Cerita Panas 2016 Wanita Bercucuran Keringat

Blog Sex Online Cerita Panas 2016 Wanita Bercucuran Keringat – Cerita ngentot terhot, Sebelumnya kisah sex yang pernah saya publish Cerita Sex Terbaik Kepuasan di Dalam PerselingkuhanCerita sex terbaru, cerita seks bergambar, cerita dewasa terupdate, cerita mesum terbaik, cerita ngentot terpopuler, cerita bokep terselubung, cerita xxx, cerita ml abg perawan, cerita porno janda binal | Jakarta yang panas membuatku kegerahan di atas angkot. Kantorku tidak lama lagi kelihatan di kelokan depan, kurang lebih 100 meter lagi. Tetapi aku masih betah di atas mobil ini. Angin menerobos dari jendela. Masih ada waktu bebas dua jam. Kerjaan hari ini sudah kugarap semalam. Daripada suntuk diam di rumah, tadi malam aku menyelesaikan kerjaan yang masih menumpuk. Kerjaan yang menumpuk sama merangsangnya dengan seorang wanita dewasa yang keringatan di lehernya, yang aroma tubuhnya tercium. Aroma asli seorang wanita. Baunya memang agak lain, tetapi mampu membuat seorang bujang menerawang hingga jauh ke alam yang belum pernah ia rasakan.

cerita ngentot, cerita ngentot 2016, cerita ngentot terbaru, cerita ngentot wanita karir, cerita ngentot terhot, cerita ngentot bergambar sex, cerita ngentot bugil, cerita sex haus sex, cerita sex aktif sex, cerita hobi sex, cerita orisex, cerita sexcrit, cerita ngentot terpanas, cerita ngentot ternikmat, cerita ngentot wanita setengah baya, cerita ngentot abg, cerita ngentot remaja, cerita ngentot cewek cantik, cerita ngentot bondage, cerita ngentot tante, cerita ngentot janda, cerita ngentot lonte, cerita ngentot biduan, cerita ngentot pemandu lagu, cerita ngentot janda bispak, cerita ngentot tante girang, cerita ngentot tante gatal, cerita ngentot pemerkosaan, cerita ngentot sedarah, cerita ngentot perawan, cerita ngentot gay, cerita ngentot onani, cerita ngentot lesbi, cerita ngentot masturbasi.
Ilustrasi Foto Bugil Wanita Karir Terseksi

“Dik.., jangan dibuka lebar. Saya bisa masuk angin.” kata seorang wanita setengah baya di depanku pelan.

Aku tersentak. Masih melongo.

“Itu jendelanya dirapetin dikit..,” katanya lagi.

“Ini..?” kataku.

“Ya itu.”

Ya ampun, aku membayangkan suara itu berbisik di telingaku di atas ranjang yang putih. Keringatnya meleleh seperti yang kulihat sekarang. Napasnya tersengal. Seperti kulihat ketika ia baru naik tadi, setelah mengejar angkot ini sekadar untuk dapat secuil tempat duduk.

“Terima kasih,” ujarnya ringan.

Aku sebetulnya ingin ada sesuatu yang bisa diomongkan lagi, sehingga tidak perlu curi-curi pandang melirik lehernya, dadanya yang terbuka cukup lebar sehingga terlihat garis bukitnya.

“Saya juga tidak suka angin kencang-kencang. Tapi saya gerah.” meloncat begitu saja kata-kata itu.

Aku belum pernah berani bicara begini, di angkot dengan seorang wanita, separuh baya lagi. Kalau kini aku berani pasti karena dadanya terbuka, pasti karena peluhnya yang membasahi leher, pasti karena aku terlalu terbuai lamunan. Ia malah melengos. Sial. Lalu asyik membuka tabloid. Sial. Aku tidak dapat lagi memandanginya.

Kantorku sudah terlewat. Aku masih di atas angkot. Perempuan paruh baya itu pun masih duduk di depanku. Masih menutupi diri dengan tabloid. Tidak lama wanita itu mengetuk langit-langit mobil. Sopir menepikan kendaraan persis di depan sebuah salon. Aku perhatikan ia sejak bangkit hingga turun. Mobil bergerak pelan, aku masih melihat ke arahnya, untuk memastikan ke mana arah wanita yang berkeringat di lehernya itu. Ia tersenyum. Menantang dengan mata genit sambil mendekati pintu salon. Ia kerja di sana? Atau mau gunting? Creambath? Atau apalah? Matanya dikerlingkan, bersamaan masuknya mobil lain di belakang angkot. Sial. Dadaku tiba-tiba berdegup-degup.

“Bang, Bang kiri Bang..!”

Semua penumpang menoleh ke arahku. Apakah suaraku mengganggu ketenangan mereka?

“Pelan-pelan suaranya kan bisa Dek,” sang supir menggerutu sambil memberikan kembalian.

Aku membalik arah lalu berjalan cepat, penuh semangat. Satu dua, satu dua. Yes.., akhirnya. Namun, tiba-tiba keberanianku hilang. Apa katanya nanti? Apa yang aku harus bilang, lho tadi kedip-kedipin mata, maksudnya apa? Mendadak jari tanganku dingin semua. Wajahku merah padam. Lho, salon kan tempat umum. Semua orang bebas masuk asal punya uang. Bodoh amat. Come on lets go! Langkahku semangat lagi. Pintu salon kubuka.

“Selamat siang Mas,” kata seorang penjaga salon, “Potong, creambath, facial atau massage (pijit)..?”

“Massage, boleh.” ujarku sekenanya.

Aku dibimbing ke sebuah ruangan. Ada sekat-sekat, tidak tertutup sepenuhnya. Tetapi sejak tadi aku tidak melihat wanita yang lehernya berkeringat yang tadi mengerlingkan mata ke arahku. Ke mana ia? Atau jangan-jangan ia tidak masuk ke salon ini, hanya pura-pura masuk. Ah. Shit! Aku tertipu. Tapi tidak apa-apa toh tipuan ini membimbingku ke ‘alam’ lain.

Dulu aku paling anti masuk salon. Kalau potong rambut ya masuk ke tukang pangkas di pasar. Ah.., wanita yang lehernya berkeringat itu begitu besar mengubah keberanianku.

“Buka bajunya, celananya juga,” ujar wanita tadi manja menggoda, “Nih pake celana ini..!”

Aku disodorkan celana pantai tapi lebih pendek lagi. Bahannya tipis, tapi baunya harum. Garis setrikaannya masih terlihat. Aku menurut saja. Membuka celanaku dan bajuku lalu gantung di kapstok. Ada dipan kecil panjangnya dua meter, lebarnya hanya muat tubuhku dan lebih sedikit. Wanita muda itu sudah keluar sejak melempar celana pijit. Aku tiduran sambil baca majalah yang tergeletak di rak samping tempat tidur kecil itu. Sekenanya saja kubuka halaman majalah.

“Tunggu ya..!” ujar wanita tadi dari jauh, lalu pergi ke balik ruangan ke meja depan ketika ia menerima kedatanganku.

“Mbak Wien.., udah ada pasien tuh,” ujarnya dari ruang sebelah. Aku jelas mendengarnya dari sini.

Kembali ruangan sepi. Hanya suara kebetan majalah yang kubuka cepat yang terdengar selebihnya musik lembut yang mengalun dari speaker yang ditanam di langit-langit ruangan.

Langkah sepatu hak tinggi terdengar, pletak-pletok-pletok. Makin lama makin jelas. Dadaku mulai berdegup lagi. Wajahku mulai panas. Jari tangan mulai dingin. Aku makin membenamkan wajah di atas tulisan majalah.

“Halo..!” suara itu mengagetkanku. Hah..? Suara itu lagi. Suara yang kukenal, itu kan suara yang meminta aku menutup kaca angkot. Dadaku berguncang. Haruskah kujawab sapaan itu? Oh.., aku hanya dapat menunduk, melihat kakinya yang bergerak ke sana ke mari di ruangan sempit itu. Betisnya mulus ditumbuhi bulu-bulu halus. Aku masih ingat sepatunya tadi di angkot. Hitam. Aku tidak ingat motifnya, hanya ingat warnanya.

“Mau dipijat atau mau baca,” ujarnya ramah mengambil majalah dari hadapanku, “Ayo tengkurep..!”

Tangannya mulai mengoleskan cream ke atas punggungku. Aku tersetrum. Tangannya halus. Dingin. Aku kegelian menikmati tangannya yang menari di atas kulit punggung. Lalu pijitan turun ke bawah. Ia menurunkan sedikit tali kolor sehingga pinggulku tersentuh. Ia menekan-nekan agak kuat. Aku meringis menahan sensasasi yang waow..! Kini ia pindah ke paha, agak berani ia masuk sedikit ke selangkangan. Aku meringis merasai sentuhan kulit jarinya. Tapi belum begitu lama ia pindah ke betis.

“Balik badannya..!” pintanya.

Aku membalikkan badanku. Lalu ia mengolesi dadaku dengan cream. Pijitan turun ke perut. Aku tidak berani menatap wajahnya. Aku memandang ke arah lain mengindari adu tatap. Ia tidak bercerita apa-apa. Aku pun segan memulai cerita. Dipijat seperti ini lebih nikmat diam meresapi remasan, sentuhan kulitnya. Bagiku itu sudah jauh lebih nikmat daripada bercerita. Dari perut turun ke paha. Ah.., selangkanganku disentuh lagi, diremas, lalu ia menjamah betisku, dan selesai.

Ia berlalu ke ruangan sebelah setelah membereskan cream. Aku hanya ditinggali handuk kecil hangat. Kuusap sisa cream. Dan kubuka celana pantai. Astaga. Ada cairan putih di celana dalamku.

Di kantor, aku masih terbayang-bayang wanita yang di lehernya ada keringat. Masih terasa tangannya di punggung, dada, perut, paha. Aku tidak tahan. Esoknya, dari rumah kuitung-itung waktu. Agar kejadian kemarin terulang. Jam berapa aku berangkat. Jam berapa harus sampai di Ciledug, jam berapa harus naik angkot yang penuh gelora itu. Ah sial. Aku terlambat setengah jam. Padahal, wajah wanita setengah baya yang di lehernya ada keringat sudah terbayang. Ini gara-gara ibuku menyuruh pergi ke rumah Tante Wanti. Bayar arisan. Tidak apalah hari ini tidak ketemu. Toh masih ada hari esok.

Aku bergegas naik angkot yang melintas. Toh, si setengah baya itu pasti sudah lebih dulu tiba di salonnya. Aku duduk di belakang, tempat favorit. Jendela kubuka. Mobil melaju. Angin menerobos kencang hingga seseorang yang membaca tabloid menutupi wajahnya terganggu.

“Mas Tut..” hah..? suara itu lagi, suara wanita setengah baya yang kali ini karena mendung tidak lagi ada keringat di lehernya. Ia tidak melanjutkan kalimatnya.

Aku tersenyum. Ia tidak membalas tapi lebih ramah. Tidak pasang wajah perangnya.

“Kayak kemarinlah..,” ujarnya sambil mengangkat tabloid menutupi wajahnya.

Begitu kebetulankah ini? Keberuntungankah? Atau kesialan, karena ia masih mengangkat tabloid menutupi wajah? Aku kira aku sudah terlambat untuk bisa satu angkot dengannya. Atau jangan-jangan ia juga disuruh ibunya bayar arisan. Aku menyesal mengutuk ibu ketika pergi. Paling tidak ada untungnya juga ibu menyuruh bayar arisan.

“Mbak Wien..,” gumamku dalam hati.

Perlu tidak ya kutegur? Lalu ngomong apa? Lha wong Mbak Wien menutupi wajahnya begitu. Itu artinya ia tidak mau diganggu. Mbak Wien sudah turun. Aku masih termangu. Turun tidak, turun tidak, aku hitung kancing. Dari atas: Turun. Ke bawah: Tidak. Ke bawah lagi: Turun. Ke bawah lagi: Tidak. Ke bawah lagi: Turun. Ke bawah lagi: Tidak. Ke bawah lagi: Hah habis kancingku habis. Mengapa kancing baju cuma tujuh?

Hah, aku ada ide: toh masih ada kancing di bagian lengan, kalau belum cukup kancing Bapak-bapak di sebelahku juga bisa. Begini saja daripada repot-repot. Anggap saja tiap-tiap baju sama dengan jumlah kancing bajuku: Tujuh. Sekarang hitung penumpang angkot dan supir. Penumpang lima lalu supir, jadi enam kali tujuh, 42 hore aku turun. Tapi eh.., seorang penumpang pakai kaos oblong, mati aku. Ah masa bodo. Pokoknya turun.

“Kiri Bang..!”

Aku lalu menuju salon. Alamak.., jauhnya. Aku lupa kelamaan menghitung kancing. Ya tidak apa-apa, hitung-hitung olahraga. Hap. Hap.

“Mau pijit lagi..?” ujar suara wanita muda yang kemarin menuntunku menuju ruang pijat.

“Ya.”

Lalu aku menuju ruang yang kemarin. Sekarang sudah lebih lancar. Aku tahu di mana ruangannya. Tidak perlu diantar. Wanita muda itu mengikuti di belakang. Kemudian menyerahkan celana pantai.

“Mbak Wien, pasien menunggu,” katanya.

Majalah lagi, ah tidak aku harus bicara padanya. Bicara apa? Ah apa saja. Masak tidak ada yang bisa dibicarakan. Suara pletak-pletok mendekat.

“Ayo tengkurap..!” kata wanita setengah baya itu.

Aku tengkurap. Ia memulai pijitan. Kali ini lebih bertenaga dan aku memang benar-benar pegal, sehingga terbuai pijitannya.

“Telentang..!” katanya.

Kuputuskan untuk berani menatap wajahnya. Paling tidak aku dapat melihat leher yang basah keringat karena kepayahan memijat. Ia cukup lama bermain-main di perut. Sesekali tangannya nakal menelusup ke bagian tepi celana dalam. Tapi belum tersentuh kepala juniorku. Sekali. Kedua kali ia memasukkan jari tangannya. Ia menyenggol kepala juniorku. Ia masih dingin tanpa ekspresi. Lalu pindah ke pangkal paha. Ah mengapa begitu cepat.

Jarinya mengelus tiap mili pahaku. Si Junior sudah mengeras. Betul-betul keras. Aku masih penasaran, ia seperti tanpa ekspresi. Tetapi eh.., diam-diam ia mencuri pandang ke arah juniorku. Lama sekali ia memijati pangkal pahaku. Seakan sengaja memainkan Si Junior. Ketika Si Junior melemah ia seperti tahu bagaimana menghidupkannya, memijat tepat di bagian pangkal paha. Lalu ia memijat lutut. Si Junior melemah. Lalu ia kembali memijat pangkal pahaku. Ah sialan. Aku dipermainkan seperti anak bayi.

Selesai dipijat ia tidak meninggalkan aku. Tapi mengelap dengan handuk hangat sisa-sisa cream pijit yang masih menempel di tubuhku. Aku duduk di tepi dipan. Ia membersihkan punggungku dengan handuk hangat. Ketika menjangkau pantatku ia agak mendekat. Bau tubuhnya tercium. Bau tubuh wanita setengah baya yang yang meleleh oleh keringat. Aku pertegas bahwa aku mengendus kuat-kuat aroma itu. Ia tersenyum ramah. Eh bisa juga wanita setengah baya ini ramah kepadaku.

Lalu ia membersihkan pahaku sebelah kiri, ke pangkal paha. Junior berdenyut-denyut. Sengaja kuperlihatkan agar ia dapat melihatnya. Di balik kain tipis, celana pantai ini ia sebetulnya bisa melihat arah turun naik Si Junior. Kini pindah ke paha sebelah kanan. Ia tepat berada di tengah-tengah. Aku tidak menjepit tubuhnya. Tapi kakiku saja yang seperti memagari tubuhnya. Aku membayangkan dapat menjepitnya di sini. Tetapi, bayangan itu terganggu. Terganggu wanita muda yang di ruang sebelah yang kadang-kadang tanpa tujuan jelas bolak-balik ke ruang pijat.

Dari jarak yang begitu dekat ini, aku jelas melihat wajahnya. Tidak terlalu ayu. Hidungnya tidak mancung tetapi juga tidak pesek. Bibirnya sedang tidak terlalu sensual. Nafasnya tercium hidungku. Ah segar. Payudara itu dari jarak yang cukup dekat jelas membayang. Cukuplah kalau tanganku menyergapnya. Ia terus mengelap pahaku. Dari jarak yang dekat ini hawa panas tubuhnya terasa. Tapi ia dingin sekali. Membuatku tidak berani. Ciut. Si Junior tiba-tiba juga ikut-ikutan ciut. Tetapi, aku harus berani. Toh ia sudah seperti pasrah berada di dekapan kakiku.

Aku harus, harus, harus..! Apakah perlu menhitung kancing. Aku tidak berpakaian kini. Lagi pula percuma, tadi saja di angkot aku kalah lawan kancing. Aku harus memulai. Lihatlah, masak ia begitu berani tadi menyentuh kepala Junior saat memijat perut. Ah, kini ia malah berlutut seperti menunggu satu kata saja dariku. Ia berlutut mengelap paha bagian belakang. Kaki kusandarkan di tembok yang membuat ia bebas berlama-lama membersihkan bagian belakang pahaku. Mulutnya persis di depan Junior hanya beberapa jari. Inilah kesempatan itu. Kesempatan tidak akan datang dua kali. Ayo. Tunggu apa lagi. Ayo cepat ia hampir selesai membersihkan belakang paha. Ayo..!

Aku masih diam saja. Sampai ia selesai mengelap bagian belakang pahaku dan berdiri. Ah bodoh. Benarkan kesempatan itu lewat. Ia sudah membereskan peralatan pijat. Tapi sebelum berlalu masih sempat melihatku sekilas. Betulkan, ia tidak akan datang begitu saja. Badannya berbalik lalu melangkah. Pletak, pletok, sepatunya berbunyi memecah sunyi. Makin lama suara sepatu itu seperti mengutukku bukan berbunyi pletak pelok lagi, tapi bodoh, bodoh, bodoh sampai suara itu hilang.

Aku hanya mendengus. Membuang napas. Sudahlah. Masih ada esok. Tetapi tidak lama, suara pletak-pletok terdengar semakin nyaring. Dari iramanya bukan sedang berjalan. Tetapi berlari. Bodoh, bodoh, bodoh. Eh.., kesempatan, kesempatan, kesempatan. Aku masih mematung. Duduk di tepi dipan. Kaki disandarkan di dinding. Ia tersenyum melihatku.

“Maaf Mas, sapu tangan saya ketinggalan,” katanya.

Ia mencari-cari. Di mana? Aku masih mematung. Kulihat di bawahku ada kain, ya seperti saputangan.

“Itu kali Mbak,” kataku datar dan tanpa tekanan.

Ia berjongkok persis di depanku, seperti ketika ia membersihkan paha bagian bawah. Ini kesempatan kedua. Tidak akan hadir kesempatan ketiga. Lihatlah ia tadi begitu teliti membenahi semua perlatannya. Apalagi yang dapat tertinggal? Mungkin sapu tangan ini saja suatu kealpaan. Ya, seseorang toh dapat saja lupa pada sesuatu, juga pada sapu tangan. Karena itulah, tidak akan hadir kesempatan ketiga. Ayo..!

“Mbak.., pahaku masih sakit nih..!” kataku memelas, ya sebagai alasan juga mengapa aku masih bertahan duduk di tepi dipan.

Ia berjongkok mengambil sapu tangan. Lalu memegang pahaku, “Yang mana..?”

Yes..! Aku berhasil. “Ini..,” kutunjuk pangkal pahaku.

“Besok saja Sayang..!” ujarnya.

Ia hanya mengelus tanpa tenaga. Tapi ia masih berjongkok di bawahku.

“Yang ini atau yang itu..?” katanya menggoda, menunjuk Juniorku.

Darahku mendesir. Juniorku tegang seperti mainan anak-anak yang dituip melembung. Keras sekali.

“Jangan cuma ditunjuk dong, dipegang boleh.”

Ia berdiri. Lalu menyentuh Junior dengan sisi luar jari tangannya. Yes. Aku bisa dapatkan ia, wanita setengah baya yang meleleh keringatnya di angkot karena kepanasan. Ia menyentuhnya. Kali ini dengan telapak tangan. Tapi masih terhalang kain celana. Hangatnya, biar begitu, tetap terasa. Aku menggelepar.

“Sst..! Jangan di sini..!” katanya.

Kini ia tidak malu-malu lagi menyelinapkan jemarinya ke dalam celana dalamku. Lalu dikocok-kocok sebentar. Aku memegang teteknya. Bibirku melumat bibirnya.

“Jangan di sini Sayang..!” katanya manja lalu melepaskan sergapanku.

“Masih sepi ini..!” kataku makin berani.

Kemudian aku merangkulnya lagi, menyiuminya lagi. Ia menikmati, tangannya mengocok Junior.

“Besar ya..?” ujarnya.

Aku makin bersemangat, makin membara, makin terbakar. Wanita setengah baya itu merenggangkan bibirnya, ia terengah-engah, ia menikmati dengan mata terpejam.

“Mbak Wien telepon..,” suara wanita muda dari ruang sebelah menyalak, seperti bel dalam pertarungan tinju.

Mbak Wien merapihkan pakaiannya lalu pergi menjawab telepon.

“Ngapaian sih di situ..?” katanya lagi seperti iri pada Wien.

Aku mengambil pakaianku. Baru saja aku memasang ikat pinggang, Wien menghampiriku sambil berkata, “Telepon aku ya..!”

Ia menyerahkan nomor telepon di atas kertas putih yang disobek sekenanya. Pasti terburu-buru. Aku langsung memasukkan ke saku baju tanpa mencermati nomor-nomornya. Nampak ada perubahan besar pada Wien. Ia tidak lagi dingin dan ketus. Kalau saja, tidak keburu wanita yang menjaga telepon datang, ia sudah melumat Si Junior. Lihat saja ia sudah separuh berlutut mengarah pada Junior. Untung ada tissue yang tercecer, sehingga ada alasan buat Wien.

Ia mengambil tissue itu, sambil mendengar kabar gembira dari wanita yang menunggu telepon. Ia hanya menampakkan diri separuh badan.

“Mbak Wien.., aku mau makan dulu. Jagain sebentar ya..!”

Ya itulah kabar gembira, karena Wien lalu mengangguk.

Setelah mengunci salon, Wien kembali ke tempatku. Hari itu memang masih pagi, baru pukul 11.00 siang, belum ada yang datang, baru aku saja. Aku menanti dengan debaran jantung yang membuncah-buncah. Wien datang. Kami seperti tidak ingin membuang waktu, melepas pakaian masing-masing lalu memulai pergumulan.

Wien menjilatiku dari ujung rambut sampai ujung kaki. Aku menikmati kelincahan lidah wanita setengah baya yang tahu di mana titik-titik yang harus dituju. Aku terpejam menahan air mani yang sudah di ujung. Bergantian Wien kini telentang.

“Pijit saya Mas..!” katanya melenguh.

Kujilati payudaranya, ia melenguh. Lalu vaginanya, basah sekali. Ia membuncah ketika aku melumat klitorisnya. Lalu mengangkang.

“Aku sudah tak tahan, ayo dong..!” ujarnya merajuk.

Saat kusorongkan Junior menuju vaginanya, ia melenguh lagi.

“Ah.. Sudah tiga tahun, benda ini tak kurasakan Sayang. Aku hanya main dengan tangan. Kadang-kadang ketimun. Jangan dimasukkan dulu Sayang, aku belum siap. Ya sekarang..!” pintanya penuh manja.

Tetapi mendadak bunyi telepon di ruang depan berdering. Kring..! Aku mengurungkan niatku. Kring..!

“Mbak Wien, telepon.” kataku.

Ia berjalan menuju ruang telepon di sebelah. Aku mengikutinya. Sambil menjawab telepon di kursi ia menunggingkan pantatnya.

Bacaan sex top: Cerita Sex Terhot 2016 Istri Teman Akrabku

“Ya sekarang Sayang..!” katanya.

“Halo..?” katanya sedikit terengah.

“Oh ya. Ya nggak apa-apa,” katanya menjawab telepon.

“Siapa Mbak..?” kataku sambil menancapkan Junior amblas seluruhnya.

“Si Nina, yang tadi. Dia mau pulang dulu ngeliat orang tuanya sakit katanya sih begitu,” kata Wien.

Setelah beberapa lama menyodoknya, “Terus dong Yang. Auhh aku mau keluar ah.., Yang tolloong..!” dia mendesah keras.

Lalu ia bangkit dan pergi secepatnya.

“Yang.., cepat-cepat berkemas. Sebantar lagi Mbak Mona yang punya salon ini datang, biasanya jam segini dia datang.”

Aku langsung beres-beres dan pulang. – Situs dewasa sex online terlengkap, novel sex terupdate, novel sex dewasa, novel xxx terbaru, novel cerita hot, novel cerita bokep, novel cerita porno, novel mesum, novel abg ml, novel tante selingkuh, novel janda hypersex, novel sex terpanas, novel perawan suka bugil.

Cerita Sex / Cerita Dewasa / Cerita Mesum / Cerita Panas / Cerita Porno / Cerita Bokep / Cerita Sex Tante / Cerita Sex ABG / Cerita Sex Janda / Cerita Sex Perawan / Cerita HOT / Kisah Sex / Sex Bergambar / Foto Seks

Novel Cerita Dewasa Terbaru Making Love Sama Teman Kantorku

Cerita Bokep Mesum, Cerita Dewasa Bergambar, Cerita Dewasa Sex Terbaru, Cerita Dewasa Terbaru, Cerita Mesum Bergambar, Cerita Mesum Terbaru, Cerita Ngentot, Cerita Ngentot Hot, Cerita Ngewe Panas, Cerita Pemerkosaan Perawan, Cerita Seks Bergambar, Cerita Seks Terbaru, Cerita Sex Tante, Cerita XXX Terbaru, Kumpulan Cerita Seks Terbaru 2018, Situs Cerita Sex Terbaik Saat ini saya sedang mengerjakan parfum distributor di Bogor, dengan posisi sebagai marketing, tapi saya biasa ikut dalam perusahaan, karena saya tidak dalam kondisi finansial jadi saya hanya Sumber Daya Manusia, pendapat saya dengan teman lain bukan sama, jangan lupa ada lima orang yang membentuk perusahaan ini sebut saja CV. JAYA.

Novel Cerita Dewasa Terbaru Making Love Sama Teman Kantorku

Pemegang saham di perusahaan ini adalah Bapak Hendra, yang berperan sebagai perusahaan, dari semua Hendra yang tertua, dia lulus dari bidang Ekonomi, kami memanggilnya Babeh. Karena dia adalah keturunan Sunda dan Betawi.

Dalam 3 tahun terakhir, teman-teman saya dan saya telah berusaha mengembangkan sumber daya manusia, masing-masing dari kita sangat antusias untuk melakukan pengembangan di mana kita bersaing untuk mendapatkan sebanyak mungkin orang, sehingga perusahaan ini dapat tumbuh dan menjadi solid untuk masa depan, Dalam 3 bulan yang semula berjumlah 4 orang sekarang telah menjadi lebih kurang dari 50 orang, saat itu tim saya menjadi tim yang hebat dan solid. Kisah Tembak Mighty

Semua itu tak lepas dari kerja keras saya untuk mengembangkannya, mendidik mereka dan memotivasi mereka. Mereka memang tim yang kuat dan bermotivasi tinggi. Mereka semua benar-benar menghormati saya. Itu semua karena saya hampir sempurna dalam hal pembinaan dan pendekatan. Saya selalu berurusan dengan mereka dengan sabar, meskipun sifat mereka tidak sama. Saya menerapkan pendekatan yang berbeda dari satu ke yang lain. Saya selalu memuji orang-orang yang unggul, dan membangun semangat bagi mereka yang sedang down.

Saya selalu menghabiskan sekitar dua sampai lima menit pada setiap individu untuk membicarakan keluhan mereka, hambatan di lapangan, dan rencana mereka ke depan, jadi mereka merasa benar-benar bagian penting dari tim. Paling tidak saya menyambut mereka sebentar dengan mengucapkan selamat tinggal, memuji penampilan mereka, atau hanya mengatakan, “Dasi Anda bagus?

Saya juga sangat antusias dengan mereka, karena kebanyakan dari mereka adalah anak perempuan. Dan bukan rahasia lagi kalau gadis Sunda terkenal dengan postur tubuhnya yang tak terkalahkan. Mereka rata-rata bertubuh segar dengan dada dan menantang. Kulit mereka juga sangat bersih. Itu adalah keuntungan tersendiri bagi saya karena pastinya suatu hari mereka (bahkan segalanya) dapat saya berkencan satu per satu.

Dengan langkah demi langkah pendekatan salah satunya, Febi, saya bisa menikmati tubuhnya. Cerita ini dimulai ketika suatu hari saya tidak terjun ke lapangan karena tubuh saya terasa tidak enak. Tapi karena saya harus memotivasi mereka, pagi saya sempatkan untuk pergi ke kantor. Dan begitu mereka pergi ke lapangan saya pulang ke rumah kos untuk beristirahat.

Tapi pagi hari di kantor, Febi curiga dengan kesehatan saya dan bertanya, “Mas kenapa, sakit ya?

? Ya, Feb. Saya tidak enak badan. Saya tidak berpikir saya pergi hari ini?
? Ya udah, entar keluar pertemuan Mas pulang aja. Mas sudah makan ?? Febi bertanya serius. Dia adalah orang yang sangat perhatian.
? Tidak apa-apa, tapi sedikit. Tidak ada rasa? Febi dengan lembut menyambungkan dahiku. Tangannya lembut dan harum. Jika saya meraba-raba sebentar, saya bisa sembuh, pikir saya.

Pukul sembilan pagi semua karyawan sudah menyebar ke lapangan. Sementara saya masuk dan beristirahat di ruang konferensi. Babe masuk dan bertanya, “Kenapa Yan, sakit ??
? Ya, jadilah Jawabku sebentar.
? Ya udah, hanya berbaring saja disana? Kata Babe dengan ramah.
? Bukan ah, ayo Saya ingin pulang ke rumah. Ntar sore kembali lagi?
? Terserah kamu?

Aku bergegas pulang ke asrama. Motel saya hanya tiga ratus meter dari kantor saya. Semua biaya asrama saya ditanggung oleh Babe. Ruangnya nyaman, besar dan bersih. Penjaga bernama Mr Min juga ramah. Menurut Pak Min sebenarnya ruangan itu istimewa untuk para tamu dan tidak disewa, tapi entah bagaimana saya diijinkan untuk menyewa kamar. Di dalam ruangan ada lukisan panorama indah yang indah dan indah.

Asli dan tidak reproduksi. Pak Min mengatakan posisi ruangan bisa berubah sesuka hati. Jangan heran bila ada sensasi baru setelah itu. Apalagi dengan lukisannya. Tapi saya pikir itu hanya lelucon Mr. Min dan saya tidak menganggapnya serius.

Sebenarnya di kost ini tidak diperbolehkan membawa teman lawan jenis ke ruangan, tapi sepertinya Pak Min, penjaga tahu apa kebutuhan asrama, jadi aturannya diabaikan. Jadi ruangan disebelah saya sering digunakan pesta seks oleh penghuninya. Saya pernah bergabung sekali. 2016 Complete Adult Story

Sesampainya di depan ruang kos aku kaget karena Febi sudah di depan kamarku sedang membaca majalah kesayangannya.

? Lho Feb, kenapa kamu di sini? Apa yang sedang kamu lakukan?? Tanyaku sebentar.
? Lagi nungguin Mas Iyan. Kenapa tidak? Febi bertanya manja.
“Ya, saya bisa, tapi kenapa Anda tidak bicara dulu?
? Mau memberi kejutan, biar Mas Iyan sembuh?
? Ah, bisakah kamu aja, Kataku sambil mencubit dagunya yang mungil.

Novel Cerita Dewasa Terbaru Making Love Sama Teman Kantorku

Saat membuka pintu aku mengajak Febi masuk. Tanpa canggung Febi masuk ke kamarku dan melihat sekeliling,? Posisi kok kamarnya tidak berubah pula Mas. Emang gak bosan gini-gini aja. Ubah dong biarkan ada perubahan. Mari kita selalu baru, jadi Mas tidak sakit-sakitan?

? Nah, itu sakit karena sakit. Bukan karena kamarnya. Omong-omong, maaf lho kamarku berantakan?

? Ah guy mah, biasa ,? Kata Febi dengan sedikit aksara Sunda. Setelah itu tangan kecil Febi mengambil benda-benda yang berantakan dan mengaturnya dengan rapi di tempat masing-masing. Sementara saya pergi ke kamar mandi untuk ganti baju.

Begitu masuk kamar, kamar saya kembali bersih dan rapi dengan tangan Febi. Aku melihat Febi sedang sibuk meninju-menekan tombol remote untuk mencari acara tv. Hari itu Febi mengenakan gaun putih tipis dengan celana panjang hitam. Sangat profesional melihatnya dengan pakaian. Juga seksi. Sementara berbohong Febi terlihat sangat menggoda. Payudaranya terlihat sangat halus dengan bra yang tidak seukuran. Terlihat sekali bra tak mampu memuat isi dada Febi.

Aku menelan ludah. Tiba-tiba suhu tubuhku naik. Saya tahu ini bukan karena saya sakit, tapi lebih karena libidoku Anda harus menyala. Yang kecil juga terbangun juga. Kotoran. Aku menggerutu karena saat si kecil terbangun dengan posisi yang salah. Menghadap ke bawah. Sehingga bulu yang semula menempel sangat tertarik dan menimbulkan rasa sakit. Aku meraih ke dalamnya dan meletakkannya dengan benar. Tentu ini bukan sebagai pengetahuan Febi. Saya pemalu.

? Mas punya CD lagu yang bagus, nope ?? Febi mengejutkanku
Temukan di sana, pilih sendiri. Ada sebuah lagu, ada sebuah film. Eh, kemarin saya sewa film bagus tapi belum sempat nonton. Tuh, pembungkus sewa?
Film apa ini ??
? Aksi, tapi dia bilang sih, ada yang membuat cintanya?
Oh. Coba ah, penasaran?

Sementara Febi memasukkan sepotong VCD, saya melihat pinggangnya yang sedikit terbuka saat dia sedikit menungging. Putih, mulus. Saya sangat teringat akan dewi vokalis Itenas VCD. Sementara aku duduk mengambil posisi bersandar di dinding dekat kursi Febi tadi. Kuharap setelah aku selesai memasukkan VCD, Febi kembali ke tempat dudukku, jadi aku berada tepat di sampingnya. Dan benar, sekarang Febi ada disampingku dengan posisi bersilang, sementara kakiku aku selonjorkan. Kini kaki Febi yang terlipat kaki kiri menunggang kakiku.

Film dimulai Saya juga bersiap untuk memulai film live hot tanpa penonton dan kamera. Aku mulai memeluk Febi. Membelai rambut hitamnya, sesekali membahas cerita filmnya. Padahal sebenarnya saya tidak begitu peduli dengan alur cerita film. Aku hanya menjawab ya dan tidak atau tersenyum menanggapi Febi yang terlihat serius. Kemudian tubuh Febi mulai bersandar padaku.

Saya juga mudah mencium rambutnya, telinganya juga tengkuk. Sementara tangan saya yang pernah bermain di daerah atas, kini mulai mengalami penurunan. Menyentuh dada Febi, meremasnya sampai Febipun tidak lagi memperhatikan filmnya dan menikmati sentuhanku. Sekarang kita adalah aktor utama sebuah film panas. Apalagi saat arus film sampai pada kisah bercinta, sesekali kita melihatnya sebagai pemanas.

Wajah Febi yang semula dihadapi tivi kini mulai menengok ke arahku. Bibir kami bertengkar. Febi terlihat sangat antusias. Napasnya begitu harum. Aku yakin Febi mempersiapkan ini dengan makan permen wangi sebelumnya. Dia menjilati wajahku dengan liar. Sementara tangan saya sibuk gerilya mencoba melepas baju Febi. Tanganku di baju Febi berhasil membuka kait bra-nya.

Benjolan daging sekarang longgar tanpa pembungkus. Sementara bibirnya sibuk menjilati saya, tangannya mulai masuk ke baju saya. Saya juga menelanjanginya. Sekarang aku tidak berpakaian lagi. Bibir Febipun mulai menggeliat. Menjilati dadaku dan mengisap susu saya Tubuhku semakin panas. Libido saya naik. Leher, perut, telinga, dan dada saya menjadi sasaran bibir Febi. Saya menikmatinya sambil terus memainkan payudaranya yang lebih hangat.

Semakin banyak Febi semakin mengganas, melepas celana di luar dan dalam. Bibirnya yang kini tidak berlipstik itu terus menyentuh seluruh sektor tubuh saya. Lidahnya menjilat bulu pangkal paha saya. Juga buah zakarku. Aku kadang-kadang goyah untuk menahan jodohnya. Apalagi saat sepatuku masuk ke mulutnya. Ah, ini hangat.

Febi berubah posisi. Yang tepat di hadapanku, sekarang beralih disampingku, sambil tetap mengisap pangkal pahaku. Perubahan posisi bukan tanpa alasan. Rupanya Febi mengisap penisku dengan posisi dari samping sehingga lidahnya di permukaan penisku di bagian atas. Posisi ini sangat lezat. Ini adalah pertama kalinya merasakan isap dan menjilati sangat hebat. Luar biasa.

Sementara tanganku terus mengelus tubuh Febi. Payudaranya yang kenyal selalu menjadi favoritku. Juga pantat bulatnya mulus. Sangat menarik. Tapi saat jari-jari saya menuntun saya ke vagina, Febi menolak. Saya juga sesuai dengan itu. Saya tidak ingin memaksakan kehendak saya.

Sekitar sepuluh menit Febi bermain dengan posisi itu. Lalu penisku dilepaskan dari mulut. Lidahnya yang mengamuk menyebar ke seluruh bagian depan tubuhku. Atas, atas, dan atas. Sekarang bibir kita bentrok lagi. Terhot Hot Story Membuat Crot

Sekarang posisi yang tepat dari Febi yang menempati saya. Lalu perlahan Febi membimbing penisku masuk ke dalam vagina. Dan, berkat .. hangat, enak. Febi meringis rasanya. Saya tidak tahu apa yang dia rasakan. Setelah berkonsentrasi dengan penisku, kini Febi mulai memompa dengan posisi naik turun.

Aku masih dalam posisi duduk. Febi yang duduk di seberang saya naik turun sampai payudaranya bergoyang. Saya tertarik dengan payudara. Aku memegangnya, aku meremasnya, lalu aku menundukkan kepalaku sampai bibirku menyentuh payudara Febi. Dalam kesulitan karena posisi mengayunkan saya mengisap payudara Febi.

Febipun merengek tak benar.
? Ya Mas, terus Mas. Isap terus berlanjut, Mas?
? Augh, augh .. Mas aku keluar, augh, augh .. Ahh !!

Febi menegang. Wajahnya memerah. Lalu kami membalikkan badan kami. Untuk saat ini kami juga melepaskan furnitur yang menempel. Saya mulai bekerja. Kubimbing Febi berjongkok. Saya juga menyetubuhinya lagi dengan posisi dari belakang.

Bless .. Sialan saya kembali ke lubang vagina. Dengan posisi doggystyle saya, saya memompa pantat Febi berkali-kali sampai saya merasa ada dorongan yang sangat kuat, sampai frekuensi dorongan saya dipercepat. Aku mengoceh dengan kurang ajar. Febi tahu itu Sebelum sperma saya muncrat, biarkan pantatnya lepas landas. Sekiap Febi telah mengubah posisinya. Tangannya langsung menangkap pangkal pahaku.

Membantu mulutnya, mengguncang penisku sepanjang waktu dan ..
Augh ..? Sperma hangat menyembur ke mulut Febi. Tanpa ragu penisku. Itu tidak terlihat bagus. Spermetanun dikonsumsi oleh Febi. Lalu kami berdua jatuh tak berdaya. Aku mencium Febi penuh cinta dan dengan senyum puas.

Wajahnya yang berkeringat tetap manis dengan senyuman itu. Sementara layar TV saya belum menunjukkan tampilan VCD. Entah VCD atau saya menyelesaikannya dulu. – Situs seks seks online paling komprehensif, novel seks yang diperbarui, novel seks dewasa, novel terbaru dari novel, novel cerita panas, novel bokep, novel novel porno, novel abg ml, novel tante cheat, novel jangkung hypersex, perawan baru seperti telanjang.

Novel Cerita Hot Sex 2018 Tubuh Ibu Dosen Bahenol

Cerita Bokep Mesum, Cerita Dewasa Bergambar, Cerita Dewasa Sex Terbaru, Cerita Dewasa Terbaru, Cerita Mesum Bergambar, Cerita Mesum Terbaru, Cerita Ngentot, Cerita Ngentot Hot, Cerita Ngewe Panas, Cerita Pemerkosaan Perawan, Cerita Seks Bergambar, Cerita Seks Terbaru, Cerita Sex Tante, Cerita XXX Terbaru, Kumpulan Cerita Seks Terbaru 2018, Situs Cerita Sex Terbaik Ini terjadi saat saya kuliah. Kisah Seks yang ingin saya bagikan dengan teman-teman saya adalah pengalaman cerita orang dewasa dan cerita seks saya dengan dosen saya. Dia mengajar bahasa Inggris.

Novel Cerita Hot Sex 2018 Tubuh Ibu Dosen Bahenol

Seiring waktu, sekarang saya bisa kuliah di universitas saya. Nama saya Jack, sekarang saya tinggal di Yogyakarta dengan fasilitas prima. Saya pikir saya cukup beruntung untuk bekerja di perguruan tinggi jadi saya berpenghasilan tinggi.

Mulai dari reuni SMA saya di Jakarta. Setelah itu saya bertemu dengan dosen bahasa Inggris saya, kami mengobrol dengan familiarnya. Ternyata Ibu riska masih segar pas dan sangat seru.

Penampilannya luar biasa, mengenakan rok mini yang ketat, kemeja tank top sehingga lekuk tubuhnya terlihat begitu jernih. Jelas dia masih muda karena ketika saya masih di SMA dia adalah guru termuda yang mengajar di sekolah kami.

Sekolah saya hanya terdiri dari dua kelas, yang kebanyakan adalah perempuan. Cukup lama saya mengobrol dengan Ibu riska, kami rupanya tidak sadar akan waktu yang berjalan begitu cepat sehingga para undangan harus pulang. Lalu kami berjalan munuju ke gerbang sambil turun kelas tempat aku belajar SMA dulu.

Tiba-tiba ibu saya bangkit untuk mengingat bahwa tasnya tertinggal di kelas sehingga kami terpaksa kembali ke kelas. Saat itu hampir pukul dua belas malam, kami sendirian. Lampu di tengah jalan adalah semua yang tersisa. Sesampainya di kelas, Ibu riska juga mengambil tasnya lalu aku teringat masa lalu seperti apa di kelas bersama teman. Lamunanku lenyap saat ibuku memanggilku.

Mengapa Jack?

? Ah .. tidak apa-apa?, Jawabku. (sebenarnya suasana diam dan sangat merinding yang membuat keinginan saya bergolak apalagi ada ibu riska disamping saya, membuat hati saya selalu berdebar).

Ayo pulang Jack, saya kehabisan transportasi, kata Ibu riska.

? Haruskah ibuku mengantarku dengan mobil?, Jawabku ragu-ragu.

? Terima kasih Jack?

Tanpa sengaja saya mengekspresikan hati saya pada Ibu riska bahwa saya menyukainya, Oh Tuhan, apa saya? M lakukan?, Di hatiku.
Ternyata hal-hal lain mengatakan, Ibu riska diam dan langsung keluar kelas. Saya panik dan mencoba meminta maaf. Ibu riska sudah bercerai dengan suaminya yang berkulit putih, dia bilang suaminya kembali ke negaranya. Aku tercengang mendengar pernyataan ibuku tentang riska. Kami berhenti sejenak di depan kantornya, lalu Ibu bangkit mengambil kunci itu dan masuk ke kantornya, kupikir apa yang harus masuk ke kantornya di malam hari.

Novel Cerita Hot Sex 2018 Tubuh Ibu Dosen Bahenol

Saya lebih penasaran lalu masuk dan berniat membawanya pulang tapi Ibu riska menolak. Aku merasa tidak enak lalu menunggunya, memeluk bahu Ibu riska, cepat Ibu riska mau menolak tapi ada kejadian tak terduga, Ibu riska menciumku dan aku balas balik. Oh .., senang banget aku ini, maka cepat aku berciuman dengan semua kegembiraan saya yang laten. Rupanya Ibu riska tidak mau kalah, dia menciumku dengan keinginan yang sangat besar untuk mengharapkan kehangatan seorang pria. Aku sengaja menurunkan dadanya yang besar, Ibu bangkit terengah-engah sehingga ciuman kita menjadi panas maka sebuah perjuangan yang sangat menggairahkan. Ibu riska memainkan tangannya ke arah batang pangkal paha jadi saya sangat terangsang. Lalu aku meminta Mrs riska untuk melepas bajunya, satu per satu kancing bajunya terbuka pelan, aku melihat dengan penuh hasrat. Ternyata dugaan saya salah, dadanya yang menurut saya kecil itu sangat besar dan cantik, BH-nya berenda hitam dengan model yang sangat seksi. Karena saya tidak bisa menunggu maka cium lehernya dan sekarang ibu riska setengah telanjang, saya tidak ingin segera menelanjanginya, jadi perlahan saya menikmati keindahan tubuhnya. Jadi kupikir aku ingin bercinta denganmu saat ini .. Jack, tutup pintunya dulu, dia berbisik dengan suara yang sedikit gemetar, mungkin menahan orang gilanya yang juga mulai bangkit. Tanpa dua petunjuk, secepat kilat aku langsung menutup pintu depan. Tentu menjadi situasi yang aman dan terkendali. Setelah itu saya kembali ke Ibu riska. Sekarang aku berjongkok di depannya. Lepaskan rok mini dan kendurkan kedua kakinya. Wow, seberapa halus kedua paha. Basis bebek yang terlihat terbungkus celana dalam sangat minim.

Sambil mencium pahanya, tanganku meluncur di sekitar selangkangannya, meremas senggangnya dan klitorisnya yang besar. Lidahku naik. Ibu riska menggelinjang melelinjang dengan desah lembut. Akhirnya, menjilati saya ke pangkal paha. Apa yang kamu inginkan sshh sshh ?, dia bertanya pelan sambil memegangi kapal dengan kencang. Ooo? oh .. oh ..?, nafsu ibu riska ngidam saat lidahku mulai bermain di gundukan kenikmatan liang. Sepertinya dia masih memakai celana dalamnya. Serangan itu diperbaiki. Aku melepaskannya. Sekarang rahasianya ada di depan mataku. Kemerahan dengan klitoris besar sesuai dengan harapan saya. Di sekelilingnya ditumbuhi rambut kurang. Lidahku lalu diputar di bibir kemaluannya. Perlahan mulailah masuk ke dalam dengan gerakan melingkar yang membuat Ibu lebih mudah bangkit, harus mengangkat pinggulnya. Aahh? Kamu sangat pandai. Belajar dari mana hh ?? Tanpa ragu Ibu riska mencium bibirku. Lalu tangannya menyentuh celana yang menonjol karena batang pangkal paha tegak, menguleni sesaat. Betapa lembut ciumannya, meski masih polos. Aku menjulurkan lidahku dan memainkannya di dalam mulutnya. Lidahnya terpelintir sampai dia sepertinya diinginkan. Mula-mula Ibu bangkit seperti hendak memberontak dan melepaskan diri, tapi aku tidak membiarkannya. Mulutku sepertinya menempel di mulutnya. Uh kamu mengalaminya begitu ya. Dengan siapa? Pacarmu ?, dia bertanya antara ciuman yang membara dan mulai liar. Saya tidak menjawab. Tanganku mulai bermain dengan payudara yang menarik. Biarkan aku tidak menggangguku, jauhkan dia. Sekarang dia bertelanjang dada. Tak puas, langsung aku menembak rok mini. Nah sekarang dia telanjang. Betapa baiknya tubuhnya. Padat, kencang dan halus putih. ? Tidak adil. Kamu juga harus telanjang ..? Ibuku dilucuti baju, celana, dan celana dalamku yang terakhir. Tangkai pangkal penisku yang tegak lurus segera terjepit. Tanpa perintah kita jatuh di tempat tidur, berguling, saling tumpang tindih. Aku menunduk menatap selangkangannya, mencari dasar kesenangannya. Tanpa pengampunan mulut dan lidahku menyerang daerah itu dengan liar. Ibu riska mulai mengeluarkan jeritan yang menahan lezat. Hampir lima menit kami menikmati permainan. Selanjutnya aku merangkak naik. Mendorong pangkal pahaku ke mulutnya. ? Gantian dong ..? Tanpa menunggu jawaban saya segera memasukkan pangkal pahaku ke mulut mungilnya. Awalnya agak sulit, tapi dia bisa menyesuaikan diri untuk waktu yang lama agar tidak pangkal pangkal batang ke rongga mulut. ? Justru ada nikmatnya .., Selama ini suami yang sama bermain seks gimana ??, tanyaku sambil mencium payudaranya. Ibu riska tidak menjawab. Sebagai gantinya dia mencium bibirku dengan penuh semangat. Tanganku bergantian memainkan kedua payudara kenyal dan selangkangan yang mulai basah. Aku tahu, wanita itu telah kacau. Tapi aku sengaja membiarkannya penasaran sendiri. Tapi lama sekali saya tidak tahan juga, pangkal paha sudah sangat ingin mendongkrak liang kenikmatan. Perlahan aku mengarahkan jalanku yang kaku dan kaku ke selangkangannya. Saat saya mulai menembus liangnya, saya merasa tubuh Ibu sedikit gemetar. ? Ohh ??, dia mendesah sedikit demi sedikit pangkal pahaku masuk ke liangnya. Setelah seluruh entri saya masuk, saya segera bergoyang-goyang di atasnya. Aku semakin terangsang oleh jeritan kecil, mooing dan kedua payudara yang bergoyang-goyang. Tiga menit setelah saya kugenjot, Ibu riska menjepitkan kakinya ke pinggang saya. Pinggulnya diangkat. Ternyata dia akan orgasme. Batang pangkal paha saya meningkat. Ooo? ahh? hmm? ssshh ??, mendesah dengan tubuh menggelinjang menahan kenikmatan puncak yang didapat. Aku membiarkan dia menikmati orgasme untuk sesaat. Aku mencium pipinya, dahi, dan wajahnya yang berkeringat. Sekarang Ibu bangkit kembali. Menungging di atas meja .., sekarang kita main dong di atas meja ok!? Saya mengatur tubuhnya dan Ibu riska menurut. Dia sekarang bertumpu pada siku dan kakinya. ? Apa gaya lain ini ??, tanyanya. Begitu siap saya mulai bangkit dan menggelengkan tubuhnya dari belakang. Ibu riska menjerit lagi dan mendesah merasakan kenikmatan yang tak ada bandingannya, yang mungkin tak pernah dia dapatkan dari suaminya. Setelah orgasme naik dua kali, kita putus. ? Lelah?, Tanyaku. Kamu aneh. Sampai mau hancur tulang belulangku? ? Tapi Bu itu enak sekali?, Jawabku sambil meremas payudaranya yang menggemaskan. ? Ya deh kalau lelah. Tapi tolong sekali lagi, saya ingin masuk untuk mengeluarkan sperma saya. Nih tidak bisa lagi memegang pangkal paha. Sekarang Ibu bangkit di atas?, Kataku sambil mengatur posisinya. Aku merangkak dan dia duduk di pinggangku. Tangannya membimbing saya untuk memegang tongkat pangkal paku saya ke dalam selangkangannya. Setelah memasuki tubuhnya kunaik-menurunkan irama dari bawah. Ibu si riska tersentak dalam irama goyahku yang tumbuh lebih cepat dan lebih cepat. Payudaranya yang memantul menambah gairah saya. Apalagi disertai dengan berteriak dan menjerit sebelum orgasme. Saat mencapai orgasme saya tidak memiliki apa-apa. Saya langsung mengubah posisi menjadi gaya konvensional. Ibuku bangkit dan aku menembaknya dari atas. Mendekati klimaks saya meningkatkan frekuensi dan kecepatan pangkal paha saya. ? Oh Ibu riska .., aku mau keluar ya ahh ..? Segera sperma saya menyembur dalam kesenangannya. Ibu riska kemudian mengikuti klimaks. Kami memeluk erat-erat. Aku merasakan liangnya begitu menjepit pangkal pahaku dengan hangat. Lima menit lagi kita berada dalam posisi santai. Kami memeluk, mencium, dan saling meremas lagi. Rasanya seperti tidak puas dengan kesenangan yang baru saja kita rasakan. Setelah itu kami terbangun di pagi hari, kami keluar untuk sarapan dan mengobrol kembali. Ibu riska harus mengajar hari itu dan di sore hari aku bisa menjemputnya. Sore telah tiba, Ibu bangkit mengangkat mobilnya. Kami makan di mal dan kami kembali ke tempat parkir. Di tempat parkir yang kami bereaksi, aku mulai menciumi lehernya. Ibu bangkit mengangkat matanya dengan mata terpejam, dan tanganku mulai meremas kedua payudara. Nafas Ibu terengah-engah, dan tanganku bergoyang di antara kedua pahanya. Celana dalam itu basah, dan jari-jariku membelai belahan dada yang imajinatif itu. “Uuuhh .., mmmhh ..?, Ibu riska menggelinjang, tapi gairah saya sudah sampai di puncak kepala dan saya paksa buka baju dan rok mini. Aaahh ..! Ibu riska dengan posisi menantang di kursi belakang dengan memakai a bra merah dan CD merah aku segera mencium putingnya yang besar dan masih terbungkus BH seksinya, bergantian ke kiri dan ke kanan. Tangan ibu terangkat membelai bagian belakang kepalaku dan erangannya yang tersedak membuatku semakin tidak sabar. Aku melepas celana dalamnya, dan bukit kemaluannya muncul aku langsung mengubur kepalaku di tengah sampai dua paha .. Ehhh? mmmhh .. tangan ibu riska meremas jok mobilku dan pinggulnya bergetar saat bibir kantuknya kucumbui sesekali lidahku bergerak ke perutnya dan menjilatnya perlahan-lahan .. Ooohh .., aduuuhh ..? Ibu bangkit mengangkatnya kembali saat lidahku tergelincir di antara belahan dadanya yang masih kencang. Lidahku bergerak dari atas ke bawah dan bibir kemalanya mulai terbuka. lidah membelai klitorisnya yang membuat tubuh ibuku riska melonjak dan bernapas Ibu riska sepertinya mau. Tanganku naik ke dadanya dan meremas kedua bukit dadanya. Putingnya membesar dan mengeras. Saat aku berhenti menjilati dan mengisap, Ibu riska terbaring tak terengah-engah, matanya terpejam. Dengan tergesa-gesa aku membuka semua bajuku, dan kuku-kukuku yang lurus naik ke langit-langit, membelai pipi ibuku. ? Mmmhh?, Mmmhh .., ooohhm ..?. Saat Ibu bangkit membuka bibirnya, aku mendorong pangkal paha, sekarang dia mulai mengisap. Tanganku bergantian meremas dadanya dan membelai kemaluannya. ? Oouuuh Ibu riska .., enaaaak .., teruuuss ??, ereman. Ibu riska terus mengisap selangkangan poros saat ia mengusap lobang lobangnya yang juga sudah banjir karena terangsang melihat tangkai pangkal paha saya begitu besar dan kuat untuknya. Selama hampir 20 menit dia mengisap pangkal pahaku dan segera merasakan sesuatu di dalamnya ingin melompat keluar. “Ibu riska .., ooohh .., enaaak .., teruuus?, Teriakku. Dia mengerti bahwa aku ingin keluar, jadi dia menguatkan hisapan dan sambil menekan liang kenikmatan, aku melihatnya tersentak dan menutup matanya, lalu .., ‘creet .., suuurr .., ssuuur ..? “Oughh .., Jack .., enak ..?, Moan tertegun karena mulutnya tersumbat oleh pangkal pahaku. Dan karena mengisapnya terlalu kuat, akhirnya aku tidak cukup kuat untuk menahan ledakan itu dan sementara aku memegang kepalanya, aku menuangkan penisku ke mulutnya, “Crooot .., croott .., crooot ..?, Banyak bunga api tumpah di mulutnya? Aaahkk .., ooough ?, saya bilang puas saya masih tidak merasa lemas dan masih bisa lagi, saya akan naik ke atas tubuh ibu saya riska dan bibir saya meremukkan bibirnya. selangkangan ada di mulutku Ibu saya riska dan aroma riska ibuku di mulutku, bertukar lidah saat lidah kita berputar. Dengan tanganku, kugesek-menggesekkan kepalan pahaku ke celah di selangkangan ibuku, dan sesaat kemudian aku merasakan tangan Ibu naik pantatku dari belakang Ohm, masuk .., augh .., masuk? Perlahan alur saya mulai meledak ke kemaluannya dan ibu saya semakin mendesah. Segera kepala selangkangan saya ditekan oleh sesuatu yang kenyal. Dengan satu langkah, atasi rintangan Ibu riska memekik kecil, aku menekan lebih dalam dan mulutnya mulai ngomong, “Aduhhh .., ssshh .., iya .., cont Inue .., mmmhh .., aduhhh .., bagus .., Jack? Aku memeluk punggung ibuku, lalu membalik tubuh kita sehingga Ibu bangkit sekarang duduk di pinggangku.

