara mama saya yang terdengar.

Bingung apa lagi yang akan mereka lakukan, saya membuka celah itu lagi dengan tangan saya yang satunya sementara tangan saya yang lain membelai penisku yang apik. Saya juga melihat kaki Papaku sudah di tengah kaki Mamaku terbuka lebar.

“Agh .. oh .. sstt .., Mam enak”, terdengar suara orang Papua.

“Pap bagus, oh .. goyang Pap, ah ..”, sekarang suara mama saya terdengar, jadi jaga agar suara mereka saling membalas jawab sambil terus bekerja keras untuk mendapatkan puncak kenikmatan.

Saya mendengar desahan keduanya semakin mengaktifkan tangan saya yang baru saja membelai penis saya sekarang kocok dengan perasaan sambil terus berkhayal tentang gerakan yang dilakukan oleh Papa dan Mama saya.

“Mam itu sangat licin, oh .. oh ..”, suara ayahku terdengar sangat bergairah.

“Mainkan dong pap, ayo .. oh .. ah ..”, dengar suara mama ku.

“Angkat dong dong Mam, shh .. aku mau main nich .. oh ..”, terus terdengar suara mereka untuk saling mendorong untuk meraih kemenangan.

Merasakan aktivitas seks mereka meningkat saat penisku menciumku dengan penuh gairah.

“Ah .. ah .. oh”, saya juga mendesis perlahan menikmati permainan solo saya.

“Auh .. iya ..”, saya terus mendesis gairah saya sendiri untuk air sperma yang sudah terkumpul di pangkal paha saya bisa saya lepaskan.

“Ya .. tekan Pap, Mama sudah merasakan ya .. oh .. ahh”, disertai erangan nyaring keluar dari mulutku aku juga sampai di puncak kesukaanku.

“Crot .. crot .. crot ..”, air kesukaanku melonjak hingga lima kali dan berserakan di langit-langit.

“Ah .. oh .. enak .. Mam ..”, tanpa sadar aku mengeluarkan kata-katanya karena sejak semula aku juga berfantasi ikut bermain dengan Mama.

Sambil duduk untuk memulihkan stamina saya yang terkuras setelah saya sendiri, saya terus mendengarkan suara dari dalam kamar Papa dan Mama saya. Dan segera aku mendengar suara erangan ayahku.

“Oh .. iya .. sedikit lebih Mam”

“Aduhh .. ah .. iya .. iya iya .. ohh ..”, suara orang Papua saya bercampur dengan pernapasannya naik turun seperti orang sudah mengangkat beban berat.

Setelah beberapa saat tidak ada suara, pintu kamar mandi Papa dan Mama dibuka, diikuti oleh suara air, saya bergerak sedikit lelah untuk turun dari langit-langit ke tempat tidur saya. Mungkin karena saya lelah setelah bermain solo diatas plafon tadi saya langsung tertidur saat kepala saya bersandar di tempat tidur saya dengan perasaan sangat puas.

Keesokan harinya sepulang sekolah, saya sengaja tidak keluar untuk memanfaatkan sore yang sepi. Sony dan Ron sedang bermain di rumah tetangga sementara orang tua saya belum pulang kerja di kantor. Saya juga naik kembali ke langit-langit untuk menerapkan desain yang saya buat tadi di sekolah membuat celah yang bisa melihat keseluruhan sudut ruangan di ruangan Papa dan Mama saya sehingga jika Papa dan Mama saya keluar maka saya bisa menonton. adegan mereka bebas dan aman

Setelah bekerja lebih dari setengah jam di atas langit-langit akhirnya saya berhasil membuat desain saya. Sekarang semua sudut di ruangan saya bisa memonitor dari langit-langit dan saya berencana untuk menguji celah untuk beberapa malam.

Setelah saya merasa siap dan selamat, semua yang akan saya turunkan dari langit-langit takut saudara-saudara saya pulang dari bermain dan orang tua saya juga segera kembali dari kantor masing-masing.

“Na .. na .. na ..”, terdengar suara seorang wanita sedang bernyanyi kecil saat posisi saya berada di dekat pintu langit-langit kamarku.

Saya langsung menemukan asal suara. Segera suara percikan air seperti orang mandi terdengar di antara suara kecil wanita bernyanyi. Saya mulai berpikir dan akhirnya saya menemukan jawaban bahwa suara itu adalah suara kakak perempuan saya yang bernama Erna.