Aku bisa melihat pangkal paha menempel ke pangkal kemaluannya. Tanpa perlu diajari, Ibu riska segera menggerakkan pinggulnya, sementara jari-jari saya bergantian meremas dan menggosok payudaranya, klitoris dan pinggulnya, dan kita balapan ke atas. Lewat beberapa waktu, gerakan pinggang riska semakin menggila dan dia membungkukkan tubuhnya dengan bibir saling menindih. Tangannya mencengkeram rambutku, dan akhirnya pinggulnya berhenti menyentak. Merasakan cairan hangat di seluruh pangkal pahaku. Setelah tubuh ibuku meninggi, aku mendorongnya ke punggungnya, dan saat memeluknya, aku mengejar puncak orgasmenya sendiri. Saat saya mencapai klimaks, Ibu riska pasti merasakan semprotan air saya dalam kenikmatan kotoran, dan dia mengeluh lemas dan merasakan orgasme kedua. Sudah lama kami terengah-engah, dan tubuh kami basah kuyup karena keringat masih saling bergesekan, merasakan sisa-sisa kenikmatan orgasme yang pernah terjadi saat itu rasanya ingin mengalahkan segala sesuatunya. waktupun terus berjalan saya berbaring tubuh saya sejenak dan membayangkan kesenangan yang telah terjadi saya tidur tidak merasa bangun waktunya sudah menunjukkan jam 05.00 setelah mengetahui pagi hari Ibu riska saya bangun akupun selamat tinggal untuk pulang. – cerita seks, update novel seks, novel dewasa seks, novel xxx terbaru, novel hot story, cerita bokep novel, novel cerita porno.

Novel Cerita Sex Mesum 2018 Partner Kerjaku Suka Ngentot

Cerita Bokep Mesum, Cerita Dewasa Bergambar, Cerita Dewasa Sex Terbaru, Cerita Dewasa Terbaru, Cerita Mesum Bergambar, Cerita Mesum Terbaru, Cerita Ngentot, Cerita Ngentot Hot, Cerita Ngewe Panas, Cerita Pemerkosaan Perawan, Cerita Seks Bergambar, Cerita Seks Terbaru, Cerita Sex Tante, Cerita XXX Terbaru, Kumpulan Cerita Seks Terbaru 2018, Situs Cerita Sex Terbaik Dari beberapa teman saya yang sering menggunakan kebiasaan saya ada orang yang selalu selalu menghubungi saya saat jam istirahat. Namanya Reni, seorang wanita karir, berusia sekitar 28 tahun, tidak pernah menikah kemudian bercerai dan tidak diberkati dengan anak-anak.

Novel Cerita Sex Mesum 2018 Partner Kerjaku Suka Ngentot

Soal bahan Reni tidak kalah karena penghasilan kerjanya lebih dari cukup.

Pada awal pertemuan saya dengan dia melalui pacar saya yang telah saya terapeutik dan mengatakan kepada Reni bahwa saya dapat membantu membuat wanita merasa hidup kembali dari stres dan kejenuhan kehidupan keluarga.

Suatu sore saya mendapat SMS dari Reni yang mengatakan bahwa dia ingin bertemu dengan saya di salah satu toko Mall, karena saya tidak mempunyai pertunjukan. Saya segera pergi dan menunggu beberapa menit untuk menikmati jus buah favorit saya.

Belum lama ini ada seorang wanita celinguk yang mencari sesuatu, saya berpikir sejenak dan dengan berani saya memberikan kode itu, memang benar dia adalah Reni, wanita yang saya tunggu-tunggu. Kami dengan santai berbicara panjang lebar dan saya mendengarkan beberapa keluhan yang baru saja dia rasakan.

Setelah hidangan yang tersedia selesai, saya mengambil inisiatif untuk mengundang Reni ke tempat yang lebih privasi sehingga saya bisa berkonsentrasi pada apa yang menjadi hambatan hidupnya.

Di suatu tempat di pinggiran kota Jakarta kami menyewa sebuah ruangan kecil yang sangat bersih dan alami. Terapi yang saya lakukan dengan tidak melakukan pelecehan pelecehan, saya mencoba untuk selalu profesional dalam melakukan pekerjaan sampingan ini.

Kira-kira satu jam terapi yang saya lakukan kemudian kita istirahat, sengaja Reni menyalakan TV yang ada di dalam ruangan, setelah mengganti beberapa saluran ada saluran yang menggambarkan adegan seks (Film Biru) atau bokep film.

Reni tercengang sejenak tapi dengan menatap dan dengan sedikit gairah, yang bisa aku rasakan dari gerakan tubuh dan matanya.

Sebagai orang normal saya bukan orang munafik saya memegang tangannya untuk meredam lonjakan nafasnya tapi Reni menatap mataku dengan makna dan nafsu, bibir kita saling saling mengisap, tanganku mulai mencari gerilya untuk target, dan dengan sedikit keberanian saya celah melalui belahan dada dan bra, saya memutar putingnya sehingga Reni mendesis, saya dengan tenang membuka satu per satu baju kerja yang hidup hanya pink Cdnya.

Aku terus memutar putingnya sementara sesekali aku meraih payudaranya, sementara bibirku terus saling berciuman dengan hotnya. Lidahku mulai mencium tenggorokannya, terus turun ke payudaranya bolak-balik aku mengisap pentilnya satu per satu Reni semangkin mendesis ..

? Misa Teruss Bite ??

Tangan saya sedang mencari target lain yaitu rambut kortik cantik yang menghiasi rambut yang dikritik rapi, tanpa dikomando Cdnya saya lepaskan dengan mengikat jempol kaki yang kemudian diposotkan ke bawah. Reni mendesis,

Mass Mass Reni Mass? Reni belum merasakan kenikmatan seperti ini Mas .. Terus Mas Masumi masukan Mas ..?

Jari-jari saya menari di bibir kemaluannya untuk menciptakan cairan bening yang hangat. Saya menemukan lokasi G-spot yang saya mainkan dengan jepitan kecil, tak lama kemudian Reni menggelepar seperti seizure, tangannya menggenggam leher saya, rasa sakit yang saya buat. Jari dan bibirku terus menari seakan tak kenal lelah.

Beberapa saat kemudian Reni membuka semua pakaian dan celana jadi saya telanjang, melemparnya satu per satu, bibir mulai menunduk, setelah Reni melihat alat kelamin saya.

? Waww .. Seberapa besar itu?

Novel Cerita Sex Mesum 2018 Partner Kerjaku Suka Ngentot

Sejenak Reni tercengang pelan, aku mendorong kepalanya agar bibir mungilnya ke sarang yang dia inginkan, menjilat koper kemaluanku dari atas ke testikel dan kemudian mengisap ujung batangnya saat sedang dikemudikan seperti lilin es dan tangannya sedang bermain. dengan biji pelre saya Perasaan saya mengambang sekitar lezat dan hampir lepas kendali.

Aku mendorong kepalanya ke belakang, berbalik aku menjilat kemaluannya, aku meletakkan bagian luar sambil menggigit sedikit dan kemudian aku mengisap bibir kemaluan sedikit bengkak karena darahnya telah turun untuk menunjukkan bahwa hawa nafsu sudah memuncak, aku memainkan ujungnya. lidah di celah surgawi, oh indah, kepala Reni menggelengkan kepalanya sambil mendesis dan berteriak kecil ..

Mas Maskyo Mas Saya tidak tahan .. Ayo Mas Mas Masin?

Melihat keadaan seperti lidah saya sampai ke rektum saya menjilat dengan perasaan, mungkin saya juga sedang bernafsu sehingga tidak ada jijik atau bau harum yang pasti uueennakk tenan. Reni mengalami orgasme kedua, menjepit kepalaku dengan paha mulus dan rapi sementara tangannya mencengkeram rambutku saat bibirnya menyuarakan.

Ohh? Ooh? Oohh saya baik .. ohh oohh sayang saya, saya .. saya ..? Menyanjungnya dengan orang gila.

Beberapa menit kemudian saya mengarahkan kelurb kemudaan saya dengan posisi kedua kaki diletakkan di pundak saya sehingga bibir kemalanya mencuat dan sedikit menyempit sedikit saja saya bergerak betis betis saya bolak-balik sambil meremas kedua keping dadanya semakin kencang.

Oh Mas .. Mas begitu besar rasanya seperti ini?

Aku terus maju mundur dan Reni berteriak saat tangannya menyentuh ujung kertas itu.

Lalu aku membalikkan badannya yang indah ke perutnya, aku mengangkat sedikit pantatnya untuk nungging, karena bibirnya yang mencuat menjilat keluar menjilat, pantatnya tumbuh semangkin tinggi,

? Ohh .. iittaaa aku mau lari?

Tanpa jawaban Reni mengoyak pantatnya semakin kencang dan berputar oohh.
Crot .. Crot .. Crot .. Crot .. Semprotkan lahar kenikmatan, dunia ini seakan melayang banget banget dunia, perut kudekap saat kibit sedikit kembali sehingga menimbulkan warna merah yang nyata. Beberapa saat kami pingsan ke samping sambil tetap memegang Reni erat-erat dari belakang. Tidur sebentar.

Aku terbangun setelah suara gaduh yang disebabkan oleh seekor kucing yang melompat, mungkin kucingnya juga sedang bernafsu. Kami saling membersihkan, saya tidak punya waktu untuk mengenakan pakaian dan celana saya, saya dipukul kembali oleh Reni, batangku secara lisan dalam posisi jongkok dan saya berdiri, saya rasa biar Reni mencari kepuasan sendiri untuk menemukan jati sendiri dan Lepas dari beban pikirannya, tangannya menari-berminggu-minggu di anus dan di sekitar alat kelamin yang membuat mataku rem tak tertahankan.

Oohh, teruslah mencintaiku karena hanyut ke dunia lain, dunia yang penuh dengan kesenangan, oohh?

Semakin menjadi bibirnya di pangkal paha. Aku menyambar rambutnya saat ia meremas dirinya dengan sangat senang, dia meraih dua biji saat dia tersenyum menatap mataku, ooh malaikatku sepertinya ingin terbang.

Posisi saya duduk karena tidak tahan berdiri sambil menikmati kenikmatan sampai lutut terasa lemah tanpa tulang. Beberapa menit kemudian saya tidak tahan dan kedutan ujung alat kelamin saya mulai terasa dengan akumulasi energi di ujung alat kelamin saya muntah lahar panas saya di rongga mulutnya yang seksi, sampai yang terakhir meledak, tertelan dan bersih, dan Reni mengatakan.

? Enak Mas, sperma lezat izinkan saya awet muda .. Ohh bayi saya?

Memang sperma bisa membuat wanita lebih muda dan bisa menghilangkan bercak pada wajah kulit saat diolesi dengan bagian yang berbecak. Sperma tidak beracun karena sperma sama dengan telur ayam dengan kadar protein tinggi, namun untuk menikmatinya butuh nafsu yang meningkat agar tidak merasa jijik dan geli.

Dari pertemuan itu saya lakukan beberapa kali, tapi sekarang Reni dipindahkan ke seluruh pulau sehingga tidak mungkin untuk bertemu. Yang pasti adalah kunci kenikmatan persahabatan adalah ketulusan satu sama lain tidak terletak diantara kita jika menginginkan ML yang indah.

Dari beberapa pertemuan yang telah saya lakukan selain Reni memang memiliki karakteristik tersendiri, semuanya hampir sama tapi berbeda, saya lebih suka ML dengan wanita paruh baya, karena rata-rata mereka tidak tabu dan juga munafik, jika keinginannya untuk melakukannya dengan baik. lakukan tanpa berpura-pura dan yang paling saya sukai adalah kedewasaan sehingga bisa menyimpan rahasia meski sulit dilakukan dan wanita paruh baya yang paling mengesankan sudah tahu apa yang harus dilakukan jika pasangan mereka telah memulai, dan jangan ragu untuk melakukan oral jika perlu. tanpa dipaksa atau diceritakan
Sampai sekarang kadang kala saya merasa betapa nikmatnya wanita yang mengisi rongga dunia pria itu, dan tentunya semua yang diucapkan oleh wanita yang berkencan dengan saya berkomentar .. Wow banget besar sih anda suka terong Jepang. Saya tidak keberatan jika ada yang mau bertemu dengan saya atau ada masalah dengan Anda panggil saja para ahli, setelah itu terserah Anda. – cerita seks, update novel seks, novel dewasa seks, novel xxx terbaru, novel hot story, cerita bokep novel, novel cerita porno.