Rumah kita yang berdekatan hanya dibatasi oleh dinding pemisah di sepanjang bodi rumah kita. Tapi kamar mandi hanya menempel di bagian belakang rumah saya sehingga ujung atap saya dipotong sedikit agar bisa terhubung ke atap kamar mandi mereka.

Ketakutan yang telah ada sekarang terbunuh oleh keingintahuan yang muncul untuk melihat sepupu saya di kamar mandi.

Tanpa menyia-nyiakan waktuku, aku merangkak ke kamar mandi. Dan sekarang saya sudah sampai di kamar mandi yang kebetulan sangat mendukung dan aman untuk menyaksikan tubuh cantik dan halus milik saudara sepupu saya. Tidak seperti di atas kamar orang tua saya harus dirancang secara khusus.

Sekarang tatapanku menatap penuh gairah ke tubuh Kak Erna yang menyabuni seluruh tubuhnya. Fantasi saya mulai bermain saat itu, jika saya adalah orang yang menyabuni tubuh mulus sepupu saya oh .. bagus sekali. Tangannya yang indah sekarang dengan lembut menggosok kedua payudaranya sebesar bola dan kadang-kadang memutar kedua putingnya yang mekar dengan percikan air yang dingin.

“Oh .. ah .. ah ..”, aku mulai mendesah merasakan gairahku mulai naik.

Ayam saya juga saya merasa mulai berjuang di celana saya. Setelah selesai menggosok payudaranya sekarang tangannya menggosok-gosok di sekitar tempat yang paling dicari oleh semua pria. Dengan lembut dia mengusap bulunya di sekitar vaginanya.

“Ah .. oh .. shh ..”, aku terus mendesis sambil menggoyangkan penisku yang kini telah kucabut dari celanaku.

Semakin lama kumisku semakin keras, air kenikmatanku mulai sangat ingin lepas dari pangkal pahaku. Pandangan saya juga terus mengarah ke Kak Erna sambil terus berkhayal, sekarang saya melihat Kak Erna berjongkok dan tangannya tergosok ke lubang vagina.

“Ya .. oh .. sedikit lebih Kak Eh .. iya .. oh ..”, sementara berfikir Kak Erna bersenggama dengan saya dengan gaya dia diatas atau gaya joki.

“Ah .. oh .. iya iya .. ayo ..”, aku berteriak sambil bergetar di penisku lebih cepat.

Air sperma saya sudah berada di ujung lubang penisku bersamaan dengan rasa panas dingin yang mulai saya rasakan di tubuh saya.

“Crot .. crot .. crot ..”, disiram air kesukaanku melompat keluar dari lubang penisku dan berserakan di atas langit-langit.

“Ah .. oh .. Kak Kak enak, shh .. ahh”, aku berteriak saat aku memperlambat tendangan penisku ereksi yang lebih lemah setelah aku mendapatkan kesenanganku.

Aku melihat ke bawah Kak Erna sedang mengenakan handuk dan hendak keluar dari kamar mandi. Saya juga bergegas turun dari langit-langit, untungnya kedua saudara perempuan saya belum kembali bermain sehingga saya bisa turun dengan selamat. Setelah saya berada di tempat tidur saya mulai berpikir ada orang lain yang bisa menjadi media masturbasi saya selain Papa dan Mama saya.

Sejak itu saya semakin sering pergi ke puncak langit-langit untuk melampiaskan persalinan saya di malam hari untuk menyaksikan Papa dan Mama saya menjadi tontonan porno saya secara langsung. Bahkan bibi bibi saya pernah masturbasi media saya.

*****

Memang pada saat itu saya telah menjadi anak yang sangat gila dengan masalah seks. Cerita saya belum berhenti disini karena masih banyak cerita lainnya. Cerita ini baru berumur empat belas tahun seperti yang saya sebutkan di atas. Dan sekarang usiaku sudah mencapai tiga puluh tahun masih banyak yang bisa diceritakan. Saya ingin mengucapkan banyak terima kasih selama 17 tahun karena walaupun saya berusia tiga puluhan saya masih bisa merasa seperti ABG berusia 17 tahun. Seseorang mungkin ingin bertukar pendapat atau berdiskusi tentang seks bisa menghubungi saya di email saya. – Situs seks seks online paling komprehensif, novel seks yang diperbarui, novel seks dewasa, novel terbaru dari novel, novel cerita panas, novel bokep, novel novel porno, novel abg ml, novel tante cheat, novel jangkung hypersex, perawan baru seperti telanjang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *