Cerita Dewasa 2016 Gairah Menggebu Gadis Perawan

Cerita Dewasa 2016 Gairah Menggebu Gadis Perawan – Cerita ngentot terhot, Sebelumnya kisah sex yang pernah saya publish ialah Cerita Dewasa Ngentot Sama Anak Perawan SMPCerita sex terbaru, cerita seks bergambar, cerita dewasa terupdate, cerita mesum terbaik, cerita ngentot terpopuler, cerita bokep terselubung, cerita xxx terhot, cerita ml abg perawan, cerita porno janda binal | Shanti baru saja selesai menyapu lantai. Dan sekarang ia berniat mencuci piring kotor. Ia berjalan masuk kedalam dapur dan mendapati Mbak Tuti sedang membenahi peralatan dapur. Pada jam seperti ini restoran tempat mereka bekerja sudah sepi. Hari ini giliran Shanti yang harus pulang lambat karena ia harus merapikan restoran untuk buka nanti malam. Begitulah keadaan restoran dikota kecil, pagi buka sampai jam 3 sore lalu tutup dan buka kembali jam 7 malam. Shanti tahu ia tak akan sempat pulang karena ia harus bekerja merapihkan tempat itu bersama Tuti.

Cerita Dewasa 2016 Gairah Menggebu Gadis Perawan

cerita dewasa, cerita dewasa 2016, cerita dewasa terbaru, cerita dewasa igo, cerita dewasa igo terbaru, cerita dewasa igo bugil, cerita dewasa igo 2016
Ilustrasi Perawab IGO Bugil Terbaru

Shanti adalah seorang gadis yang cantik dan ramah. Usianya sudah 17 tahun dan ia tak dapat lagi meneruskan sekolahnya karena orang tuanya tidak mampu. Wajahnya oval dan sangat bersih, kulit gadis itu kuning langsat. Mata Shanti bersinar lembut, bibirnya kemerahan tanpa lipstik. Shanti mempunyai rambut yang panjang sampai dadanya, berwarna hitam, tubuhnya seperti layaknya gadis kampung seusianya. Buah dada Shanti membusung walaupun tidak dapat dikatakan besar namun Shanti memiliki pantat yang indah dan serasi dengan bentuk tubuhnya. Pendek kata Shanti seorang gadis yang sedang tumbuh mekar dan selalu dikagumi setiap pemuda dikampungnya.

Tuti seorang wanita yang sudah berusia 32 tahun. Ia seorang janda ditinggal cerai suaminya. Sudah 3 tahun Tuti bercerai dengan suaminya karena laki-laki itu main gila dengan seorang pelacur dari Jawa Tengah. Tuti bertubuh montok dan bahenol. Semuanya serba bulat dan kencang, wajahnya cukup manis dengan rambut sebahu dan ikal. Bibir Tuti sangat menggoda setiap laki-laki, walaupun hidungnya agak pesek. Kulit Tuti berwarna coklat tua karena ia sering ke pasar dan ke sawah sebagai buruh tani kalau sedang musim tanam atau panen. Tuti dulunya adalah seorang pelacur daerah Tretes, Jawa Timur. Dulu uang begitu gampang diperoleh dan laki-laki begitu gampang dipeluknya, sampai akhirnya hukum karma membuat ia menjanda karena sesama teman seprofesinya juga. Banyak orang dikampung yang diam-diam mengetahui sejarah kelam Tuti dan banyak juga yang mencoba hendak memanfaatkan dia. Tapi selama ini Tuti terlihat sangat cuek dan sinis terhadap orang-orang yang menggodanya. Buah dada Tuti besarnya bukan main, sering ia merasa risih dengan miliknya sendiri. Tapi ia tahu buah dadanya menjadi buah-bibir baginya. Dan sedikit banyak ia juga bangga dengan buah dadanya yang besar dan kenyal itu. Tuti juga memiliki pantat yang besar dan indah, nungging seperti meminta��. tubuh Tuti sering menjadi mimpi basah para pemuda dikampungnya.

�Shan, kamu sudah punya pacar belum?� Tiba Tuti berjongkok didepan Shanti dan mulai membantu gadis itu mencuci pirng-piring kotor. Shanti terkikik dan menggeleng.
�Belum tuh�
�Lho? Gadis secantik kamu pasti banyak yang naksir� kata Tuti sambil memandang Shanti. Shanti tertawa lagi.
�Payah.?? semuanya mikir kesitu melulu� Jawab Shanti.
�Memang.?? laki2 itu kalau melihat perempuan pikirannya langsung ingin ngewe� kata Tuti tanpa merasa risih berkata kasar.

�Ah mbak, jangan suka ngomong gitu ah� timpal Shanti.
�Kan nggak ada yang dengar ini� Jawab Tuti. Mereka terdiam lama.
�Mbak��.� suara Shanti menggantung. Tuti terus mencuci.
�Mmmm?� Jawab wanita itu.
�Ngggg����
�Ngomong aja susah banget sih� Tuti mulai hilang sabar. Shanti menunduk.
�Ngg�� anu��.. ngewe itu enak nggak sih?� Akhirnya keluar juga. Tuti memandang gadis itu.
�Yaaa��.. enaak banget Shan, apalagi kalo yang ngewein kita pinter� jawab Tuti seenaknya.
�Maksud mbak?� Shanti penasaran.
�Iya pinter���. bisa macam-macam dan punya kontol yang keras!� kata Tuti sambil terkikik. Shanti merah padam mendengarnya. Tapi gadis itu makin penasaran.
�Bisa macam-macam apa sih, Mbak?� tanya Shanti. Tuti memandangnya sambil menimbang. Ah��. toh nanti gadis kecil ini harus tahu juga. Dan Shanti sungguh cantik sekali, sekilas mata Tuti tertumbuk pada posisi Shanti yang sedang berjongkok. Tuti melihat gadis itu mengangkang dan terlihat celana dalam gadis itu berwarna coklat muda.
�Macam-macam seperti tempik kita diciumin, dijilat bahkan ada yang sampai mau ngemut tempik kita lohh�.� jawab Tuti. Entah kenapa Tuti merasa sangat terangsang dengan jawabannya dan darahnya mendidih melihat selangkangan Shanti yang bersih serta mulus.
�Idiiiih�� jorok ihhhh�.. kok ada yang mau sih?� Shanti sekarang melotot tak percaya.
�Lho�� banyak yang doyan ngemut memek Shan. Ngemut kontol juga enak banget kok� jawab Tuti masih terus melihat selangkangan Shanti.
�Astaga��. masak anunya lelaki diemut?� Shanti merasa aneh dan jantungnya berdebar, ia merasa ada aliran aneh menjalar dalam dirinya. Gadis itu tidak mengerti bahwa ia terangsang.
�Oh enak banget Shan, rasanya hangat dan licin, apalagi kalo ehm�� ehmm����
�Kalo apa mbak?� Shanti makin penasaran. Tuti merasa melihat bagian memek Shanti yang tertutup celana dalam krem itu ada bercak gelap, tapi Tuti tidak yakin.
�Yaaa��.. malu ahhh�.!� Tuti sengaja membuat Shanti penasaran.
�Ayo doong mbak� rengek Shanti. Tuti sekarang yakin bahwa memek gadis itu sudah basah sehingga terlihat bercak gelap di celana dalamnya. Tuti sendiri merasa sangat terangsang melihat pemandangan itu.
�Kalo pejuhnya menyembur dalam mulut kita, rasanya panas dan asin, lengket tapi enak banget!� bisik Tuti didekat telinga Shanti. Shanti membelalakkan matanya.
�Apa itu pejuh?� tanyanya. Tuti merasa tidak tahan.
�Pejuh itu seperti santan yang sering bikin memek kita basah lho� Jawab Tuti. Ia melihat bagian memek Shanti makin gelap, wah gadis ini banjir, pikir Tuti.
�Idiiihhh amit-amit, jorok banget sih�
�Lho kok jorok? Laki-laki juga doyan banget sama santan kita, apalagi kalo memek kita harum, tidak bau terasi�
�Idiiihh mbak saru ah!�
�Tapi aku yakin memek kita pasti wangi, soalnya kita kan minum jamu terus�
�Udah ah, lama2 jadi saru nih� kata Shanti. Tuti tertawa.
�Kamu udah banjir yaaa?� goda Tuti. Shanti memerah, buru-buru ia merapatkan kedua kakinya.
�Ahhh�.. Mbaakk!!!� Tuti tersenyum melihat Shanti melotot.
�Nggak usah malu, aku sendiri juga basah nih� Kata Tuti. Ia lalu membuka kakinya sehingga Shanti bisa melihat celana dalam putih dengan bercak gelap ditengah, Shanti terbelak melihat bulu-bulu kemaluan Tuti yang mencuat keluar dari samping celana dalamnya, lebat sekali, pikirnya.
�Ihhh�.. mbak jorok nih� desis Shanti. Tuti terkekeh.
�Mau merasakan bagaimana tempik kamu diemut?� bisik Tuti. Shanti berdebar.
�Ngaco ah!�
�Aku mau emutin punya kamu, Shan?� Tuti mendekat. Shanti buru-buru bangun dan mundur ketakutan. Tuti tertawa.
�Kamu akan bisa pingsan merasakannya� bisik Tuti lagi.
�Ogah ah�.. udah deh�� jangan nakut-nakutin akhh� Shanti mundur mendekati pintu kamar mandi dan Tuti makin maju.
�Nggak apa-apa kok�. cuman diemut aja kok takut?�
�Masak mbak yang ngemut?�
�Iya� supaya kamu tahu rasanya�
�Malu ahhhh��.�

�Nggak apa-apaaa��� Tuti mendekat dan Shanti terpojok sampai akhirnya pantatnya menyentuh bibir bak mandi. Dan Tuti sudah meraba pahanya. Shanti merinding dan roknya terangkat ke atas, Shanti memejamkan matanya. Tuti sudah berjongkok dan mendekatkan wajahnya ke memek Shanti yang tertutup celana dalam. Tuti mencium bau memek Shanti, dan Tuti puas sekali dengan harumnya memek Shanti. Dulu ia sering melakukan hal-hal seperti ini, malah pernah ia bermain-main bersama 4 pelacur sekaligus untuk memuaskan tamunya.

Tubuh Shanti gemetar dan seluruh bulu kuduknya meremang, gadis itu merasa suhu tubuhnya meningkat dan perasaannya aneh. Tuti mulai menciumi memek Shanti yang masih tertutup. Pelan-pelan tangannya menurunkan celana dalam Shanti dan Tuti terangsang melihat cairan lendir bening tertarik memanjang menempel pada celana dalam gadis itu ketika ditarik turun. Tuti menjulurkan lidahnya memotong cairan memanjang itu dan lidahnya merasakan asin yang enak sekali. Memek Shanti sungguh indah sekali, tidak terlihat bibir kemaluannya bahkan bulu-bulunya pun masih halus dan lembut. Tuti mencium dan mulai melumat memek Shanti. Gadis itu mengerang dan menggeliat-liat ketika lidah Tuti menjalar membelai liang memeknya. Shanti benar-benar shock dengan kenikmatan aneh yang dirasakannya, ada perasaan geli dan jijik, tapi ada perasaan nikmat yang bukan alang kepalang. Gadis itu merasakan keanehan yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Bulu kuduknya berdiri hebat tatkala lidah Tuti menyapu dinding memeknya, Shanti menggeliat-liat menahan perasaan nyeri nikmat bagian bawah perutnya.

�Aahhh�. Mbak� uuuhhhh�.. ssshhhhh�. ja�. jangan mb�.. mbbak! Ji�. jijikhh�. aahhhh� Tuti tidak memperdulikan rintihan dan erangan Shanti. Lidahnya bergumul dan menembus liang memek Shanti dengan lembut, Tuti tahu Shanti masih perawan dan ia tak ingin merusak keperawanan Shanti, lidahnya hanya menjulur tidak terlalu dalam, namun Tuti sudah dapat merasakan cairan asin hangat yang mengalir membasahi lidahnya dan Tuti mengendus-endus bau khas memek Shanti dengan sangat menikmatinya. Tuti perlahan-lahan menyelipkan jari-jarinya kesela-sela bokong Shanti, dengan lembut dan dibelai-belainya liang anus Shanti, dan Shanti sedikit tersentak tapi kemudian menggelinjang geli, tapi Shanti membiarkan dirinya pasrah terhadap Tuti. Ia percaya sepenuhnya pada Tuti dan sekarang ia benar-benar merasakan kenikmatan yang selama ini belum pernah ia rasakan bahkan dalam mimpipun!

�Enak Shan?� desah Tuti dengan mulut berlumuran lendir Shanti. Shanti memandang ke bawah dan mengangguk, tubuhnya bergetar hebat, ia tak menyadari bahwa itu yang dinamakan klimaks kenikmatan seorang perempuan. Tuti merasakan liang memeknya berdenyut dan ia meraba serta menusuk-nusukkan jarinya sendiri keliang memeknya dan merasakan cairan licin membasahi jarinya. Ia merintih dengan wajah tersuruk diselangkangan Shanti, lidahnya kini menjulur dan membelai liang dubur Shanti dan membuat gadis itu terlonjak-lonjak kegelian serta terpana mendapatkan perlakuan yang tidak pernah dibayangkannya. Shanti merasa liang duburnya ditekan-tekan oleh benda lunak dan sesekali terselip masuk kedalam dan ia akan terlonjak kaget becampur geli, tapi lebih banyak merasakan kenikmatannya.

Entah bagaimana awalnya, tapi kenyataannya Shanti dan Tuti telah saling memeluk dalam keadaan telanjang bulat dilantai kamar mandi. Tuti mencium mulut Shanti, mulanya gadis itu menolak tapi permainan jari-jemari Tuti diitilnya membuat gadis itu mabuk kepayang dan kepalanya dipenuhi nafsu berahi yang memuncak dashyat. Tuti melumat mulut Shanti dengan penuh nafsu, Shanti membalasnya dengan malu-malu tapi mereka berdua memang saling melumat juga akhirnya. Terdengar bunyi mulut mereka ketika lidah mereka saling mengait dan saling menghisap. Shanti berkelojotan berkali-kali dan Tuti merasakan memeknya berdenyut-denyut nikmat, ia membayangkan Shanti menjilati dan mengemuti kemaluannya.

Perlahan-lahan Tuti mulai menjilati leher gadis itu dan terus menciumi ketiak Shanti, gadis itu menggelinjang kenikmatan dan makin mengerang keras ketika Tuti mulai menghisap puting tetek Shanti. Perlahan Tuti menggeser posisinya sehingga Shanti dapat membelai memeknya, tapi gadis itu hanya menggeliat saja. Tuti tidak sabar, diambilnya tangan Shanti dan ditaruhnya di memeknya, Shanti mulai membelai dengan canggung. Ketika jarinya tidak sengaja masuk keliang memek Tuti, segera saja wanita itu memajukan pinggulnya dan memompa jari Shanti. Shanti mulai mengerti dan ia mulai memainkan itil Tuti dan membuat wanita itu terlonjak-lonjak nikmat. Lalu perlahan Tuti sudah mengangkangi Shanti dan ia menciumi memek Shanti kembali, lidahnya kembali menggumuli liang kemaluan gadis itu. Shanti kembali merasakan terjangan gelombang kenikmatan manakala memeknya digumuli Tuti, Shanti membiarkan wajahnya basah karena cairan memek Tuti berjatuhan, menetes dan membentuk lendir panjang, tapi Shanti tidak berani menjilat lendir yang jatuh dibibirnya. Ia memandang liang memek wanita itu dengan heran. Memek Tuti dengan bibir tebal kehitaman, bulu kemaluan yang lebat bukan main tapi tidak menutupi liang itu. Shanti melihat memek Tuti lain dengan miliknya. Dan memek itu makin turun sehingga nyaris menyentuh hidungnya. Shanti mencium bau memek Tuti dan dirasakannya sama baunya dengan memeknya.

Shanti menjerit tertahan ketika mencapai klimak, tanpa sadar ia menarik bokong Tuti sehingga wajahnya terbenam dalam memek wanita itu, Shanti gelap mata, ia menjulurkan lidahnya dan menggumuli liang penuh lendir bening itu. Shanti bahkan menghisap lendir itu seperti kelaparan. Shanti mengemut itil Tuti yang besar dan menonjol. Tubuh Tuti kaku seperti kayu dan bergetar hebat, pinggulnya kejang-kejang merasakan orgasme yang luar biasa ketika itilnya dihisap dan dijilat Shanti. Tuti menjerit keras dan ia menekan memeknya sehingga ia dapat merasakan hidung Shanti terselip dibelahan liang memeknya dan ia menggoyang2kan pinggulnya maju mundur dan dirasakannya itilnya bergesekan dengan hidung Shanti dan gadis itu malah menambahkan kenikmatan Tuti dengan menjulurkan lidahnya sehingga setiap kali Tuti memajukan atau memundurkan pinggulnya selalu bergesekan dengan lidah serta hidung Shanti. Tuti berkelojotan hebat sekali, ia meliuk-liuk seperti menahan nyeri, matanya berputar sehingga menampakan putihnya saja dan mulutnya mengeluarkan desahan kenikmatan.

�Shantiiiiiii!!!!��. aaaaaaarrrrgggghhhhh!!!!�..� Tuti merasakan bagian bawah perutnya nyeri dan ngilu. Orgasme yang ternikmat yang pernah dirasakannya sejak ia meninggalkan dunia hitamnya.

Shanti merasa puas karena berhasil membuat Tuti menjerit-jerit minta ampun karena kenikmatan. Shanti merasa, ternyata ia suka sekali dengan rasa dan bau memek Tuti. Ia berpikir apakah memeknya juga seenak itu. Ia merasakan hangatnya liang memek Tuti dan ia merasakan kasarnya bulu-bulu kemaluan Tuti kala menggesek diwajahnya. Shanti tersenyum lemah karena lelah. Tuti ambruk diatas tubuhnya dan Shanti membiarkan, dan gadis itu iseng membuka pantat Tuti dan memperhatikan liang anus Tuti. Shanti melihat liang dubur Tuti seperti bintang berwarna kehitaman dan sangat indah. Shanti penasaran, ia mencium serta mengendus liang itu�. tidak berbau apa-apa. Tuti diam saja membiarkan Shanti berbuat sesukanya. Shanti menjulurkan lidahnya dan menyentuh liang dubur Tuti dengan perlahan, kemudian ia menempelkan hidungnya lagi dan merasakan kehangatan liang itu. Dan Shanti mulai menekan-nekan lidahnya ke liang itu dan membuat Tuti menggelinjang geli.

�Aduh Shan, enak�. terus Shan� jilat� jilat terus� ya.. ya� aaakkhhhh�� Tuti merasakan lidah Shanti kaku menusuk liang duburnya. Tuti bangkit lalu berjongkok diatas wajah Shanti dan ia mulai menurun naikkan bokongnya sehingga lidah Shanti yang kaku dirasakannya menembus sedikit kedalam liang duburnya. Tuti menggeram pelan�� Shanti merasakan perasaan aneh ketika lidahnya melesak masuk kedalam liang dubur Tuti, ia menyukai permainannya itu dan merasa senang dengan apa yang diperbuatnya. Lidahnya tidak merasakan apa-apa, yang dirasakan cuma perasaan anehnya saja.

Tuti tidak ingin Shanti terus melakukan untuknya. Ia menggulingkan Shanti sehingga gadis itu terlentang, lalu kedua kakinya diangkat oleh Tuti sehingga liang dubur gadis itu mencuat keatas wajahnya. Dijilatnya liang dubur Shanti dengan rakus, lalu setelah licin oleh air liurnya dimasukkannya jarinya kedalam liang itu. Shanti menggigit bibir, ia merasa mulas tapi sekaligus nikmat. Kemudian dilihatnya Tuti mengeluar masukkan jarinya lalu setelah beberapa lama Tuti menjilati jari itu dengan nikmat, bahkan lidahnya terbenam jauh kedalam liang duburnya. Shanti mengeluh, belum pernah itu membayangkan apalagi merasakan perbuatan seperti itu, gadis itu mabuk kepayang dan sangat terangsang dengan perbuatan Tuti. Ia merasa seolah-olah Tuti adalah pembersihnya, Shanti memejamkan mata dan merasakan memeknya berdenyut mengeluarkan cairan.

Tuti benar-benar tergila-gila dengan perbuatannya itu, ia tidak pernah menjilat liang dubur pria dan ia tak pernah ingin, tapi liang dubur Shanti begitu merangsang, begitu lembut dan begitu nikmat. Tuti tidak mau membayangkan apa yang biasa keluar dari lubang itu, ia cuma ingin merasakan lidahnya terjepit diliang itu dan bagaimana rasanya. Ia tahu Shanti gadis yang sangat bersih, sama dengan dirinya. Tuti tidak kuatir dengan hal itu. Yang diinginkannya saat ini hanyalah membuat Shanti betul-betul puas dan dewasa. Tuti kemudian memompa liang memek Shanti dengan lidahnya dan membuat gadis itu meraung-raung serta kejang-kejang.

�Mbaakkkk� sudah mbaakkk�. ampuuunnn�� ooohhhhh!!!� Shanti sudah tidak kuat lagi menanggung kenikmatan yang datangnya bertubi-tubi melanda tubuh dan perasaannya. Ia menjambak rambut Tuti dan berusaha membuat wajah itu jauh dari memeknya. Dan akhirnya mereka berbaring lelah dilantai kamar mandi. Tuti memandang Shanti�.

�Bagaimana? Sudah mau pingsan keenakan belum?� tanya Tuti. Shanti membuka matanya dan memandang wanita itu.
�Bisa gila aku mbak�. aahhh benar-benar bisa gila!� Desah Shanti. Tuti tersenyum.
�Mau lagi?�
�Jangan! Bisa semaput benaran aku nanti��
�Ya sudah tak mandikan yuk!� Kata Tuti. Mereka bangkit dan kemudian saling memandikan. Sejak itu Shanti mengetahui apa yang harus dilakukannya jika berahinya datang melanda. Kejadian pertama itu membuatnya tahu apa sebenarnya yang dapat membuatnya nikmat dan puas. Shanti belajar banyak dari Tuti. Dan ia memuja wanita itu.

Malam itu Shanti tidak dapat memejamkan matanya, ia teringat perbuatannya dengan Tuti. Terbayang olehnya perbuatan Tuti terhadap dirinya, Shanti merasa seluruh bulu ditubuhnya berdiri dan ia merasa agak demam. Ia mengeluh karena merasa ingin sekali mengulangi lagi dengan wanita itu. Shanti bangun dan berjalan kemeja kecil tempat ia biasa merias diri. Dikamar sebelah terdengar suara2 aneh, itu kamar Supriati, teman sesama kostnya. Shanti mencoba mendengar, antara kamar dengan kamar hanya dibatasi dinding papan tipis. Shanti kadang suka kesal dengan Supriati yang bekerja di pabrik karena wanita itu suka menendang-nendang dalam tidurnya dan itu membuat Shanti kaget setengah mati ditengah malam. Tapi suara sekarang lain, bukan suara yang keras, suara yang samar-samar dan sepertinya ada suara lain, Shanti menempelkan telinganya dan ia mendengar suara rintihan Supriati. Shanti berdebar, ini malam minggu�.biasanya pacar wanita itu suka datang menginap. Sedang apa mereka?

Shanti berjingkat keluar kamar. Diluar sepi sekali, sekarang sudah jam 1 pagi, pasti Supriati sedang berasyik-asyik dengan pacarnya. Shanti tegang, ia berjalan kebalik kamar Supriati yang bersebelahan dengan ruang televisi. Shanti tahu disana dindingnya tidak sampai atas dan dinding itu yang menyekat kamar Supriati. Pelan-pelan Shanti naik keatas bangku, lalu naik lagi keatas lemari pendek dan ia berjongkok disana. Ia ragu hendak berdiri, takut terlihat, tapi keingin tahuannya membuatnya nekad. Dan pelan-pelan kepalanya menyembul dan pandangannya menatap kedalam kamar Supriati. Penerangan kamar itu agak redup tapi Shanti bisa melihat dengan jelas Supriati sedang ditindih oleh pacarnya! Supriati mengerang sambil menggeliat-geliat menggoyang pinggulnya, kedua kakinya terlipat dan menekan pantat pacarnya. Pacarnya menggenjot Supriati dengan cepat. Shanti merasa meriang, matanya terbelalak dan tubuhnya gemetar. Laki-laki itu sedang meremas buah dada Supriati dan wajah mereka menempel satu sama lainnya. Mereka sedang berciuman dengan liar. Supriati menggumam dan melihat tangan Supriati meremas-remas pantat pacarnya dengan keras. Shanti terangsang sekali, belum pernah ia melihat pemandangan orang yang sedang bersetubuh dan sekarang ia merasa aneh, ia merasa perutnya ngilu dan dengkulnya gemetar tak keruan.

Pacar Supriati berteriak tertahan dan mengangkat bokongnya. Shanti melihat tangan Supriati masuk kebawah dan terlihatlah kontol yang besar sekali didalam genggaman Supriati dan kontol itu menyemburkan cairan putih ke perut Supriati. Supriati mengocok kontol pacarnya dengan cepat dan laki-laki itu nafasnya mendengus-dengus hebat dengan tubuh bergetar. Shanti merinding melihat benda yang besar dan panjang seperti itu, Shanti ngeri melihat kontol yang begitu besar, ia tahu bahwa itu besar sekali karena sebelumnya Shanti belum pernah membayangkan kontol dapat membesar dan sepanjang itu! Shanti melorot turun dengan lutut lemas, ia berjingkat kembali masuk kedalam kamarnya lalu merebahkan diri diranjang. Mengerikan sekali kontol lelaki, pikirnya. Mana mungkin benda sebesar itu muat dimemeknya? Shanti merinding membayangkan lubang memek Supriati yang pasti luar biasa besar. Dan Shanti akhirnya terlelap�.

Seminggu lewat sudah dan Shanti bingung memikirkan Tuti. Wanita itu tidak masuk seminggu sejak pergumulan mereka. Nanti sore ia akan menanyakan pada pemilik warung mengapa Tuti tidak masuk. Selama seminggu ini Shanti tidak bergairan dalam pekerjaan, memeknya basah terus kalau mengingat Tuti atau mengingat pemandangan adegan Supriati dengan pacarnya. Shanti tidak bersemangat, apalagi sehari-hari teman-temannya selalu bergunjing mengenai laki-laki dan mereka tidak segan-segan membicarakan hal-hal yang paling pribadi dan selalu berakhir dengan cekikikan panjang. Shanti merasa terkucil karena teman-taman lainnya semua sudah menikah dan usia mereka jauh diatasnya, sehingga mereka selalu terdiam kalau Shanti mendekat, padahal ia ingin sekali turut mendengar gunjingan mereka. Shanti lebih banyak menghabiskan waktunya dengan menyibukkan diri didapur membantu pemilik restoran.

Malam itu Shanti merasa tidak bersemangat bekerja, hatinya sedih memikirkan Tuti. Ia sudah menanyakan pada majikannya dan ternyata Tuti telah berhenti bekerja karena mendapatkan pekerjaan di Jakarta. Shanti diam-diam menangis memikirkan Tuti yang tega meninggalkannya tanpa pesan sedikitpun. Akhirnya Shanti hanya pasrah dan menjelang tutup restoran ia pulang kekostnya yang berada tidak jauh dari tempatnya bekerja lalu masuk kedalam kamarnya dan menangis kembali memikirkan Tuti. Ia menangis sampai akhirnya terlelap dan bermimpi bertemu dengan Tuti dan wanita itu membelai rambutnya dengan sayang, Shanti menyusup dalam ketiak Tuti dan menangis sesunggukan, wanita itu mengucapkan kata-kata hiburan padanya dan gadis itu menangis makin keras��

* * * * * * * * * *

Tidak terbayangkan oleh Shanti ketika memandang wajah wanita itu didepan pintu restoran. Tubuh Shanti bergetar dan jantungnya berdebar keras sekali. Air mata mengambang dipelupuk matanya yang indah. Bibir Shanti terbuka dengan mata terbuka seolah melihat hantu. Wanita itu berjalan masuk dan tersenyum padanya��.sudah setahun lewat sejak kepergiannya dan Shanti merasa waktu setahun berlalu seperti siput, tiada malam tanpa tangisan dan tiada hari ceria lagi selama setahun itu baginya dan kini wanita itu berdiri dihadapannya dan sungguh cantik bukan main!

Wanita itu mendekat dan Shanti tiba-tiba saja sudah menghambur dalam pelukannya. Semerbak wangi tercium oleh Shanti, wanita itu membelai rambutnya sambil memeluk erat tubuhnya. Shanti merasakan debar jantungnya menghantam dada wanita itu. Tangisan sedih terdengar dari dalam pelukan Tuti. Wanita itu merasakan aliran hangat jatuh dari matanya. Ia berusaha menahan air matanya tapi mengalir juga setetes dan jatuh dirambut Shanti.

�Mbak� oh�.� Shanti tak kuasa berbicara. Ia menyusupkan wajahnya makin dalam dipelukan Tuti.

�Shan, sudah lama sekali yaa�.� Bisik Tuti. Shanti mengangguk-angguk. Shanti merasakan lembutnya buah dada Tuti dan ia tidak ingin melepaskan pelukannya.
�Aku rindu sekali mbak�. ja� jangan pergi lagi�..� Suara tercekat dari Shanti membuat Tuti sangat terharu. Dadanya terasa sesak dan ia ingin menjerit tapi kedewasaannya membuatnya bertahan.

�Aku juga rindu Shan, sudah, sudah�..� Wanita itu mendorong Shanti pelan dan membawanya duduk disalah satu kursi. Restoran itu sedang sepi sekali dan Tuti memang sudah mengamatinya sejak satu jam yang lalu. Ia tidak ingin ada orang yang dikenalnya melihatnya datang dengan penampilan seperti itu, apalagi bermobil.
�Mbak cantik sekali�.� Bisik Shanti, ia menatap Tuti kagum. Tuti memang terlihat cantik dan menawan, make up wajahnya tipis sehingga kehalusan kulitnya terlihat nyata, matanya masih seperti dulu, bersinar nakal dan genit, bibirnya yang penuh juga makin terlihat merangsang. Shanti menelan ludah, ia melihat pakaian Tuti yang sangat indah, ia melihat potongan tubuh Tuti yang juga tidak berubah, montok dan kencang. Hidung peseknya tidak terlihat lagi dan penampilan keseluruhan wanita itu membuat Shanti rindu bukan main.

�Kamu kelihatan makin cantik dan matang Shan�.� Bisik Tuti lalu dibelainya pipi Shanti yang kemerahan. Kulit gadis itu masih betul-betul halus sekali, jari Tuti merayap menyentuh bibir Shanti, Shanti membiarkan jari Tuti menyentuh bibirnya, ia membuka mulutnya dan menjilat jari itu, jantungnya berdegup, Tuti membiarkan jarinya dihisap oleh Shanti.

�Aku rindu sekali Shan dan aku kesini untuk mengajak kamu ikut aku� Kata Tuti. Shanti terkejut.
�Kemana?� Tanya Shanti.Tuti tertawa.

�Ikut saja aku, pokoknya kamu akan hidup enak denganku� Kata Tuti.

Shanti memandang wanita itu, hatinya gundah, apa yang harus dilakukannya? Apakah memang ia akan hidup lebih enak? Tapi kalau sekali ini ia tidak ikut dengan Tuti maka kemungkinan wanita itu tidak akan menemuinya kembali, Shanti sungguh bingung.
�Jangan kuatir Shan, aku nggak bakalan menelantarkan kamu. Justru aku selalu ingat sama kamu, makanya aku nggak tahan lagi untuk mengajak kamu ikut denganku� Kata Tuti sambil membelai tangan Shanti. �Lagipula kamu dan aku sudah seperti�. seperti�. kekasih�.� Suara Tuti berbisik dan bibirnya bergetar. Shanti ingin sekali memangut bibir wanita itu tapi ia agak jengah. Ia menunduk saja. Kemudian dirasakannya belaian tangan Tuti dibawah meja menjamah pahanya dan mengelus serta meremas lembut pahanya, Shanti merinding, ia ingin merintih tapi ia hanya menatap saja wanita itu. Tuti memandangnya sendu dan bibirnya terbuka.

�Baiklah mbak�. ka.. kapan kita berangkat?� Bisik Shanti bergetar.
�Besok kamu temui aku dihotel M, malam ini aku tinggal disana� Jawab Tuti �Jangan membawa barang terlalu banyak, nanti aku belikan disana� Shanti mengangguk. Gadis itu memandang Tuti, ia haus sekali akan belaian wanita itu, tapi Shanti tahu Tuti tidak dapat berlama-lama, lagipula sepertinya wanita itu bukan lagi Tuti yang dulu.
�Jaga diri kamu baik-baik, Shan�..sampai besok� Bisik Tuti. Shanti merasa pahanya diremas oleh Tuti dan wanita itu bangkit sambil tersenyum. Shanti memandang kepergian Tuti dan ia merasa ada sesuatu yang terbang meninggalkan jiwanya. Tuti menghilang dalam mobil dan pergi meninggalkan halaman restoran itu.

* * * * * * * * * *

Shanti memandang pemilik restoran, seorang pria berusia pertengahan. Restoran sudah sepi karena sudah agak malam dan teman-teman Shanti juga sudah pulang, beberapa yang tinggal dibelakang restoran telah masuk dan mungkin sudah tidur. Shanti sengaja memilih waktu setelah semuanya telah sepi, karena ia ingin pamit dan meminta upahnya selama bekerja disana pada sang pemilik restoran. Perjanjiannya memang begitu, semua karyawan wanita hanya dapat mengambil upahnya enam bulan sekali atau sewaktu ia ingin berhenti. Dan sekarang Shanti hendak berhenti karena besok ia sudah akan di Jakarta.

�Mengapa kamu tolol sekali hendak ikut dengan sundal itu?� Sergah pak Mohan dengan wajah mengeras dan kelihatannya marah betul. Shanti membisu, tubuhnya tegang karena takut.

�Kamu tidak tahu dia itu jadi lonte disana? Hah?� Desis laki laki itu. Ia memandang Shanti dan terus memandang gadis yang menunduk diam itu. Matanya tertumbuk pada seonggok daging yang membusung di dada Shanti yang ditutupi kaus tipis kumuh berwarna putih kekuningan. Pak Mohan terkesiap merasakan berahinya tiba-tiba memuncak melihat keremajaan gadis itu, laki-laki itu menahan napas dan menelan ludah, matanya tidak lepas dari dada Shanti dan mulutnya terkunci. Shanti tidak tahu majikannya memandangnya seperti seekor serigala yang sedang menatap domba yang tak berdaya.

�Baik, kamu boleh keluar dari sini dan sekarang kamu ikut aku untuk mengambil uangmu!� Suara serak pak Mohan terdengar aneh di telinga Shanti, tapi gadis itu merasa lega karena tidak ada lagi nada kemarahan dalam suara itu. Ia mengikuti laki-laki itu menuju kebelakang terus kebelakang berlawanan dengan mess tempat tinggal para karyawan restoran. Shanti tahu ia menuju kantor Pak Mohan, atau tepatnya tempat biasa Pak Mohan membereskan bon-bon dan beristirahat kalau sedang capek. Rumah majikannya itu jauh dari sini jadi ia suka berleha-leha diruang itu kalau sedang capek melayani tamu.

Pak Mohan menyalakan lampu kamar dan Shanti disuruh duduk di dipan yang biasa ditiduri oleh laki-laki itu. Shanti duduk dan Pak Mohan berjalan mendekatinya, tiba-tiba tangan laki-laki setengah baya itu terjulur dan meremas teteknya dengan keras, Shanti menjerit tertahan dan beringsut kesudut, ketakutan.

�Kamu mau uang kamu khan? Kamu akan ke Jakarta khan? Dan kamu toh akan jadi lonte juga nanti, sekarang kamu layani aku dululah, dan kamu akan menjadi lebih pengalaman nanti� bisik Pak Mohan dekat sekali dengan wajahnya. Shanti mencium bau rokok menyembur dari mulut laki-laki itu, sehingga membuatnya ia ingin muntah.
�Saya akan menjerit pak�.. jangan pak�� malu!� bisik Shanti. Pak Mohan menerkam Shanti dengan tiba-tiba dan Shanti terhimpit oleh tubuh laki-laki itu, Shanti membuka mulutnya hendak menjerit, tapi tangan pak Mohan dengan sigap menutup mulutnya. Shanti terbelalak, ia benar-benar kalah tenaga dengan laki-laki itu, yang ternyata kuat sekali.
�Sekali kamu bersuara, maka kamu tidak akan bisa menemui sanak saudaramu lagi, kamu bisa tunggu mereka semua di neraka!� Desis Pak Mohan, wajahnya sungguh kejam sekali, membuat gadis itu merasa takut setengah mati. Perasaannya mengatakan percuma melawan laki-laki itu, ia akan sangat menyesal nanti. Lagi pula siapa yang tidak takut dengan Pak Mohan? Hanya sang isteri yang baik pada karyawan, sedangkan laki-laki ini sudah terkenal suka judi dan membuat onar. Shanti menangis tanpa suara, ia takut sekali, dan sekarang ia merasakan tubuhnya digerayangi oleh tangan lelaki itu.

�Ikuti apa yang aku suruh, maka kamu akan mendapatkan uangmu dan yang penting kamu akan selamat dan bisa jadi lonte di Jakarta, mengerti?� Ancam Pak Mohan, Shanti menggigit bibir menahan sakit ketika teteknya kembali diremas oleh laki-laki itu, ia cepat-cepat menganggukkan kepalanya dalam bisu.

Pak Mohan menarik kaki Shanti sehingga gadis itu terlentang di dipan kayu yang beralaskan tikar. Kemudian Shanti melihat Pak Mohan dengan gugup melepaskan pakaiannya. Shanti memejamkan matanya ketika melihat kontol Pak Mohan bergoyang-goyang seperti ketimun. Ketika ia membuka matanya kembali, Shanti melihat pak Mohan sudah duduk disampingnya dan tangannya mulai menarik kaus Shanti, gadis itu tidak bergerak. Tiba-tiba pipinya ditampar oleh Pak Mohan, Shanti menjerit pelan merasakan pipinya panas, tamparan yang tidak begitu keras tapi sangat menyakitkan hatinya. Shanti mengangkat tubuhnya membiarkan kausnya lolos begitu saja dan kemudian membiarkan juga roknya diloloskan dengan mudah oleh Pak Mohan. Shanti bisa merasakan napas panas membara dari hidung laki-laki itu, Pak Mohan berusaha menciumnya tapi Shanti memalingkan wajah, tapi laki-laki itu memaksa dan Shanti terpaksa membiarkan bibirnya dikulum mulut laki-laki itu, Shanti merasa mual�.

�Pegang ini, awas jangan macam-macam kamu!� bentak Pak Mohan. Tangan Shanti dituntun untuk menggenggam kontol Pak Mohan. Shanti merasa jijik, kontol yang tidak begitu besar dan dalam keadaan layu, keriput dan hitam.

�Kocok!� perintah Pak Mohan. Shanti belum pernah melakukannya. Ia meremas-remas pelan, kenyal dan licin seperti berlendir, Shanti merasa jijik.

�Kocok seperti ini goblok!� desis laki-laki itu sambil mengocok kontolnya sendiri. Shanti berusaha menurutinya dan Shanti sedikit terkejut mendapati kontol itu bangun perlahan. Pak Mohan tidak sabar, ia harus cepat-cepat karena sang isteri menantinya dirumah. Ia menyodorkan kontolnya kemulut Shanti, gadis itu menghindar.

�Sialan kamu! Cepat hisap dan jilat! Atau kubunuh kau!� bentak Pak Mohan seperti kalap. Shanti menggenggam kontol laki-laki itu dengan tangan gemetar, dipandangnya benda yang lembek dan setengah tegang, ia memejamkan matanya dan sebelum sempat berbuat sesuatu, dirasakannya benda itu menerobos masuk kedalam mulutnya dan bergerak maju mundur. Shanti ingin muntah tapi ia ketakutan. Laki-laki itu memompa mulut Shanti dengan tergesa-gesa, dari mulutnya keluar lengkuhan-lengkuhan aneh dan tiba-tiba Shanti mendengar Pak Mohan mengerang tertahan lalu mulutnya tiba-tiba terasa asin dan penuh dengan cairan lengket dan berbau aneh. Shanti menahannya supaya tidak tertelan, ia mual sekali, ia berpikir itu pasti yang dikatakan Tuti sebagai pejuh. Jijik sekali, pikirnya. Shanti memejamkan matanya erat-erat dan membiarkan kontol Pak Mohan terus bergerak maju mundur dan makin pelan. Lalu benda itu ditarik keluar dari mulutnya. Dan Shanti segera memuntahkan cairan kental itu, ia memandang Pak Mohan yang kelelahan dengan perasaan benci bukan main.

�Hhh��. bagus��. memang punya bakat lonte kau! Ini uangmu dan ini bayaran pertama buat seorang lonte!� Desis pak Mohan lalu melemparkan lembaran-lembaran uang kewajah Shanti. Shanti terkulai tak berdaya dan Pak Mohan bergegas hendak keluar tapi sebelumnya sekali lagi laki-laki itu meremas teteknya dan Shanti terbelalak kesakitan. Sekejab kemudian bayangan laki-laki tua itu sudah lenyap dari pandangannya. Shanti menangis pelan, ia tidak berani lebih keras, ia malu dan takut terdengar oleh teman2 yang tinggal diseberang tempat ini. Lalu pelan-pelan gadis itu bangun, ia meraba teteknya dan meringis nyeri, lalu ia memungut uang-uang yang jatuh berserakan. Dihitungnya dan ia merasa senang juga menerima lebih dari yang diperkirakannya, ia menerima kelebihan dua puluh ribu rupuah! Jumlah yang lumayan untuknya. Shanti dengan jijik mengusap cairan mani yang menempel di dadanya dengan bhnya. Ia melepaskan benda itu dan memutuskan tidak akan memakainya. Ia memakai rok dan kausnya lalu berjingkat-jingkat keluar dari kamar itu. Diluar gelap dan kelam, sunyi, entah sudah jam berapa sekarang.

Shanti berjingkat masuk kedalam kamar mandi, rumah kostnya sudah sepi dan ia tidak ingin membangunkan semua penghuninya. Ia mulai membersihkan badannya dan ia menggosok teteknya kuat-kuat, ia tak perduli nyeri yang ditimbulkan, ia hendak melenyapkan jejak remasan Pak Mohan. Shanti menangis tanpa suara, ia tidak menyangka malam terakhir merupakan malam jahanam baginya. Ia berkumur dan menusuk-nusuk kerongkongannya sampai muntah, ia tak perduli mulutnya terasa pahit dan ia terus hendak mengeluarkan semuanya, ia tak yakin apakah tadi cairan Pak Mohan tertelan atau tidak dan ia tidak ingin cairan itu berada diperutnya. Shanti menggosok giginya berkali-kali dan akhirnya dengan pelan ia masuk kedalam kamarnya. Ia telah mencuci bersih bhnya dan pakaiannya juga, ia akan meninggalkan pakaian itu disini saja. Lalu Shanti berbaring berusaha untuk tidur��diam-diam ia bersyukur dirinya masih perawan, entah mengapa laki-laki keparat itu tidak menyetubuhinya, Shanti menghela napas dalam lelap.

* * * * * * * * * *

�Ini kamar kamu Shan, suka?� bisik Tuti sambil memandang gadis itu. Shanti ter-nganga tidak dapat berkata apa-apa. Keletihan berjam-jam dalam perjalanannya dengan Tuti seakan lenyap begitu saja. Kamar yang untuknya sangat luas, ia membadingkan mungkin 3 kali dari kamar kostnya di kampung. Luar biasa, ranjangnya besar dengan sprei putih bersih, ada radio kaset disamping ranjang lalu ada meja rias dan Shanti heran melihat ada kamar mandi dalam kamar tidur, ia belum pernah tahu mengapa ada orang yang membuat kamar mandi dalam kamar tidur. Sangat membuang uang sekali, pikirnya. Tapi gadis itu sudah dapat membayangkan betapa nikmatnya dengan fasilitas seperti itu, kapan saja ia ingin mandi, ia tidak usah lagi mengantri sambil menimba air, oh menyenangkan sekali, batinnya.

�Ada air panasnya lho Shan�� kata Tuti. Shanti memandang wanita itu dengan penuh sayang. Ia memeluk Tuti dan berterima kasih padanya dengan air mata mengalir. �Kamu berhak mendapatkannya sayang�� bisik wanita itu.

�Indah sekali mbak! Bagaimana aku harus membalas semua ini?� kata Shanti dengan suara serak. Tuti tersenyum, lalu ia memanggil supir yang membawa mereka tadi untuk memasukkan barang-barang Shanti.

Shanti sangat kagum dengan rumah Tuti. Besar, bersih, mewah dan berkesan anggun sekali. Tembok-temboknya dicat dengan warna kuning beras, indah bukan main. Ruang tamu yang besar dengan lantai marmer dan perabotan yang menurut gadis itu tentu sangat mahal harganya, lalu ruang makan dengan meja makan yang besar lengkap dengan kursi-kursi berderet, tirai-tirai yang mewah seperti membuang-buang kain saja. Kemudian Shanti melihat ruang keluarga yang luar biasa besarnya, dengan TV yang juga seperti layar bioskop, seprangkat sofa yang besar pula menghias ruangan itu. Ada kolam renang dipekarangan belakang, kolam yang besar bukan main, Shanti tidak dapat membayangkan berenang di kolam itu, ia belum pernah berenang dikolam renang, ia hanya pernah berenang disungai.

�Kamu istirahat saja dulu Shan. Nanti sore baru kita ngobrol-ngobrol lagi� kata Tuti. Lalu ia berjalan keluar kamar meninggalkan Shanti. Gadis itu duduk di atas ranjang, wah empuk sekali! Ia tersenyum sendiri membayangkan nasibnya, sungguh beruntung sekali ia disayangi seperti itu oleh Tuti. Ia merebahkan dirinya lalu dalam sekejab ia sudah terlelap��

Shanti terbangun oleh belaian Tuti. Jari-jemari Tuti membelai pipinya, Shanti memegang tangan Tuti kemudian menciumnya dengan lembut.

�Terima kasih mbak� bisiknya. Tuti tersenyum.

�Ah tidak apa-apa sayang, aku memang selalu teringat akan kamu dan akhirnya aku nggak tahan lagi. Aku berkata pada suamiku bahwa aku tidak dapat merasakan keriangan tanpa kamu Shan� kata Tuti. Shanti mengecup lagi telapan tangan yang membelainya.
�Kok mbak kimpoi nggak bilang-bilang sih?� tanya Shanti. Tuti tertawa. Ia mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir gadis itu dengan lembut. Tuti rindu sekali dengan hembusan napas Shanti dan ia sudah tidak tahan ingin merasakan lidah serta mulut gadis itu. Sudah lama ia rindu pada Shanti, selama ini ia selalu melayani �suami�nya dengan baik. Dan sang �suami� juga kelihatan sangat sayang padanya, maka itu ia memberanikan diri untuk meminta ijin mengajak gadis itu tinggal dengannya. Tuti menceritakan semuanya kepada �suaminya� dan tak disangka �suaminya� sangat menyetujui�.

�Jadi kamu suka bermain dengan cewek juga?� tanya �suaminya�, yang sebetulnya adalah laki-laki yang bernama Rahman dan selama ini memelihara hidup Tuti dan diam-diam mereka melangsungkan pernikahan tanpa sepengetahuan isteri pertama laki-laki itu. Tuti mengangguk, ia pasrah jika Rahman meledak marah dan mendampratnya. Tapi yang ia lihat hanya pandangan terpesona saja.
�Ya mas, aku selalu teringat kepadanya, aku sangat mencintainya mas� Jawab Tuti.

�Jadi selama ini kamu tidak cinta padaku?� Tanya Rahman menyelidik.

�Aku mencintaimu melebihi segalanya, semuanya kuberikan dan semuanya kulakukan. Tapi selama mas tidak denganku, aku sering merasa sepi dan�..�

�Dan apa?�

�Dan membayangkan gadis itu� Tuti menjawab terus terang.

�Boleh saja kamu ajak gadis itu, aku akan sangat senang sekali kalau��� Rahman tidak meneruskan kata-katanya. Tuti tersenyum. Ia tahu apa yang dipikirkan Rahman.
�Aku akan mencobanya sayy�. aku juga ingin sekali kalau kamu bisa menikmati keperawanan gadis itu� bisik Tuti. Rahman lega dan merasa tegang sendiri membayangkan ia digumuli oleh dua wanita, wah tentu lebih luar biasa, selama ini saja ia sudah sangat puas dengan pelayanan Tuti yang sampai kemanapun belum pernah dirasakannya. Tutinya yang begitu hebat diatas ranjang, didalam kamar mandi, dimanapun dan kapanpun ia membutuhkannya, wanita itu selalu akan membuatnya terkulai dalam lautan kenikmatan.

�Mbak�� kok melamun?� bisikan Shanti menyadarkan lamunan Tuti. Wajahnya dekat sekali dengan Shanti dan gadis itu rupanya menanti dari tadi. Tuti tertawa geli lalu tiba-tiba ia memangut bibir Shanti dan melumatnya. Shanti terengah-engah membalas lumatan gadis itu. Ia merasa tangan Tuti mengelus-elus buah dadanya dan ia pun membalas, ia meremas-remas tetek Tuti dengan gemas dan membuat wanita itu merintih-rintih, tak dibutuhkan waktu lama untuk membuat mereka berdua berbugil ria dalam pergumulan panas. Shanti tidak tahu bahwa dilangit-langit kamar ada sebuah bintik hitam sebesar uang logam. Dan semua kejadian dikamar itu dapat disaksikan dari lantai dua rumah itu. Diruang kerja Rahman! Dan sekarang Rahman sedang menahan napas memandang kearah layar besar didalam ruang kerjanya. Tubuhnya tegang dan dirasakan daging dicelananya membengkak. Ia bisa melihat Tuti melucuti pakaian Shanti dan ia bisa melihat bagaimana wanita itu menggerayangi tubuh Shanti dengan penuh nafsu.

Rahman tersengal-sengal menahan nafsu, ia melihat Shanti memangut tetek Tuti dan menyedotnya seperti bayi, dan Tuti dengan kalap menyuruk keselangkangan Shanti dan mulai menggumuli memek gadis itu dengan mulutnya. Rahman tak kuasa menahannya, ia juga ingin merasakan bau memek gadis itu dan bagaimana lendir gadis itu lumer dalam mulutnya, lendir perawan! Ia mengendap-endap turun dan menghampiri kamar Shanti, ruangan sepi sekali dan dibukanya pintu itu, dilihatnya wajah Shanti sedang ditindih oleh bagian bawah tubuh Tuti dan Tuti asyik menjilat-jilat memek Shanti, Rahman dapat melihat dengan jelas bagian dalam memek gadis itu yang kemerahan dan berkilat karena lendir. Ia merangkak masuk dan dengan sebelah tangannya ia mengambil celana dalam Shanti yang tergeletak diujung ranjang. Rahman membawa benda itu kewajahnya dan menciumnya, oohh�. nikmat sekali baunya, bau pesing bercampur dengan bau khas memek seperti punya Tuti, Rahman menjilat bercak kuning dicelana dalam itu dan merasakan rasa asin, ia menjilat terus sampai bercak itu menjadi licin dan berubah menjadi lendir. Tapi ia takut ketahuan, ia segera melemparkan benda itu dan merangkak mundur keluar dari ruangan. Semuanya dilakukan tanpa mereka mengetahuinya, Rahman berdebar-debar membayangkan kapan Tuti dan Shanti akan siap melayaninya bersama-sama.

�Aduh mbaakk, aku keluar lagi mbak�. aduh duh�..� Shanti berkelojotan, memeknya terangkat dan menekan-nekan wajah Tuti, Tuti tidak mau kalah dan mengulek memeknya dengan goyangan yang membuatnya merasa hendak kencing.
�Shaan�. mati aku Shan� ooohh�. terus Shan, terus!� desah Tuti dan Shanti mempercepat tusukan lidahnya dalam memek Tuti, ia menghujamkan mulutnya dan lidahnya menjulur dalam sekali, berkelana disekitar dinding memek wanita itu dan Shanti merasakan cairan masuk kedalam mulutnya dengan mudah, Shanti tidak perduli bahwa itu adalah air kencing yang keluar sedikit dari memek Tuti karena gadis itu membuatnya seperti gila dan entah mengapa ia merasa ingin kencing terus setiap Shanti menjalarkan lidahnya didalam memeknya.

Tuti merasa pinggangnya nyeri karena menahan nikmat yang membuatnya tanpa sadar meliuk-liuk seperti ular, apalagi dirasakannya lubang anusnya ditusuk-tusuk juga oleh jari-jemari gadis itu, ternyata gadis itu sekarang pandai sekali memuaskan dirinya. Tuti juga tidak mau kalah dan ia membuat Shanti berguling sehingga gadis itu sekarang yang berada diatasnya dan dengan leluasa Tuti menjilati cairan bening yang jatuh dari liang memek Shanti, cairan lengket dan hangat terasa asin itulah yang selalu dirindukan Tuti. Enak bukan main rasanya dan Tuti seperti gila menghisap lubang memek gadis itu, lidahnya dengan kaku memasuk kedalam memek Shanti dan membuat gadis itu mengerang, kadang malah Shanti tersentak kesakitan karena lidah Tuti masuk terlalu dalam dan Tuti cepat-cepat mengeluarkan lidahnya, ia lupa bahwa gadis itu masih perawan dan ia ingin Rahman yang memerawani gadis ini, kalau bisa nanti malam.

�Mbakhh�. aah� enak sekali mbak�. aaaaa�. keluar lagi mbak�� aduuuuhhh� Shanti mengerang panjang dan Tuti merasakan cairan bening makin banyak masuk kedalam mulutnya. Tuti menggosok-gosokkan hidungnya di lubang anus Shanti, ia merasa terangsang sekali melihat liang itu dan dijilatinya lubang anus Shanti, Tuti memasukkan jari telunjuknya, membuat Shanti mengerang lagi. Lalu dikocok-kocoknya telunjuk itu di dalam anus Shanti. Gadis itu tersentak-sentak sambil merintih, Shanti merasa mulas tapi ada perasaan nikmatnya juga. Ia mengejan agar jari Tuti lebih mudah masuk kedalam anusnya, Shanti merasa enak sekali dan ia merasa memeknya banjir besar. Sedangkan Tuti dengan lahap menjilati lubang anus Shanti dan bahkan ia menjilati jarinya yang baru keluar dari dalam anus Shanti, ia mencium bau yang baginya enak sekali dan ia menghisap jari itu.

Shanti melakukan hal serupa, ia memasukkan jarinya dan buat Tuti yang sudah terbiasa, kocokkan jari-jari Shanti di dalam anusnya membuatnya orgasme. Apalagi Shanti dengan tanpa jijik menjilat anusnya dan menusuk-nusuk lubang itu dengan lidahnya, Tuti merasakan kenikmatan yang membuat tubuhnya panas dan gemetar. Dengan rintihan panjang Tuti mencapai orgasme lagi dan terkulai lemas. Shanti juga lemas diatas tubuh Tuti. Mereka merasa rindu mereka telah terobati sementara dan Shanti diam-diam memohon agar kejadian seperti ini terus akan terjadi, ia tak ingin kehilangan Tuti lagi, ia tak akan kuasa hidup tanpa wanita yang dapat membuatnya merasakan kenikmatan seperti ini. Shanti menyusukkan kepalanya disela-sela ketiak Tuti, ia sangat merindukan kejadian seperti ini dimana ia merasa terlindungi dan Shanti sangat suka sekali bau ketiak Tuti yang sedang berkeringat dan dengan bernafsu Shanti menjilati keringat yang membasahi bulu-bulu ketiak wanita itu. Shanti mengendus dalam dan menikmati bau khas yang sangat disukainnya, bau khas ketiak wanita kampung, tapi baginya bau ketiak Tuti sungguh merangsang.

Tuti cekikikan kegelian karena jilatan lidah Shanti tapi ia merasa nafsunya bangkit kembali. Tuti memandang lidah Shanti membelai ketiaknya dan menjilati keringatnya dengan lahap, ia terangsang sekali melihat bagaimana gadis itu menghisap-hisap bulu ketiaknya yang lebat, seperti dikeramas saja, pikirnya. Tuti menarik wajah Shanti dan melumat mulutnya, dirasakan bau ketiaknya ada dimulut Shanti dan Tuti melumat habis mulut Shanti, gadis itu pasrah membiarkan lidah Tuti menjalar dan menyelusup kemana suka. Ia merasa jari-jari Tuti mengocok-ngocok didalam liang memeknya dan memeknya licin sekali karena banjir, wanita itu tidak menusuk terlalu dalam dan Shanti merasa nyaman sekali. Tuti membawa jari-jarinya yang berlumuran lendir itu kemulutnya dan kemulut Shanti dan mereka menjilati lendir itu dengan lahap seolah-olah itu adalah tajin yang biasa dimakan bayi. Mereka saling berpelukan dengan mesra dan terlelap dalam rengkuhan kenikmatan.

* * * * * * * * * *

Ketika bangun, hari sudah senja dan mereka mandi sama-sama dalam kamar Shanti. Tuti mengangumi tubuh Shanti yang benar-benar sedang ranum, matang dan sangat indah, semuanya mulus tanpa cacat. Bulu kemaluannya yang halus, buah dadanya dengan puting merah muda sangat kontras dengan tubuhnya. Tubuhnya sendiri memang masih padat dan serba kencang, tapi ia tak dapat menghindari kegemukan di perutnya, padahal ia sudah senam mati-matian, mungkin inilah karena umur, pikirnya. Sebaliknya Shanti sangat iri melihat tetek Tuti yang begitu besar dan kenyal, walaupun puting susunya juga besar dan kehitaman tapi Shanti tahu banyak sekali laki-laki dikampungnya yang tergila-gila ingin menikmati tubuh Tuti.

�Mbak teteknya besar sekali, kapan aku bisa punya tetek sebesar itu?� Kata Shanti, Tuti tertawa terkekeh-kekeh.

�Ini dulu salah urus, sebenarnya tetekku dulu tidak sebesar ini, tapi ada gara-gara digosok dengan minyak bulus jadi gede kayak gini� Jawab Tuti. Ia tak memberitahu Shanti bahwa dulu germonyalah yang menyuruhnya menggosok teteknya dengan minyak itu.

�Memang bisa?�

�Entahlah, tapi kupikir gara-gara itu sih� mereka terkikik.

�Selesai mandi nanti kita kekamarku yuk� ajak Tuti.

�Ah nanti ada suami mbak� jawab Shanti.

�Ah mungkin dia pulang malam hari ini� jawab Tuti. Ia tak mau Shanti mengetahui rencananya.

�Wah kamar mbak hebat sekali!� seru Shanti kagum melihat kemewahan kamar Tuti. Tuti tertawa dan mengajak gadis itu duduk diatas ranjang besar.

�Heh kamu mau nonton film?� tanya Tuti. Shanti menggeleng.

�Film?�
�Iya film yang hebat deh� kata Tuti lalu berjalan ke lemari TV yang terletak pas dikaki ranjang. Tuti memasukkan sesuatu ke dalam kotak alat dan kembali duduk bersama Shanti. Ia memeluk Shanti dan gadis itu membalas pelukannya. Tiba-tiba Shanti melotot ketika melihat adegan dalam film itu. Ia melihat dua wanita sedang disetubuhi oleh beberapa lelaki. Ia melihat kedua wanita itu sedang disetubuhi sambil menghisap kontol pria lainnya. Shanti menahan napas, jantungnya berdebar kencang, tubuhnya meriang dan hangat. Tuti merasa gadis itu gemetar.

�Lho�. kok.. kok�. ih mbak! Idiihh besar sekali mbak!� desis Shanti. Tuti diam.
�Jijik mbak�. aduh jijik sekali!� seru gadis itu tatkala melihat salah seorang pria itu menyemprotkan air mani kedalam mulut sang wanita dan wanita itu dengan lahap menjilatnya sambil merengek-rengek manja. Shanti teringat malam jahanamnya dengan Pak Mohan, ternyata ada wanita yang suka sekali dengan itu.
�Oh enak sekali Shan, wah rasanya luar biasa!� kata Tuti. Ia membelai tengkuk Shanti. Shanti bergidik melihat wanita itu kembali menjilati kontol yang baru keluar dari memeknya dan kontol itu dengan ganas menyemburkan cairan kental kedalam mulutnya lagi.

�Aduuhh� geli amat. Kok mau sih�� Suara Shanti bergetar, diam-diam ia merasa ada perasaan aneh merambati tubuhnya. Ia merasa berahinya naik dengan cepat, apalagi Tuti membelai-belai tengkuknya.

�Mbak! Gila ihhh!� Shanti melotot melihat laki-laki lain menusuk lubang pantat wanita itu dan laki-laki lainnya lagi menusuk dari bawah dan dimulut wanita itu tetap tertusuk sebuah kontol hitam. Semua lubang ditubuh wanita itu telah terisi.
�Wah itu yang paling enak Shan, kamu harusnya merasakan bagaimana memek kamu dimasuki kontol Shan� enaknya luar biasa!� Desis Tuti. Wanita itu juga merasa terangsang. Ia melirik ke pintu yang dibiarkan tidak terkunci. Di televisi terlihat adegan dua wanita itu saling memangut kontol hitam dan mereka saling menjilat dan menyuapi satu sama lain. Shanti mendesah, ia merasa meriang sekali dan memeknya banjir besar, Shanti merasa terangsang bukan main melihat bagaimana kedua wanita itu saling membagi air mani laki-laki itu dan laki-laki itu bergantian memompa mulut wanita-wanita itu.

�Mbaakk�.. aduh mbak�.. nggak tahan aku� Bisik Shanti manja sambil menatap Tuti. Tuti melumat bibir gadis itu.

�Nafsu yaaa�.?� Bisiknya. Shanti mengangguk lalu menyurukkan wajahnya ke ketiak Tuti lagi.

Tiba-tiba pintu terbuka dan�.. �Wah ada tamu nih?� Suara besar dan berat menyengat Shanti. Ia melompat berdiri dan membenahi roknya yang tersingkap. Tuti tersenyum manis pada laki-laki itu.

�Oh mas, lho kok sudah pulang? Ini kenalkan keponakanku Shanti� Kata Tuti sambil mendorong Shanti mendekat kepada laki-laki tinggi besar itu. Laki-laki yang bertampang seram dengan brewok diwajahnya.

�Ini suamiku Shan, kamu panggil saja Oom Rahman� Kata Tuti.

�Oh Haloo! Wah aku tidak menyangka keponakan kamu cantik begini� Kata Rahman sambil menjabat tangan Shanti. Shanti tersipu menundukkan wajahnya. Rahman duduk diatas ranjang dan membuka sepatunya, matanya menatap televisi.

�Lho kok putar film begitu?� Tanyanya berpura-pura. Tuti tersenyum, Shanti tidak berani memandang, ia malu bukan main.

�Ya iseng saja, lagian aku ingin kasih tahu Shanti bagaimana punya laki-laki itu lho!� Kata Tuti manja sambil membantu melepaskan dasi Rahman.

�Mbaakk�.� Shanti melotot.

�Lho? Nggak apa-apa kok Shan. Mas Rahman orangnya sangat terbuka kok. Lagian kami sudah biasa dengan adegan-adegan seperti di film itu� kata Tuti sambil menarik Shanti supaya mendekat. Kemudian ia memeluk Shanti dan mencium mulutnya. Shanti merasa malu dengan perlakuan Tuti tapi ia juga tak ingin menghindar, ia takut Tuti marah. Malah sekarang Tuti meremas buah dadanya dengan perlahan.
�Mbaaakk� malu ah� rengek Shanti.

�Ah tidak apa-apa kok Shan, oom sudah biasa kok� kata Rahman sambil menelan ludah. Ia merasa lidahnya kaku dan sepertinya ia sudah merasakan cairan memek Shanti lumer dimulutnya. Lalu Tuti membuka celana Rahman dan sekaligus memelorotkan celana dalamnya, maka meloncat keluar kontol yang sudah agak tegang. Shanti menutup mulutnya melihat kontol yang lumayan besar dan panjang itu. Wajahnya bersemu merah, ia tidak dapat berkata apa karena malu, ia ingin lari tapi ia takut Tuti tersinggung.

�Nih lihat ini Shan. Ini yang namanya kontol enak? bisik Tuti sambil mengocok pelan kontol Rahman dan Shanti bisa melihat ada lendir bening di kepala kontol itu seperti lendir memeknya. Lalu ia terbelalak melihat Tuti dengan lahap mengulum kontol itu, bahkan Shanti bingung melihat kontol itu lenyap dalam mulut Tuti. Dan Rahman mendengus-dengus sambil memompanya dalam mulut wanita itu. Shanti gemetar menyaksikan pemandangan yang tidak pernah dibayangkannya. Sungguh mengerikan, pikirnya. Apakah begitu enaknya sampai Tuti mau menghisap kontol itu demikian dengan lahapnya?

�Mau cobain Shan? Enak banget�.� Tuti menarik gadis itu supaya berlutut juga. Rahman berdiri dan tersenyum pada Shanti. Ia menyodorkan kontolnya yang sudah agak keras itu. Tuti mengambil tangan Shanti dan dipaksanya tangan itu menjamah kontol suaminya. Shanti berusaha menahan tangannya dengan setengah hati. Ia bingung dan gundah, ia merasa memeknya seperti hendak meledak karena berahi yang memuncak tapi ia juga malu dan ia tak ingin berselingkuh dengan suami Tuti, tapi sekarang malah Tuti memaksanya menjamah daging yang seperti dodol itu.

�Nggak apa-apa Shan, suamiku milik kamu juga kok�.� bisik Tuti. Kemudian Shanti merasakan daging itu ditangannya, lumayan besar dan kenyal, ada lendir bening keluar dari ujung kontol Rahman, dan Tuti mengusap lendir itu dan memasukkannya ke mulut Shanti, Shanti merasa jijik, tapi ia hanya merasakan asin seperti pejuh Pak Mohan. Lalu Tuti mendekatkan mulut Shanti sambil menekan kepalanya supaya mendekati kontol Rahman. Dan entah bagaimana Shanti pasrah saja ketika kontol itu sudah dalam mulutnya dan bergerak maju mundur. Shanti merasa daging itu hangat dalam mulutnya dan memang kalau dirasa-rasakan enak sekali, seperti mengemut es krim tapi tidak dingin melainkan hangat, hanya sesekali lidahnya merasakan asinnya lendir yang jatuh dalam mulutnya. Tuti juga ikut mengemut kontol Rahman dan sesekali kedua wanita itu saling melumat dan meremas.

�Mmhhh�. enak sekali mas�.. ayo� cepat keluarkan�. aku sudah tak tahan lagi mas!� Desah Tuti, tangannya dan tangan Shanti berebut mengocok kontol Rahman. Bola mata Rahman terbalik dan mulutnya meleguh nikmat seperti kerbau. Kontolnya sungguh keras bukan main dalam maianan kedua perempuan itu. Ia merasakan bagaimanapun jilatan dan kocokan Tuti jauh lebih luar biasa daripada Shanti. Memang ia tak salah memilih gundik, Tuti memang sungguh luar biasa. Dan Rahman menyadari selama ini ia belum pernah bisa tahan lebih dari 3 menit kalau Tuti sudah mengeluarkan keahlian mulut dan tangannya, apalagi kalau kontolnya sudah dalam cengkraman memek wanita itu, maka tak ayal lagi ia akan menyerah sebelum hitungan kedua puluh, padahal dengan isteri tuanya ia tidak pernah bisa keluar dan benar-benar tidak pernah bisa ejakulasi! Walau bagaimanapun sang isteri melayaninya tetap saja ia tidak dapat puas, bahkan kadang-kadang kontolnya menciut kembali sehingga harus dirangsang lagi. Tapi kalau dengan Tuti, dipegang sebentar saja kontolnya sudah seperti paku baja, terus digoyang sebentar saja, kontolnya sudah meletuskan lahar panasnya, tapi Tuti dapat dengan cepat membangunkan kembali meriamnya walaupun baru meledak. Rahman bersyukur dengan Tuti, ia tak merasa sayang sedikitpun mengeluarkan uang luar biasa besarnya untuk membuat wanita itu mencintainya.

�Oouughhhh�� aku�. aku� mau keluar sayyy!!!� seru Rahman sambil berkelojotan. Kontolnya dikemot oleh Tuti sedemikian rupa sehingga membuat seluruh otot tubuhnya ngilu menahan gelombang nikmat yang akan segera melanda. Tuti mengeluarkan kontol Rahman dan segera dimasukkannya ke dalam mulut Shanti, gadis itu membiarkan kontol itu menerobos masuk kedalam mulutnya dan ia mengocoknya dengan bibirnya, lidahnya berusaha menjilat kontol yang keluar masuk dalam mulutnya itu. Sementara Tuti mengemuti pelir Rahman dengan keahliannya, tiba-tiba Rahman mengeluarkan leguhan keras, tubuhnya kaku dan wajahnya tegang bukan main, mulutnya ternganga sedangkan matanya terbelalak dan berputar ketika kontolnya menyemburkan cairan pejuh panas ke dalam mulut Shanti, tubuhnya kejang dan ia membiarkan kontolnya diam dalam mulut gadis itu, Tuti dengan sigap mengurut dan mengocok batang kontolnya, biasanya Tuti akan terus mengocok kontol itu dengan mulutnya sampai Rahman berkelojotan seperti orang sekarat, tapi ia tahu Shanti baru pertama kali dan belum tahu bagaimana membuat seorang laki-laki mengalami ejakulasi dashyat yang dapat membuatnya mati kaku. Jadi Tuti membantu dengan mengurut batang kontol Rahman dan membuat laki-laki itu menggeram dashyat seperti singa.

Shanti merasa mulutnya penuh dengan cairan lengket, ia tak ingin menelannya jadi ia mengeluarkan dari sela-sela bibirnya walaupun ia tahu sebagian sudah tersembur masuk ke dalam kerongkongannya. Jantungnya berdebar melihat Tuti dengan lahap menjilati setiap lelehan pejuh yang keluar dari mulutnya.

�Telan Shan��.. enak kok��.. mmhhh��.. sllrrpp��.. mmmmhhhh��.� Tuti menjilati cairan kental keputihan itu. Dan Tuti dengan cepat menelanjangi Shanti, sehingga Shanti benar-benar berlutut tanpa selembar benangpun ditubuhnya dan wanita itu juga sudah telanjang bulat dan bahkan kini Tuti berdiri dan menyodorkan memeknya pada Shanti. Shanti hendak berpindah menggumuli memek Tuti tapi Rahman masih membiarkan kontolnya dalam mulut gadis itu. Shanti mengeluarkan kontol Rahman dan menjilati pejuh yang menempel disana, ia mengemut kontol Rahman, sekarang ia merasa suka dengan rasanya, ternyata untuk menjadi biasa cepat sekali apalagi kalau memang ternyata enak.

Memek Tuti digesek-gesek di wajah Shanti dan Shanti menyelipkan hidungnya di memek Tuti serta mengendusnya, hhhmmmm nikmat sekali baunya, pikir Shanti. Ia menjulurkan lidahnya dan mengorek-ngorek liang memek Tuti yang sudah licin dan banjir. Tangan kanan Shanti sibuk mengocok kontol Rahman, tapi kontol itu lemas tidak bangun kembali. Rahman meringis kesakitan karena kocokan Shanti yang tidak berpengalaman, mulutnya sedang dilumat oleh Tuti, ia tidak mau melepaskan lumatan Tuti hanya untuk meringis, karena semua yang diberikan Tuti padanya adalah istimewa, dan belum pernah seumur hidupnya Rahman mendapatkan wanita seperti Tuti.

Pelan-pelan mereka beringsut dan akhirnya mereka bertiga bergumul di ranjang. Rahman sibuk melumat mulut Shanti, ternyata gadis itu masih tidak berpengalaman sama sekali, lumatan bibirnya masih jauh dibanding Tuti. Tapi kontolnya sudah tegang seperti baja kembali karena Tuti yang mengocoknya.

�Mau cobain rasanya memek Shanti mas?� desis Tuti. Rahman mengangguk, ia mengidam-idamkannya dan dari tadi sore serta ia juga memimpikannya. Tuti menyuruh Shanti memberikan memeknya tapi Shanti malu, Tuti menariknya sehingga pelan-pelan Shanti bergeser sampai tubuhnya di atas Rahman dan ia menungging diatas wajah Rahman. Tuti mendorong pantat Shanti supaya turun dan pelan-pelan Shanti menurunkan pantatnya, tiba-tiba ia mengerang ketika lidah kasar Rahman dan berewoknya menyapu memeknya yang sempit menimbulkan sensasi yang tidak terkirakan nikmatnya. Shanti merasa orgasme padahal belum diapa-apakan. Sekarang ia meliuk-liuk seperti penari ular ketika lidah Rahman menjelajahi bibir memeknya dan menyapu itilnya dengan kasar. Geli dan nikmat bukan main.

Tuti melihat lendir memek Shanti berjatuhan seperti tirai air terjun dan ia bersama Rahman menjilati lendir itu, sesekali ia meludah kedalam mulut Rahman dan laki-laki itu segera menikmati air liurnya. Tuti menjilati liang anus Shanti dari atas dan lidahnya menusuk-nusuk lubang itu dengan ganas. Shanti mengerang, merintih, menjerit histeris karena gelombang orgasme melandanya tanpa ampun membuat perutnya mulas serta membuatnya ingin kencing. Shanti merasakan memeknya benar-benar disedot oleh Rahman sehingga mengeluarkan suara keras, lalu ia merasa air kencingnya keluar sedikit, ia malu dan berharap Rahman tidak menyadarinya. Tapi Rahman tahu, Tuti pun tahu bahwa Shanti sampai terkencing-kencing saking nikmatnya.

�Ayo Shan kencing saja Shan�. mmmhhhh� enak sekali kencing kamu� gerang Rahman sambil memainkan itil Shanti dengan lidahnya. Shanti tidak berdaya, dan ia tak kuasa menahannya lagi, ia hanya punya pilihan menderita karena menahan kencing atau menerima kenikmatan yang sedang diambang perasaannya.

�Aduh nggak kuat! Aaaaakkkkhhhhh�. mbaaaakkkkk!� Shanti merengek sambil mengocok kontol Rahman yang licin karena lendir. Air seninya meyemprot keluar dari lubang kencingnya, memancar menyemprot wajah Rahman dan Tuti. Panas dan berbau pesing, Tuti memejamkan matanya dan membuka mulutnya sehingga air kencing Shanti masuk kedalam mulutnya dan keluar lagi jatuh kedalam mulut Rahman. Mereka meminum air kencing Shanti yang masih perawan, air kencing yang tidak banyak dan kekuningan tapi sensasinya membuat Rahman melayang, ia merasakan asin dan pahit ketika air kencing gadis itu membasahi tenggorokannya. Tuti malah dengan liar dan lahap meminum dan menjilati air kencing yang jatuh membasahi wajah Rahman kemudian membasahi ranjang mereka, untung Tuti sudah menjaga-jaga, tadi sore ia sudah memasang karpet karet dalam sprei, ia yakin akan terjadi permainan dashyat malam ini dan sekarang terbukti.

Rahman sangat menyukai cairan memek Shanti, ada bau khas seperti punya Tuti tapi ia tetap berpendapat cairan memek Tuti lebih enak dan lebih asin serta kental dan baunya-pun lebih keras daripada punya perawan ini. Rahman merasa kontolnya sudah tak sabar lagi ingin mencari korban, Tuti ingin mengulumnya tapi ia menghindar, ia tidak akan bertahan lama jika dikulum oleh Tuti dan itu membuat Tuti terkikik kegelian.
�Takut? Hi hi hi�..� Rahman tersenyum kecut dengan brewok yang berlumuran lendir memek Shanti. Ia menarik Tuti agar menggantikan Shanti. Tuti beringsut. Ia berbisik pada Shanti, gadis itu menggeleng.

�Coba saja Shan, enak bukan main. Memang pertama-tama akan perih tapi kamu akan segera merasa enak�.� kata Tuti. Shanti diam dan ia pasrah ketika Tuti pelan-pelan membaringkannya terlentang diatas ranjang yang besar itu. Rahman bangun dan menggumulinya, teteknya dikulum oleh laki-laki itu, tapi remasan Rahman ternyata lembut dan menimbulkan berahi. Padahal tadi Shanti melihat bagaimana laki-laki itu mengulum tetek Tuti, membuat wanita itu meringis. Tapi terhadap dirinya Rahman lembut sekali bahkan Shanti merasa enak sekali teteknya disedot-sedot seperti itu. Lalu ia melihat kebawah dan dilihatnya Tuti merenggangkan pahanya lalu memegang kontol Rahman yang sudah keras seperti kayu. Perlahan-lahan kontol itu turun, tapi sebelum menyentuh memeknya ia melihat Tuti menyelomoti kontol itu sebentar dan itu membuat Rahman menjerit seperti tersentak, wanita itu terkekeh-kekeh senang, lalu Tuti mulai menempelkan kepala kontol Rahman kebibir memek Shanti yang sudah banjir hebat. Pelan-pelan kontol itu mulai masuk sesenti demi sesenti sampai terdengar raungan Shanti.

�Aaakkkhhhhhh�� sakiiitttttt�� uuuuuhhhhhhh mbaaakkkkk�� ampuuuunnnnn�..� Shanti merintih keras ketika kontol Rahman mendesak terus, ia berkelojotan sambil berontak. Lalu ia merasa lega ketika kontol itu diam dan pelan-pelan memompa tapi tidak turun lagi, gadis itu meriang mendapati kenikmatan melandanya dengan pompaan yang diberikan Rahman. Shanti mendesis-desis seperti orang kepedasan. Tuti memainkan itil Shanti membuat Shanti kejang-kejang, lalu Rahman kembali menusuk, kali ini dengan cepat dan keras.

�Aduuuhhhhh�.. ampuuunnnn!!!! Sakiiiittttt!!!! Mati aku mbaakkkk!!!!� teriak Shanti histeris ketika merasakan lubang memeknya seolah-olah robek dan meledak, perih bukan main dan panas merayapi tubuhnya. Matanya terbelalak, keringatnya keluar sebesar butian jagung. Jari-jarinya mencakar punggung Rahman, tapi sang kontol sudah tertanam dalam memek Shanti dan Rahman mulai mengangkat perlahan diiringi jeritan Shanti, gadis itu hendak pingsan, sakit sekali, setiap kali laki-laki itu menusuk atau mencabut dirasakannya kenyerian disekeliling memek dan perutnya.
�Tahan Shan, nanti kamu akan keenakan� bisik Tuti.

Setelah beberapa saat, apa yang dikatakan Tuti ternyata benar. Shanti merintih dan mengerang karena kenikmatan. Rahman merasakan hal yang sama pada kontolnya. Ia merasa kontolnya seperti diremas dan dicengkram oleh gadis itu, Rahman benar-benar merasa beruntung, setua ini ia masih mendapatkan perawan! Rahman menghisapi tetek Shanti bergantian dan ia merasakan pentil kecil itu keras dalam mulutnya. Rahman merasa menang karena ia membuat Shanti menjerit dan berteriak histeris terus menerus tatkala gadis itu mendapatkan orgasmenya, dengan Tuti ia tidak pernah menang, memang dulu pertama kali Tuti menjerit-jerit seolah-olah orgasme tapi akhirnya Rahman tahu itu hanya pura-pura saja, Tuti hanya bisa orgasme kalau memek dan liang anusnya dijilati atau dikocok dengan sesuatu, seperti kontol-kontolan yang bergetar atau dildo karet yang berbuku-buku dan Rahman melarang Tuti memberikan rintihan palsu sewaktu mereka sedang bersetubuh, ia tak ingin kepalsuan dan dengan ksatria ia mengakui tidak dapat mengalahkan Tuti, selalu saja ia yang terjerambab kalah.

�Oommhhh�. aduh mbak, aku nggak sanggup lagi mbaak!� Shanti mengeluh, tubuhnya bersimbah peluh dan ia merasa melayang karena lautan kenikmatan yang terus melandanya. Tuti tidak mau mendengarkannya karena wanita itu juga sedang dilanda nafsu yang luar biasa, ia menyurukkan kepalanya dan menjilati liang anus Rahman lalu beberapa saat jika ingin keluar ia mencabut kontolnya dan Tuti segera menyelomotinya dengan kasar supaya laki-laki itu tidak orgasme lalu Tuti akan menyuruk kememek Shanti dan menjilati cairan yang menggenang bercampur dengan darah perawan gadis itu sampai bersih, ia juga menjilati cairan yang mengalir ke liang anus Shanti, ia menghisap dan menelan cairan itu dengan penuh nafsu, baru Rahman memasukkan kembali kontolnya dan memompa Shanti kembali. Tuti juga mencapai orgasme karena merasa terangsang dengan ulahnya, ia merasa seperti binatang, ia merasa seperti budak yang harus membersihkan semua cairan berahi Rahman dan Shanti dan itu membuatnya sangat terangsang.

Lalu Tuti mengatur posisi Shanti, ia menyuruh gadis itu menungging dan Rahman menyetubuhinya dari belakang, sedangkan Tuti menyurukkan tubuhnya kebawah Shanti dan mengemut itil gadis itu sementara Rahman memompa dengan irama pelan. Kali ini Shanti terbelalak dan gemetaran karena kenikmatan yang datang jauh lebih dashyat daripada tadi. Mulut Shanti keluar erangan, ia merasakan itilnya diputar-putar didalam mulut Tuti dan ia merasakan daging yang menyesakkan liang memeknya seperti membuatnya ingin kencing lagi, ia menjerit-jerit histeris dengan tubuh berkelojotan seperti gadis yang tengah sekarat. Dan Shanti seperti gila membenamkan wajahnya keselangkangan Tuti, lidahnya dengan liar mengorek-ngorek liang memek wanita itu dan menjilati cairan kental yang berlumuran disana. Mulut Shanti terasa asin dan tubuhnya terasa lengket oleh keringat.

�Sudah oom� ampun�. aduh�.. nggak kuat lagi akuuuu!� jerit Shanti dan ia terkulai menindih tubuh Tuti. Rahman mencabut kontolnya dan dari dalam memek Shanti mengalir cairan encer bening banyak sekali. Tuti dengan lahap menjilati cairan itu bahkan Rahman tak segan-segan menjilati liang anus Shanti dengan penuh nafsu. Kontolnya yang keras bagi baja itu masih tegak perkasa menunggu sesuatu yang dapat dipasaknya. Tuti meremas kontol Rahman sambil menghisap memek Shanti. Kemudian Tuti cepat-cepat mencegah Rahman ketika laki-laki itu hendak mengarahkan kontolnya keliang anus Shanti. Rahman sadar dan buru-buru mengurungkan niatnya. Tuti tidak dapat membayangkan bagaimana Shanti menerima tusukan kontol Rahman diliang duburnya, pasti gadis itu akan meraung-raung kesakitan luar biasa.

�Sekarang giliran aku manis�.� desis Tuti. Lalu ia tidur terlentang dan mengangkat kedua kakinya terlipat kewajahnya sehingga memek dan liang anusnya menghadap keatas. Shanti segera menyelomoti liang memek Tuti dengan rakus. Ia mengocok memek Tuti dengan jarinya dan membuat wanita itu berkelojotan, Tuti dapat orgasme bila dengan Shanti karena ia sangat menikmati waktunya dengan gadis itu. Shanti mulai menjilati liang anus Tuti sedangkan wanita itu menyelomoti kontol Rahman. Tuti menyelomoti dengan kasar, ia membiarkan sesekali kontol Rahman mengenai giginya dan Rahman senang karena wanita itu tidak akan membuatnya keluar dengan cepat. Ia tahu keinginan Tuti, ia tahu Tuti ingin dipompa dan Rahman senang sekali. Kontolnya tidak lemas karena ia sangat terangsang melihat keliaran Shanti melumat liang anus Tuti dengan rakus, Rahman sekarang makin bersyukur mendapatkan dua perempuan yang punya nafsu besar, semula ia tidak menyangka gadis muda itu akan mudah didapatkan, ternyata memang Tutilah yang memegang peranan.

�Jilat dalamnya Shan,�. oooh bersihkan� terus�. aduh enak sekali Shan�.. emut terus Shan� desis Tuti, Shanti menusuk-nusukan lidahnya diliang anus wanita itu dan sesekali lidahnya terjepit sampai dalam, kemudian ditusuk-tusukannya dan membuat Tuti tersentak-sentak. Kemudian Shanti melihat Rahman mendekati dan mengarahkan kontolnya. Tapi Shanti kaget ketika kontol Rahman pelan-pelan menusuk keliang anus Tuti. Shanti memandang Tuti, dan wanita itu mengedipkan matanya. Tuti mengejan sedikit dan blup! Kontol Rahman melesak masuk kedalam liang itu. Shanti terpana ketika melihat Rahman mengayun maju mundur memompa liang anus Tuti, pompaan yang berirama dan ada lendir yang keluar bersama pompaan kontol Rahman.

�Shan, jilat Shan�. ooohhh�. terus�. aaakkhhhh�.� Tuti merasa orgasme ketika melihat dengan tanpa merasa jijik Shanti menjilati lendir yang keluar dari liang anusnya dan bahkan Rahman mencabut kontolnya dan Shanti seperti sudah tahu langsung menghisap dan menyelomoti kontol itu. Shanti sama sekali tidak jijik karena kalau itu liang anus Tuti, apapun diminta Tuti ia akan melakukannya karena Shanti sadar bahwa yang dikatakan Tuti selalu benar. Shanti merasakan cairan asin dan berbau tapi ia menikmatinya. Bahkan beberapa kali ia memaksa kontol Rahman dicabut supaya ia bisa menghisap dan membersihkan cairan lengket keputihan itu. Rahman beberapa kali sudah ingin meledak karena berahi yang mencapai puncak tapi untung setiap kali ada Shanti yang membuatnya mengurungkan ledakan laharnya dan ia tersenyum senang pada Tuti, sedangkan Tuti sudah lebih dari dua kali orgasme karena perbuatan Shanti didepan matanya daripada pompaan kontol Rahman di duburnya. Ia menarik Shanti dan memaksa melumat mulut gadis itu, Shanti membuka mulutnya dan membiarkan cairan keputihan yang baru saja dijilat di liang anus Tuti mengalir jatuh kedalam mulut Tuti. Tuti merintih dan menikmati cairan itu, kemudian mereka saling membelit dan melumat. Tuti menggoyang berirama dan membuat Rahman menggerung seperti binatang terluka.

�Aaarrggghhhh�.. gilaaaa!!!!� teriak Rahman.

�Cepat, cepat!� teriak Tuti sambil mendorong Shanti. Seperti sudah mengetahui apa yang harus dilakukannya Shanti segera menyurukkan wajahnya dan sedikit terlambat ketika Rahman memuntahkan pejuhnya didalam anus Tuti tapi laki-laki itu memaksa mencabutnya dan Shanti segera menangkap dengan mulutnya. Rahman memompanya dalam mulut Shanti seperti orang kesetanan dan cairan yang keluar seperti tidak ada habis-habisnya, Shanti kali ini menelan cairan itu, sebagian disekanya dengan tangannya kemudian disodorkan kepada Tuti dan wanita itu menjilat cairan itu dengan lahap. Rahman berkelojotan seperti akan putus nyawanya, mulutnya mengeluarkan suara seperti orang sekarat. Ia benar-benar puas. Shanti menyelomoti kontolnya dengan ahli sekarang. Ia bisa merasakan jalaran lidah gadis itu menyapu permukaan topi bajanya dan keleher kontolnya yang paling peka, membuatnya melayang-layang dalam perasaan aneh yang membuat tubuhnya panas meriang. Setelah agak lama Rahman tumbang diatas ranjang.

�Aku bisa gila�.� desahnya. Rahman memandang Shanti yang sedang menjilati cairan pejuh di anus Tuti, ia bahkan mengorek-ngorek liang anus Tuti dengan lidahnya dan itu membuat Tuti menjerit-jerit kenikmatan dan kegelian, tapi Shanti seperti kesetanan dengan perbuatan joroknya. Shanti tidak perduli apa yang dijilatnya, ia hanya merasa ada sensasi aneh dengan melakukannya, ia merasa hebat dan ia merasa terangsang bukan main dengan apa yang diperbuatnya. Shanti betul-betul pembersih, ia membuat liang memek dan anus Tuti berkilat karena jilatannya. Tak ada setetes-pun lendir disana kecuali bekas jilatan-jilatan lidahnya. Shanti puas dengan pekerjaannya. Ia memandang Tuti dengan penuh cinta ketika wanita itu menurunkan kakinya. Tuti merasa kakinya hendak copot karena pegal dan perutnya keram, tapi ia tersenyum letih pada Shanti. Ia membelai kepala gadis itu kemudian mereka saling melumat dan berpelukan dalam senyap, sementara Rahman dengan mulut ter-nganga mendengkur seperti babi.

�Aku cinta sama mbak� bisik Shanti. Tuti tersenyum lembut.

�Aku juga mencintaimu Shan, kamu segalanya buatku� bisiknya.

�Jangan tinggalkan saya mbak� Tuti menggeleng dalam diam. Tidak akan, pikirnya. Tidak akan pernah! Shanti menyusupkan kepalanya di payudara Tuti dan tidur lelap dalam kelelahan�..

* * * * * * * * * *

�Wah segar sekali kamu kelihatannya?� kata Tuti sambil duduk disamping Shanti. Gadis itu sedang melamun diteras belakang rumah Tuti sambil memandang kolam renang. Shanti terkejut sebentar tapi tersenyum manis. Wajahnya bersih dan segar, rambutnya yang panjang dibiarkan terurai dan pagi itu Shanti benar-benar cantik sekali. Ia memakai daster warna kuning dengan bunga-bunga kecil di bagian dada.

�Wah mbak juga kelihatan cantik sekali!� seru Shanti. Tak lama kemudian seorang wanita tua yang dikenal dengan mbok Iyem menaruh kopi susu dan roti panggang di meja kecil dihadapan mereka.

�Melamunin semalam ya?� bisik Tuti setelah pembantunya pergi. Shanti mencubit perut Tuti, membuat wanita itu tekikik geli.

�Aaahh mbak! Malu nih�.� rengek Shanti. Tuti tertawa lagi.

�Kok malu? Itu biasa kok, semua orang juga pasti melakukannya� kata Tuti sambil menyerahkan kopi susu kepada gadis itu.

�Tapi kan nggak kayak semalam mbak. aku malu dan risih sama mbak�.� kata Shanti, ia menghirup kopi susunya. Tuti tersenyum sambil minum juga.

�Aku kan sudah bilang, buat aku sama sekali nggak apa-apa. Malah aku senang sekali kamu juga merasakan kesenangan denganku� jawab Tuti.

�Tetap aku merasa malu, sebab itu kan suami mbak�

�Jangan berkata seperti itu, yang aku inginkan cuma kebahagiaan dan kesenangan kita berdua Shan. Rahman memang sangat mencintaiku, dan aku juga sangat mencintainya, tapi aku juga sangat mencintaimu, kamu kan tahu itu?�

�Tapiii�.ah pokoknya entah bagaimana aku nanti kata orang. Bersetubuh dengan suami orang dan bersama pula!�

�Ah mana orang yang tahu? Sudahlah, pokoknya aku merasa sangat bahagia� kata Tuti, ia membelai rambut Shanti. �Apakah kamu tidak bahagia?�

�Aku bukan main bahagianya mbak dan aku juga bingung bagaimana aku harus berterima kasih pada semua kebaikan mbak� jawab Shanti.

�Jangan berkata begitu sayang, aku malah takut kamu menjadi marah padaku karena kejadian semalam keperawananmu hilang� kata Tuti sambil memandang Shanti.

�Ah buatku tidak masalah mbak, yang penting enaaakkk�.hi hi hi� Shanti merasa lucu sendiri, ia sama sekali tidak perduli dengan keperawanannya, masa bodo, pikirnya. Aku malah merasa aneh dan sangat ketagihan�

�Masih sakit?� tanya Tuti. Shanti menggeleng.

�Nggak, cuma tadi pagi perih waktu mau kencing. Mbak tidurnya enak sekali ya, tapi kok Oom Rahman udah menghilang sepagi itu?� tanya Shanti.

�Oh itu mah biasa Shan. Bisnisnya terlalu banyak dan seringnya malah jam dua pagi sudah pergi kalau mau keluar negeri� kata Tuti.

�Wah enak dong ya, mbak pasti sudah sering keluar negeri�

�Yah hanya ke Singapura dan Malaysia saja, lainnya belum ada kesempatan� jawab Tuti tertawa �Nanti juga pada saatnya kita akan bisa pergi bersama-sama� lanjutnya.
�Wah tadi pagi mulutku baunya bukan main mbak! Semalam ketiduran padahal belum gosok gigi� kata Shanti sambil cekikikan. Tuti tertawa juga.

�Aku juga! Uekh, aku pengen muntah saja tadi pagi, hi hi hi�.� Tuti membuat wajahnya terlihat lucu. �Tapi sekarang sudah nggak lagi kan?� lanjutnya sambil membuka mulutnya dan mendekatkan pada Shanti. Shanti mencium mulut Tuti dan melumatnya.

�Mmmhhh�. sedaapp�..� desisnya.

�Udah ah, ntar kelihatan sama si mbok bisa pingsan dia melihat kita ciuman begini� kata Tuti. Mereka tertawa.

�Apakah kamu nggak merasa jijik dengan perbuatan kita semalam?� tanya Tuti ingin tahu. Shanti memandangnya sambil menggeleng.

�Entahlah, aku malah kepengen lagi mbak. Padahal tadi pagi aku berpikir betapa menjijikkannya perbuatan kita semalam, tapi mengapa aku merasa aneh dan terangsang setiap kali membayangkannya?� Shanti memang merasa bingung. Tadi pagi ia merasa risih dan malu sekali mendapati dirinya bangun dari tidur dengan tubuh telanjang bulat diatas tubuh Tuti. Dan ia ingin muntah mendapati mulutnya bau sekali, tubuhnya berbercak-bercak putih seperti kerak dan ia yakin itu pejuh atau lendir Tuti atau bahkan miliknya sendiri.

Tapi anehnya ia malah tersenyum waktu itu dan merasa jantungnya berdebar ketika membersihkan kerak-kerak itu dan merasakan kerak itu menjadi lendir kembali sewaktu kena air. Ia malah mencicipinya lagi sambil membayangkan apa yang dilakukannya semalam. Mungkin kalau menurut adat kampung perbuatannya semalam sudah termasuk katagori gila atau perempuan laknat, bersetubuh dengan suami orang, menciumi anus sesama jenis bahkan menjilatinya, oh itu sungguh bisa menimbulkan masalah yang luar biasa besarnya jika diketahui orang tuanya. Untung orang tuanya berada jauh sekali dari sini.

�Heh! Melamun lagi!� seru Tuti.

�Oh eh�ih mbak ngagetin melulu!�

�Mikirin apa lagi?� tanya Tuti.

�Mikirin semalam kok mbak mau saja sih ditusuk di pantat?� tanya Shanti. Tuti mengerling pura-pura marah.

�Kamu ini jorok ya, pagi-pagi sudah ngomong gituan�.�

�Aaaahhh� ayo dong mbak� rengek Shanti. Tuti mencubit pipi gadis itu.

�Ya mau saja, wong buatku enak sekali kok� jawab Tuti.

�Lho? Kan sakit mbak?�

�Ndak lagi, malah aku sering sekali ngecret kalo dientot pantatku� jawab Tuti seenaknya. �Dulu pertama kali memang sakit, tapi lama-lama malah enak, seperti mau berak rasanya. Rasanya mulas sewaktu kontol masuk kedalam sana�

�Astaga! Mbak ih, jorok��

�Enaakk�. kan kamu dulu yang mulaiin ngomong jorok� Tuti tersenyum genit.

�Sekali-kali aku pengen juga dientot disana mbak� kata Shanti tiba-tiba.

�Nanti juga kesampaian, dan kamu bisa ketagihan nanti. Apalagi kalau kita dientot dari depan dan belakang, wah rasanya semua laki-laki jadi budak nafsu kita. Kita bisa mati keenakan Shan!� kata Tuti. Shanti melotot.

�Gila! Masak ditusuk dari depan dan belakang?� Tuti baru mendengarnya lagi.

�Iya, dulu sekali aku pernah dientot 6 laki-laki Shan. Satu menusuk pantatku sambil nungging, sedangkan aku mengentoti kontol laki-laki dibawahku dengan memekku dan mulutku dientot dua kontol, dan dua kontol lagi mengentoti ketekku, wah aku merasa seperti mesin pejuh Shan, mereka semua menyemburkannya dimulutku, dipantatku, di memekku, diketekku, ditetekku, diperut, dikaki, dipaha, diwajah serta dirambutku!� Cerita Tuti kebablasan. Shanti tegang sekali sehingga napasnya memburu. Ia terkejut mendapati Tuti begitu berpengalaman dengan laki-laki.

�Emang dulu mbak�..�

�Ya aku dulu pelacur Shan. Pelacur idaman setiap laki-laki, bukan sombong, tapi penghasilanku dulu besar sekali. Karena aku selalu memuaskan setiap laki-laki dan aku selalu menuruti apa yang mereka inginkan. Kamu akan tahu laki-laki itu punya fantasi yang gila Shan. Mereka kebanyakan membayangkan kita-kita ini seperti binatang peliharaan mereka�..� cerita Tuti lagi. Shanti tegang mendengarkan.

�Dan kebetulan aku juga maniak seks, jadi aku juga merasa enak sekali, nafsu berahiku besar sekali Shan. Dulu aku begitu menghayati pekerjaanku, bayangkan saja, sudah dientot enak dapat uang pula!� lanjut Tuti.

�Mbak hebat sekali! Aku tidak pernah membayangkan mbak jadi pelacur lho!� seru Shanti.
�Sssttt�. pelan-pelan dong, kedengaran orang mati aku!� desis Tuti. Mereka tertawa.
�Tapi ada juga nggak enaknya, tapi umumnya aku puas dengan apa yang kuhasilkan dulu dan sekarang lebih enak lagi. Mendapatkan suami kaya dan gadis cantik seperti kamu yang��.� Tuti menggantung kalimatnya.

�Yang apa?�

�Ah nggak jadi deh�..�

�Aaahhh ayo doongg���

�Yang siap dientot dan mengentot!� bisik Tuti. Shanti menjerit sambil mencubiti Tuti, mereka saling cubit mencubit sambil cekikikan. Tuti memang merasa bersyukur bukan main dengan keadaannya sekarang, tapi Shanti juga sangat bersyukur dengan apa yang didapatnya sekarang. Jadi kurang apa lagi?

�Ehh mbak, nanti malam kalo Oom Rahman pulang kita lakukan hal yang semalam yuukk�?� kata Shanti memecahkan lamunan Tuti.

�Ahh�. kamu masa sih tadi malam belum puas??�

�Aaahhh�. ayo doongg�. mbak khan Shanti mau ngobain dientot lewat anus, seperti mbak semalam?�

�Memangnya kamu udah siap dientot dipantat?? tanya Tuti meragukan perkataan Shanti.�

�Aku khan mau nyobain mbak, abis Shanti lihat semalam mbak sangat keenakkan sihhh�..?�

�Shan apa kamu engga takut sama kontolnya Oom Rahman? Khan kontolnya Oom Rahman besar sekali. Nanti anusmu bisa jebol lohhh�..!!!?� kata Tutu meyakinkan kesungguhan Shanti.

�Engga aku sama sekali engga takut, masa kontol itu di anus mbak bisa masuk di anus Shanti engga bisa??�

�Yaa bisa sihhh�.., tapi pertama-tama musti sedikit dipaksakan, dan lagi waktu pertama kali masuk wahhh�. sakitnya bukan main lohh�?�

�Tapi abis itu enak khan mbak??�

�Iya sih, yaa kurang lebih sama lah waktu kamu kesakitan semalam, malahan bisa lebih sakit ke anus?�

�Pokoknya Shanti mau nyoba, tapi mbak ajarin yaa�.!!!� Shanti memohon ke Tuti.

�Yaa udah bersiaplah nanti malam?�

* * * * * * * * * *

Waktu terus berlalu, akhirnya malam-pun tiba. Shanti dan Tuti keduanya menunggui Rahman di ruang tamu. Mereka duduk-duduk disana sambil makan kue-kue kecil. Akhirnya pada jam 9.20 terdengar suara klakson mobil.

�Shan itu Oom Rahman pulang?� teriak Tuti.

�Ayu mbak kita kedepan membukakan pintu?� kata Shanti sambil beranjak dari duduknya.

Lalu Tuti-pun mengikutinya dari belakang. Setelah Rahman memarkir mobilnya di garasi, Tuti menutup pagar, lalu mereka bertiga masuk kedalam. Ketiganya langsung menuju ke kamar yang sudah disiapkan oleh Tuti.

Sesampainya disana Rahman langsung mencopot pakaiannya, terus ia beranjak ke kamar mandi untuk mandi. Sementara itu Shanti menunggunya dengan hati berdebar-debar. Sambil menunggu Rahman mandi, Tuti menyetel film biru. Shanti semakin terangsang melihat adegan-adegan pada film tersebut. Ia merasakan itilnya berdenyut-denyut, puting susunya mengeras. Melihat perubahan wajah dari gadis tersebut, Tuti yang sangat berpengalaman langsung saja melumat bibir gadis itu. Perlahan-lahan Tuti mulai melepaskan pakaian Shanti. Gadis itu malah ikut membantu mengangkat pantatnya ketika Tuti melepaskan pakaiannya. Lalu setelah ia melepaskan pakaian gadis itu, ia-pun segera melepaskan pakaiannya. Akhirnya mereka berdua telanjang diatas ranjang tanpa mengenakan sehelai benang-pun. Bibir mereka saling melumat, tangan mereka saling meraba bagian-bagian sensitif, sehingga membuat mereka lebih terangsang.

Pada saat rangsangan mereka mencapai puncaknya, tiba-tiba Rahman keluar dari kamar mandi dengan lilitan handuk yang menutupi kemaluannya. Segera saja kedua perempuan tersebut menyambut Rahman, mereka melepaskan handuk yang melilit di pinggangnya, lalu Shanti dengan rakus langsung mengemut kontol laki-laki tersebut. Sementara itu Tuti sibut menjilati buah zakarnya. Lalu Tuti mengajak mereka semua pindah keranjang. Kemudian Rahman mencium belakang telinga Shanti dan lidahnya bermain-main di dalam kupingnya. Hal ini menimbulkan perasaan yang sangat geli, yang menyebabkan badan Shanti mengeliat-geliat. Mulut Rahman berpindah dan melumat bibir Shanti dengan ganas, lidahnya bergerak-gerak menerobos ke dalam mulut gadis itu dan menggelitik-gelitik lidahnya.

�Aaahhh�, hmmm�, hhmmm�, terdengar suara menggumam dari mulut Shanti yang tersumbat oleh mulut Rahman. Mulut Rahman sekarang berpindah dan mulai menjilat-jilat dari dagu Shanti turun ke leher, kepala gadis belia itu tertengadah ke atas dan badan bagian atasnya yang terlanjang melengkung ke depan, ke arah Rahman, payudaranya yang kecil mungil tapi bulat kencang itu, seakan-akan menantang ke arah lelaki setengah baya tersebut.

Laki-laki itu langsung bereaksi, tangan kanannya memegangi bagian bawah payudara gadis tersebut, mulutnya menciumi dan mengisap-isap kedua puting itu secara bergantian. Mulanya buah dada Shanti yang sebelah kanan menjadi sasaran mulutnya. Buah dada Shanti yang kecil mungil itu hampir masuk semuanya ke dalam mulut Rahman yang mulai mengisap-isapnya dengan lahap. Lidahnya bermain-main pada puting buah dada Shanti yang segera bereaksi menjadi keras. Terasa sesak napas Shanti menerima permainan Rahman yang lihai itu. Badan Shanti terasa makin lemas dan dari mulutnya terus terdengar erangan,

�Sssshhh�, ssssshh�, aahhhh�, aaaahhhh�, ssshhhhh�, sssshhhh�, aduh Mbak aku engga kuat, ssshhh�.., enaak�.. Oom�, mulut Rahman terus berpindah-pindah dari buah dada yang kiri, ke yang kanan, mengisap-isap dan menjilat-jilat kedua puting buah dadanya secara bergantian. Badan Shanti benar-benar telah lemas menerima perlakuan ini. Matanya terpejam pasrah dan kedua putingnya telah benar-benar mengeras.

Sementara itu Tuti terus bermain-main di paha Shanti yang mulus itu dan secara perlahan-lahan merambat ke atas dan, tiba-tiba jarinya menyentuh bibir kemaluan Shanti. Segera badan Shanti tersentak dan, �Aaaaaahhhhh�, oooohhhh�.., Mbaaak��.!�, mula-mula hanya ujung jari telunjuk Tuti yang mengelus-elus bibir kemaluannya. Muka Shanti yang ayu terlihat merah merona dengan matanya yang terpejam sayu, sedangkan giginya terlihat menggigit bibir bawahnya yang bergetar.

Kedua tangan Tuti memegang kedua kaki gadis itu, bahkan dengan gemas ia mementangkan kedua belah pahanya lebar-lebar. Matanya benar-benar nanar memandang daerah di sekitar selangkangan Shanti yang telah terbuka itu. Nafas perempuan itu terdengar mendengus-dengus memburu. Shanti merasakan badannya amat lemas serta panas dan perasaannya sendiri mulai diliputi oleh suatu sensasi yang mengila, apalagi melihat tubuh Rahman yang besar berbulu dengan kemaluannya yang hitam, besar yang pada ujung kepalanya membulat mengkilat dengan pangkalnya yang ditumbuhi rambut yang hitam lebat terletak diantara kedua paha yang hitam gempal itu.

Sambil memegang kedua paha Shanti dan merentangkannya lebar-lebar, Tuti membenamkan kepalanya di antara kedua paha Shanti. Mulut dan lidahnya menjilat-jilat penuh nafsu di sekitar kemaluan gadis belia tersebut yang yang masih rapat, tertutup rambut halus dan tipis itu. Shanti hanya bisa memejamkan mata, �Ooohhhhh�, nikmatnya�, ooohhhh!�, Shanti menguman dalam hati, sampai-sampai tubuhnya bergerak menggelinjang-gelinjang kegelian. �Ooooohhhh�, hhhmmm!�, terdengar rintihan halus, memelas keluar dari mulutnya.

�Mbaaakk��, aku tak tahan lagi��.!�, Shanti memelas sambil menggigit bibir.
Sungguh Shanti tidak bisa menahan lagi, dia telah diliputi nafsu birahi, perasaan nikmat yang melanda di sekujur tubuhnya akibat serangan-serangan mematikan yang dilancarkan Tuti dan Rahman yang telah bepengalaman itu. Namun rupanya mereka berdua itu tidak perduli dengan keadaan Shanti yang telah orgasme beberapa kali itu, bahkan mereka terlihat amat senang melihat Shanti mengalami hal itu. Tangannya yang melingkari kedua pantat Shanti, kini dijulurkan ke atas, menjalar melalui perut ke arah dada dan mengelus-elus serta meremas-remas kedua payudara Shanti dengan sangat bernafsu. Menghadapi serangan bertubi-tubi yang dilancarkan Rahman dan Tuti ini, Shanti benar-benar sangat kewalahan dan kamaluannya telah sangat basah kuyup. �Mbaakk��, aaakkhh�, aaaakkkhhhh!�, Shanti mengerang halus, kedua pahanya yang jenjang mulus menjepit kepala Tuti untuk melampiaskan derita birahi yang menyerangnya, dijambaknya rambut Tuti keras-keras. Gadis ayu yang lemah lembut ini benar-benar telah ditaklukan oleh permainan Tuti dan laki-laki setengah baya yang dapat sangat membangkitkan gairahnya.

Tiba-tiba Tuti melepaskan diri, kemudian bangkit di depan Shanti yang masih tertidur di tepi ranjang, ditariknya Shanti dari atas ranjang dan kemudian Rahman disuruhnya duduk ditepi ranjang. Kemudian kedua tangan Tuti menekan bahu Shanti ke bawah, sehingga sekarang posisi Shanti berjongkok di antara kedua kaki berbulu lelaki tersebut dan kepalanya tepat sejajar dengan bagian bawah perutnya. Shanti sudah tahu apa yang diinginkan kedua orang tersebut, namun tanpa sempat berpikir lagi, tangan Rahman telah meraih belakang kepalanya dan dibawa mendekati kontol laki-laki tersebut. Tanpa melawan sedikitpun Shanti memasukkan kepala penis Rahman ke dalam mulutnya sehingga kontol tersebut terjepit di antara kedua bibir mungil Shanti, yang dengan terpaksa dicobanya membuka mulut selebar-lebarnya, Lalu Shanti mulai mengulum alat vital Rahman dalam mulutnya, hingga membuat lelaki itu merem melek keenakan. Benda itu hanya masuk bagian kepala dan sedikit batangnya saja ke dalam mulut Shanti yang kecil, itupun sudah terasa penuh benar. Shanti hampir sesak nafas dibuatnya. Kelihatan ia bekerja keras, menghisap, mengulum serta mempermainkan batang itu keluar masuk ke dalam mulutnya. Terasa benar kepala itu bergetar hebat setiap kali lidah Shanti menyapu kepalanya. Sementara itu Tuti sibuk menjilati buah peler laki-laki tersebut. Kadang lidahnya menyapu anus suaminya itu.

Beberapa saat kemudian Rahman melepaskan diri, ia mengangkat badan Shanti yang terasa sangat ringan itu dan membaringkan di atas ranjang dengan pantat Shanti terletak di tepi ranjang, kaki kiri Shanti diangkatnya agak melebar ke samping, di pinggir pinggang lelaki tersebut. Kemudian Rahman mulai berusaha memasuki tubuh Shanti. Tangan kanan Rahman menggenggam batang penisnya yang besar itu dan kepala penisnya yang membulat itu digesek-gesekkannya pada klitoris dan bibir kemaluan Shanti, hingga Shanti merintih-rintih kenikmatan dan badannya tersentak-sentak. Rahman terus berusaha menekan kontolnya ke dalam kemaluan Shanti yang memang sudah sangat basah itu, akan tetapi sangat sempit untuk ukuran penis Rahman yang besar itu.

Pelahan-lahan kepala penis Rahman itu menerobos masuk membelah bibir kemaluan Shanti. Ketika kepala penis lelaki setengah baya itu menempel pada bibir kemaluannya, Shanti merasa kaget ketika menyadari saluran vaginanya ternyata panas dan basah. Kemudian Rahman memainkan kepala penisnya pada bibir kemaluannya yang menimbulkan suatu perasaan geli yang segera menjalar ke seluruh tubuhnya. Dalam keadaan seperti itu, dengan perlahan Rahman menekan pantatnya kuat-kuat ke depan sehingga pinggulnya menempel ketat pada pinggul Shanti, rambut lebat pada pangkal penis lelaki tersebut mengesek pada kedua paha bagian atas dan bibir kemaluan Shanti yang makin membuatnya kegelian, sedangkan seluruh batang penisnya amblas ke dalam liang vagina Shanti. Dengan tak kuasa menahan diri, dari mulut Shanti terdengar jeritan halus tertahan, �Aduuuh!�, ooooooohh.., aaahh�, disertai badannya yang tertekuk ke atas dan kedua tangan Shanti mencengkeram dengan kuat pinggang Rahman. Perasaan sensasi luar biasa bercampur sedikit pedih menguasai diri Shanti, hingga badannya mengejang beberapa detik.

Melihat keadaan itu, dengan sigap Tuti langsung menuju ke payudara gadis itu. Dikulumnya payudara Shanti yang sebelah kiri dengan mulutnya, lidahnya sibuk menyentik-yentik putingnya yang telah keras dan runcing itu. Sementara tangannya yang kanan sibuk memilin-milin puting susu yang sebelah kiri. Shanti semakin menggeliat. Kemudian Tuti pun berpindah ke puting sebelahnya. Perasaannya campur aduk, antara pedih dan nikmat.

Rahman cukup mengerti keadaan Shanti, ketika dia selesai memasukkan seluruh batang penisnya, dia memberi kesempatan kemaluan Shanti untuk bisa menyesuaikan dengan penisnya yang besar itu. Shanti mulai bisa menguasai dirinya. Beberapa saat kemudian Rahman mulai menggoyangkan pinggulnya, mula-mula perlahan, kemudian makin lama semakin cepat. Seterusnya pinggul lelaki setengah baya itu bergerak dengan kecepatan tinggi diantara kedua paha halus gadis ayu tersebut. Shanti berusaha memegang lengan pria itu, sementara tubuhnya bergetar dan terlonjak dengan hebat akibat dorongan dan tarikan penis lelaki tersebut pada kemaluannya, giginya bergemeletuk dan kepalanya menggeleng-geleng ke kiri kanan di atas ranjang. Shanti mencoba memaksa kelopak matanya yang terasa berat untuk membukanya sebentar dan melihat wajah lelaki itu yang sedang menatapnya, dengan takjub. Shanti berusaha bernafas dan ?.. :� �Oooomm�.., aaaahh�.., ooohh�.., ssshh�, sementara pria tersebut terus menyetubuhinya dengan ganas.

Shanti sungguh tak kuasa untuk tidak merintih setiap kali Rahman menggerakkan tubuhnya, gesekan demi gesekan di dinding liang vaginanya, sungguh membuatnya melayang-layang dalam sensasi kenikmatan yang belum pernah dia alami. Setiap kali Rahman menarik penisnya keluar, Shanti merasa seakan-akan sebagian dari badannya turut terbawa keluar dari tubuhnya dan pada gilirannya Rahman menekan masuk penisnya ke dalam vaginanya, maka clitoris Shanti terjepit pada batang penis lelaki itu dan terdorong masuk kemudian tergesek-gesek dengan batang penis lelaki tersebut yang berurat itu. Hal ini menimbulkan suatu perasaan geli yang dahsyat, yang mengakibatkan seluruh badan Shanti menggeliat dan terlonjak, sampai badannya tertekuk ke atas menahan sensasi kenikmatan yang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata.

Lelaki tersebut terus menyetubuhi Shanti dengan cara itu. Sementara tangannya yang lain tidak dibiarkan menganggur, dengan terus bermain-main pada bagian vagina Tuti dan menarik-narik klitorisnya, sehingga membuatnya menggeliat-geliat menahan nikmat. Shanti bisa melihat bagaimana batang penis yang hitam besar dari lelaki itu keluar masuk ke dalam liang kemaluannya yang sempit. Shanti selalu menahan nafas ketika benda itu menusuk ke dalamnya. Kemaluannya hampir tidak dapat menampung ukuran penis Rahman yang super besar itu. Shanti menghitung-hitung detik-detik yang berlalu, ia berharap lelaki itu segera mencapai klimaksnya, namun harapannya itu tak kunjung terjadi. Ia berusaha menggerakkan pinggulnya, akan tetapi paha, bokong dan kakinya mati rasa. Tapi ia mencoba berusaha membuat lelaki itu segera mencapai klimaks dengan memutar bokongnya, menjepitkan pahanya, akan tetapi Rahman terus menyetubuhinya dan tidak juga mencapai klimaks.

Lalu tiba-tiba Shanti merasakan sesuatu yang aneh di dalam tubuhnya, rasanya seperti ada kekuatan dahsyat pelan-pelan bangkit di dalamnya, perasaan yang tidak diingininya, tidak dikenalnya, keinginan untuk membuat dirinya meledak dalam kenikmatan. Shanti merasa dirinya seperti mulai tenggelam dalam genangan air, dengan gleiser di dalam vaginanya yang siap untuk membuncah setinggi-tingginya. Saat itu dia tahu dengan pasti, ia akan kehilangan kontrol, ia akan mengalami orgasme yang luar biasa dahsyatnya. Jari-jarinya dengan keras mencengkeram sprei ranjang, ia menggigit bibirnya, dan kemudian terdengar erangan panjang keluar dari mulutnya yang mungil, �Ooooh�, ooooooh�, aaaaaahhhhhhhmm�, ssstthh!�. Gadis ayu itu melengkungkan punggungnya, kedua pahanya mengejang serta menjepit dengan kencang, menekuk ibu jari kakinya, membiarkan bokongnya naik-turun berkali-kali, keseluruhan badannya berkelonjotan, menjerit serak dan�.., akhirnya larut dalam orgasme total yang dengan dahsyat melandanya, diikuti dengan suatu kekosongan melanda dirinya dan keseluruhan tubuhnya merasakan lemas seakan-akan seluruh tulangnya copot berantakan. Shanti terkulai lemas tak berdaya di atas ranjang dengan kedua tangannya terentang dan pahanya terkangkang lebar-lebar dimana penis hitam besar Rahman tetap terjepit di dalam liang vaginanya.

Selama proses orgasme yang dialami Shanti ini berlangsung, memberikan suatu kenikmatan yang hebat yang dirasakan oleh Rahman, dimana penisnya yang masih terbenam dan terjepit di dalam liang vagina Shanti dan merasakan suatu sensasi luar biasa, batang penisnya serasa terbungkus dengan keras oleh sesuatu yang lembut licin yang terasa mengurut-urut keseluruhan penisnya, terlebih-lebih pada bagian kepala penisnya setiap terjadi kontraksi pada dinding vagina Shanti, yang diakhiri dengan siraman cairan panas. Perasaan Rahman seakan-akan menggila melihat Shanti yang begitu cantik dan ayu itu tergelatak pasrah tak berdaya di hadapannya dengan kedua paha yang halus mulus terkangkang dan bibir kemaluan yang kemerahan mungil itu menjepit dengan ketat batang penisnya yang hitam besar itu.

Tidak sampai di situ, beberapa menit kemudian Rahman membalik tubuh Shanti yang telah lemas itu hingga sekarang Shanti setengah berdiri tertelungkup di pinggir ranjang dengan kaki terjurai ke lantai, sehingga posisi pantatnya menungging ke arah lelaki tersebut. Kemudian Shanti merasakan Rahman menjilati liang anusnya dari atas dan lidahnya menusuk-nusuk lubang itu dengan ganas. Shanti mengerang, merintih, menjerit histeris karena gelombang orgasme melandanya tanpa ampun membuat perutnya mulas. Payudara Shanti yang menggantung itu tidak didiamkan. Segera saja Tuti tidur dibawah Shanti kemudian menyusu pada payudara gadis itu. Gadis itu semakin merasakan nikmat yang tak terbayangkan.

Rahman melanjutkan kegiatannya itu dan sekarang dia melihat pantat gadis itu dan bagian anus Shanti sudah basah dengan ludahnya, sementara dengan ibu jarinya yang telah basah dengan ludah, mulai ditekan masuk ke dalam lobang anus Shanti dan diputar-putar di sana. Shanti terus mengeliat-geliat dan mendesah.

�Jaaannnggaaann jaaannggaaan� aaaddduuhh� aadduuhhh� saakiitt� saaakiitt�!� akan tetapi Rahman tidak menanggapinya dan terus melanjutkan kegiatannya. Selang sesaat setelah merasa cukup membasahinya, Rahman sambil memegang dengan tangan kiri penisnya yang telah tegang itu, menempatkan kepala penisnya tepat di tengah liang masuk anus Shanti yang telah basah dan licin itu.

Kemudian Rahman membuka belahan pantat Shanti lebar-lebar. �Aaaaduhh, janggaaann! Sakkiiit! Aaammmpuuunnn, aammppuunn! Aagkkh�.., Sakiiittt�. Mbaakkk�.� Rahman mulai mendorong masuk, kemudian ia berhenti dan membiarkan kontol itu terjepit dalam anus Shanti.

�Tahan Shan, nanti kamu akan keenakan� bisik Tuti. Memang pertama-tama sakit, tapi nanti akan enak, tahan yaa�. sayang�.!

Sementara itu Shanti menjerit-jerit dan menggelepar-gelepar kesakitan. Segera saja Tuti beralih ke klitoris gadis itu, lalu diemutnya klitoris gadis itu, sementara tangannya ia gunakan untuk mengocok di vagina Shanti agar rasa sakitnya hilang.

�Aduuuh�� sakkiiiit�� Oomm�.� ketika kontol itu mulai masuk lagi anusnya.

�Tenang sayang nanti juga enggak sakit� jawab Rahman sambil terus melesakkan bagian kontolnya kepalanya sudah seluruhnya masuk ke pantat Shanti .

�Aduuuhh��. sakiiiitt���.� jerit Shanti. Bersamaan dengan itu kontol Rahman amblas dalam lobang anusnya yang sempit.

�Tenang Shan, nanti enak deh.. aku jadi ketagihan sekarang� kata Tuti sambil mengelus rambut kemaluannya dan menggosok klitorisnya.

�Tuuh� kan sudah masuk tuh� enak kan nanti pantatmu juga terbiasa kok kayak pantatku ini� kata Tuti. Shanti diam saja. Ternyata sakit kalo dimasukan melalui anus, pikirnya. Rahman mulai mengocok kontolnya di pantat Shanti.

�Pelan-pelan, Oomm� masih sakit� kata Shanti pada Rahman.

�Iya sayang enaakk� niiihhh� seempiiiitt�� kata Rahman. Tuti yang berada di bawah sibuk menyedot klitorisnya dengan mulutnya dan mengocok liang vaginanya dengan tangannya, sehingga membuat Shanti semakin menggelinjang nikmat. Shanti meronta-ronta, sehingga semakin menambah gairah Rahman untuk terus mengocok di anusnya. Shanti terus menjerit, ketika perlahan seluruh penis hitam besar Rahman masuk ke anusnya. �Aaauuugghh�! Saaakkiiit�.! jerit Shanti ketika Rahman mulai bergerak pelan-pelan keluar masuk anus Shanti. Akhirnya dengan tubuh berkeringat menahan sakit, Shanti terkulai lemas tertelungkup di atas badan Tuti kelelahan.

Secara berirama Rahman menekan dan menarik penisnya dari lobang anus Shanti, dimana setiap kali Rahman menekan ke bawah, penisnya semakin terbenam ke dalam lobang anus gadis itu. Benar-benar sangat menyesakkan melihat penis besar hitam itu keluar masuk di anus Shanti. Terlihat kedua kaki Shanti yang terkangkang itu bergetar-getar lemah setiap kali Rahman menekan masuk penisnya ke dalam lobang anusnya. Dalam kesakitan itu, Shanti telah pasrah menerima perlakuan lelaki tersebut.

Tak lama kemudian mereka bertukar posisi, sekarang Rahman duduk melonjor di ranjang dengan penisnya tetap berada dalam lobang anus Shanti, sehingga badan Shanti tertidur terlentang di atas badan Rahman dengan kedua kakinya terpentang lebar ditarik melebar oleh kedua kaki Rahman dari bawah dan Tuti mengambil posisi di atas Shanti untuk menjilati vaginanya. Tuti mulai mengocok tangannya keluar masuk kemaluan Shanti, yang sekarang semakin basah saja, cairan pelumas yang keluar dari dalam kemaluan Shanti mengalir ke bawah, sehingga membasahi dan melicinkan lobang anusnya, hal ini membuat penis Rahman yang sedang bekerja pada lobang anusnya menjadi licin dan lancar, sehingga dengan perlahan-lahan perasaan sakit yang dirasakan Shanti berangsur-angsur hilang diganti dengan perasaan nikmat yang merambat ke seluruh badannya.

Shanti mulai dapat menikmati penis besar laki-laki tersebut yang sedang menggarap lobang anusnya. Perlahan-lahan perasaan nikmat yang dirasakannya melingkupi segenap kesadarannya, menjalar dengan deras tak terbendung seperti air terjun yang tumpah deras ke dalam danau penampungan, menimbulkan getaran hebat pada seluruh bagian tubuhnya, tak terkendali dan meletup menjadi suatu orgasme yang spektakuler melandanya. Setelah itu badannya terkulai lemas, Shanti terlentang pasrah seakan-akan pingsan dengan kedua matanya terkatup.

Melihat keadaan Shanti itu semakin membangkitkan nafsu Rahman, lelaki tersebut menjadi sangat kasar dan kedua tangan Rahman memegang pinggul Shanti dan lelaki tersebut menarik pinggulnya keras-keras ke belakang dan �Aduuuh� aaauuggghhhh�!� keluh Shanti merasakan seakan-akan anusnya terbelah dua diterobos penis laki-laki itu yang besar itu. Kedua mata Shanti terbelalak, kakinya menggelepar-gelepar dengan kuatnya diikuti badannya yang meliuk-liuk menahan gempuran penis Rahman pada anusnya.

Dengan buasnya Rahman menggerakkan penisnya keatas bawah dengan cepat dan keras, sehingga penisnya keluar masuk pada anus Shanti yang sempit itu. Rahman merasa penisnya seperti dijepit dan dipijit-pijit sedangkan Shanti merasakan penis lelaki tersebut seakan-akan sampai pada dadanya, mengaduk-aduk di dalamnya, di samping itu suatu perasaan yang sangat aneh mulai terasa menjalar dari bagian bawah tubuhnya bersumber dari anusnya, terus ke seluruh badannya terasa sampai pada ujung-ujung jari-jarinya.

Shanti tidak bisa menggambarkan perasaan yang sedang menyelimutinya, akan tetapi badannya kembali serasa mulai melayang-layang dan suatu perasaan nikmat yang tidak dapat dilukiskan terasa menyelimuti seluruh badannya. Hal yang dapat dilakukannya pada saat itu hanya mengerang-erang, �Aaahh� ssshhh ooouusshh!� sampai suatu saat perasaan nikmatnya itu tidak dapat dikendalikan lagi serasa menjalar dan menguasai seluruh tubuhnya dan tiba-tiba meledak membajiri keluar berupa suatu orgasme yang dasyat yang mengakibatkan seluruh tubuhnya bergetar tak terkendali disertai tangannya yang menggapai-gapai seakan-akan orang yang mau tenggelam mencari pegangan. Kedua kakinya berkelejotan. Dari mulut Shanti keluar suatu erangan, �Aaaaduhh� laaagii� laaagiii� oohhhh� ooohhh�� Hal ini berlangsung kurang lebih 20 detik terus menerus.

Bacaan sex top: Cerita Dewasa Keluarga Mamah Berpura-pura Tidur

Sementara itu lelaki itu terus melakukan aktivitasnya, dengan memompa penisnya keluar masuk anus. Tuti yang sedari tadi mengocok kemaluan gadis itu menjadi sangat terangsang melihat ekspresi muka Shanti dan tiba-tiba Tuti merasakan bagian dalam vagina Shanti mulai bergerak-gerak melakukan pijitan-pijitan kuat pada jari-jarinya.

Gerakan kaki Shanti disertai goyangan pinggulnya mendatangkan suatu kenikmatan pada penis lelaki tersebut, terasa seperti diurut-urut dan diputar-putar.

Tiba-tiba Rahman merasakan sesuatu gelombang yang melanda dari di dalam tubuhnya, mencari jalan keluar melalui penisnya yang besar itu, dan terasa suatu ledakan yang tiba-tiba mendorong keluar, sehingga penisnya terasa membengkak seakan-akan mau pecah dan �.. �Aaaduuuh��.!� secara tidak sadar tangannya mencengkram erat badan Shanti dan pinggul Rahman terangkat ke atas, pinggulnya mendorong masuk penis terbenam habis ke dalam lobang anus Shanti, sambil menyemburkan cairan kental panas ke dalam lobang anus gadis itu. Menerima semburan cairan kental panas pada lobang anusnya, Shanti merasakan suatu sensasi yang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata, hanya reaksi badannya yang bergetar-getar dan ekspresi mukanya yang seakan-akan merasakan suatu kengiluan yang tak terbayangkan, diikuti badannya yang tergolek lemas, tanpa dapat bergerak. Shanti terlena oleh kedahsyatan orgasme yang dialami dan diterimanya dari mereka berdua. – Situs dewasa sex online terlengkap, novel sex terupdate, novel sex dewasa, novel xxx terbaru, novel cerita hot, novel cerita bokep, novel cerita porno, novel mesum, novel abg ml, novel tante selingkuh, novel janda hypersex, novel sex terpanas, novel perawan suka bugil.

Cerita Sex / Cerita Dewasa / Cerita Mesum / Cerita Panas / Cerita Porno / Cerita Bokep / Cerita Sex Tante / Cerita Sex ABG / Cerita Sex Janda / Cerita Sex Perawan / Cerita HOT / Kisah Sex / Sex Bergambar / Foto Seks

Cerita Dewasa Ngentot Sama Anak Perawan SMP

Cerita Dewasa Ngentot Sama Anak Perawan SMP – Cerita ngentot terhot, Sebelumnya kisah sex yang pernah saya publish ialah Cerita Dewasa Indo Rayuan Maut Anak KostCerita sex terbaru, cerita seks bergambar, cerita dewasa terupdate, cerita mesum terbaik, cerita ngentot terpopuler, cerita bokep terselubung, cerita xxx terhot, cerita ml abg perawan, cerita porno janda binal | Aku tinggal di Cirebon tapi tempat kerjaku di dekat Indramayu yang berjarak sekitar 45 Km dan kutempuh dengan kendaraan kantor (nyupir sendiri) sekitar 1 jam. Bagi yang tahu daerah ini, pasti akan tahu jalan mana yang kutempuh. Setiap pagi kira-kira jam 06.30 aku sudah meninggalkan rumah melewati route jalan yang sama (cuma satu-satunya yang terdekat) untuk berangkat ke kantor. Pagi hari di daerah ini, seperti biasa terlihat pemandangan anak-anak sekolah entah itu anak SD, SMP ataupun SMU, berjajar di beberapa tempat di sepanjang jalan yang kulalui sambil menunggu angkutan umum yang akan mereka naiki untuk ke sekolah mereka masing-masing.

Cerita Porno 2016 Ngentot Dengan Anak Perawan SMP

cerita dewasa, cerita dewasa 2016, cerita dewasa terbaru, cerita dewasa igo, cerita dewasa igo terbaru, cerita dewasa igo bugil, cerita dewasa igo 2016
Ilustrasi Pemerkosaan Gadis Perawan SMP

Karena angkutan umum sangat terbatas, biasanya mereka melambai-lambaikan tangannya dan mencoba menyetop kendaraan yang lewat untuk mendapatkan tumpangan. Kadang-kadang ada juga kendaraan truk ataupun pick-up yang berhenti dan berbaik hati memberikan tumpangan, sedangkan kendaraan lainnya jarang mau berhenti, karena yang melambai-lambaikan tangannya berkelompok dan berjumlah puluhan.

Suatu hari Senin di bulan Oktober 98, aku keluar dari rumah agak terlambat yaitu jam 06.45 pagi. Kuperhatikan anak-anak sekolah yang biasanya ramai di sepanjang jalan itu mulai agak sepi, mungkin mereka sudah mendapatkan kendaraan ke sekolahnya masing-masing. Saat perjalananku mencapai ujung desa Bedulan (tempat ini pasti dikenal oleh semua orang karena sering terjadi tawuran antar desa sampai saat ini), kulihat ada seorang anak sekolah perempuan yang melambai-lambaikan tangannya.

Setelah kulihat di belakangku tidak ada kendaraan lain, aku mengambil kesimpulan kalau anak sekolah itu berusaha mendapatkan tumpangan dariku dan karena dia seorang diri di sekitar situ maka segera kuhentikan kendaraanku serta kubuka kacanya sambil kutanyakan, “Mau ke mana dik?”. Kulihat anak sekolah itu agak cemas dan segera menjawab pertanyaanku, “Pak boleh saya ikut sampai di SMA——– (edited by Yuri)”, dari tadi kendaraan umum penuh terus dan saya takut terlambat?, dengan wajah yang penuh harap. “Yaa…, OK lah.., naik cepat”, kataku. “Terima kasih paak”, katanya sambil membuka pintu mobilku.

Jarak dari sini sampai di sekolahnya kira-kira 10 Km dan selama perjalanan kuselingi dengan pertanyaan-pertanyaan ringan, sehingga aku tahu kalau dia itu duduk di kelas 3 SMU di——dan bernama War (edited by Yuri). Tinggi badannya kira-kira 155 cm, warna kulitnya bisa dibilang agak hitam bersih dan tidak cantik tapi manis dan menarik untuk dilihat, entah apanya yang menarik, mungkin karena matanya agak sayu.

Tidak terlalu lama, kendaraanku sudah sampai di daerah dan War segera memberikan aba-aba. “Ooom…, sekolah saya ada di depan itu”, katanya sambil jarinya menunjuk satu arah di kanan jalan. Kuhentikan kendaraanku di depan sekolahnya dan sambil menyalamiku War mengucapkan terima kasih. Sambil turun dari mobil, War masih sempat bertanya, “Oom…, besok pagi saya boleh ikut lagi.., nggak Oom, lumayan Oom…, bisa naik mobil bagus ke sekolah dan sekalian menghemat ongkos.., boleh yaa.. Oom?”. Aku tidak segera menjawab pertanyaan itu, tapi kupandangi wajahnya, lalu kujawab, “Boleh boleh saja War ikut Oom, tapi jangan bergerombol ikutnya yaa”.
“Enggak deh Oom, saya cuma sendiri saja kok selama ini”.

Setiap pagi sewaktu aku mencapai desa itu, War sudah ada di pinggir jalan dan melambaikan tangannya untuk menghentikan mobilku. Dalam setiap perjalanan dia makin lama makin banyak bercerita soal keluarganya, kehidupannya di desa, teman-teman sekolahnya dan dia juga sudah punya pacar di sekolahnya. Ketika kutanya apakah pacarnya tidak marah kalau setiap hari naik mobil orang, War bilang tidak apa-apa tapi tanpa ada penjelasan apapun, sepertinya dia enggan menceritakan lebih jauh soal pacarnya. War juga cerita bahwa selama ini dia tidak pernah kemana-mana, kecuali pernah dua kali di ajak pacarnya piknik ke daerah wisata di Kuningan.

Seminggu kemudian di hari Jum’at, waktu War akan naik di mobilku kulihat wajahnya sedih dan matanya bengkak seperti habis menangis dan War duduk tanpa banyak bicara.
Karena penasaran, kusapa dia, “War, habis nangis yaa…, kenapa..? coba War ceritakan.., siapa tahu Oom bisa membantu”. War tetap membisu dan sedikit gelisah. Lama dia diam saja dan aku juga tidak mau mengganggunya dengan pertanyaan-pertanyaan, tetapi kemudian dia berkata, “Oom, saya habis ribut dengan Bapak dan Ibu”, lalu dia diam lagi.
“Kalau War percaya pada Oom, tolong coba ceritakan masalahnya apa, siapa tahu Oom bisa membantu”, kataku tetapi War saja tetap membisu.
Ketika mobilku sudah mendekati sekolahnya, tiba-tiba War berkata, “Oom…, boleh nggak War minta waktu sedikit buat bicara di sini, mumpung masih belum sampai di sekolah”. Mendengar permintaannya itu, segera saja kuhentikan mobilku di pinggir jalan dan kira-kira jaraknya masih 2 Km dari sekolahnya.

“Ada apa War…?”, Kataku. War tetap diam dan sepertinya ada keraguan untuk memulai berbicara.
“Ayoo…, lah War (sebenarnya pengarang penuliskan tiga harus terakhir dari namanya, tapi terpaksa oleh Yuri diganti jadi 3 huruf terdepan), jangan takut atau ragu…, ada apa sebenarnya”, tanyaku lagi.
“Begini…, Oom, kata War”, lalu dia menceritakan bahwa tadi malam dia minta uang kepada orang tuanya untuk membayar uang sekolahnya yang sudah tiga bulan belum dibayar dan hari ini adalah hari terakhir dia harus membayar, karena kalau tidak dia tidak boleh mengikuti ulangan. Orang tuanya ternyata tidak mempunyai uang sama sekali, padahal uang sekolah yang harus dibayar itu sebesar 80 ribu rupiah. Alasan orang tuanya karena panen padi yang diharapkan telah punah karena hujan yang terus menerus. Dan katanya lagi orang tuanya menyuruh dia berhenti sekolah karena tidak mampu lagi untuk membayar uang sekolah dan mau dikimpoikan dengan tetangganya.

Aku tetap diam untuk mendengarkan ceritanya sampai selesai dan karena War juga terus diam, lalu kutanya, “Teruskan ceritamu sampai selesai War”. Dia tidak segera menjawab tapi yang kulihat airmatanya terlihat menggenang dan sambil mengusap air matanya dia berkata, “Oom, sebetulnya masih banyak yang ingin War ceritakan, tapi saya takut nanti Oom terlambat ke kantornya dan War juga harus ke sekolah, serta lanjutnya lagi…, kalau Oom ada waktu dan tidak keberatan, saya ingin pergi dengan Oom supaya saya bisa menceritakan semua masalah pribadi saya”. Setelah diam sejenak, lalu War berkata lagi, “Oom, kalau ada dan tidak keberatan, saya mau pinjam uang Oom 80 ribu untuk membayar uang sekolah dan saya janji akan mengembalikan setelah saya dapat dari orang tua saya”.

Mendengar cerita War walaupun belum seluruhnya, hatiku terasa tersayat dan segera kurogoh dompetku dan kuambilkan uang 200 ribu dan segera kuberikan padanya.
“Lho Oom, kok banyak benar…, saya takut tidak dapat mengembalikannya”, katanya sambil menarik tangannya sebelum uang dari tanganku dipegangnya.

“War.., ambillah…, nggak apa-apa kok, sisanya boleh kamu belikan buku-buku atau apa saja…, saya yakin War membutuhkannya”, dan segera kupegang tangannya sambil meletakkan uang itu ditangannya dan sambil kukatakan, “War.., ini nggak usah kamu beritahukan kepada siapa-siapa, juga jangan kepada orang tuamu…, dan War nggak perlu mengembalikannya”.

Belum selesai kata-kataku, tiba-tiba saja dari tempat duduknya dia maju dan mencium pipi kiriku sambil berkata, “Terima kasih banyak Oom.., Oom.. sudah banyak menolong saya”. Aku jadi sangat terkesiap dan berdebar, bukan karena mendapat ciuman di pipiku, tapi karena tangan kiriku tersentuh buah dadanya yang terasa sangat empuk sehingga tidak terasa penisku menjadi tegang dan sementara War masih mencium pipiku, kugunakan tangan kananku untuk membelai rambutnya dan kucium hidungnya.
“Ayoo…, War…, sudah lama kita di sini, nanti kamu terlambat sekolahnya”.
War tidak menjawab tapi kulihat dikedua matanya masih tergenang air matanya. Ketika sudah sampai di depan sekolahnya sambil membuka pintu mobil, War berkata, “Oom.., terima kasih yaa.. Ooom dan kapan Oom ada waktu untuk mendengar cerita War”.
“Kalau besok gimana..?, kataku.
“Boleh.., oom”, jawabnya cepat.
“Lho…, besok kan masih hari Sabtu dan War kan harus sekolah”, jawabku.
“Sekali-kali mbolos kan nggak apa apa Oom…, hari Sabtu kan pelajarannya tidak begitu padat dan kurang penting”, kata War.
“Oklah…, kalau begitu…, War, kita ketemu besok pagi ditempat biasa kamu menunggu”.

Dalam perjalanan ke kantor setelah War turun, masalah War terasa mengganggu pikiranku sehingga tidak terasa aku sudah sampai di kantor. Sebelum pulang kantor, aku izin untuk tidak masuk besok Sabtu pada Bossku dengan alasan akan mengurus persoalan keluarga di Kuningan. Demikian juga waktu malamnya kukatakan pada istriku kalau aku harus ke Jakarta untuk urusan kantor dan kalau selesainya telat terpaksa harus menginap dan pulang pada hari Minggu.

Besok paginya dengan berbekal 1 stel pakaian yang telah disiapkan oleh Istriku, aku berangkat dan sampai di tempat yang biasa, kulihat War tetap memakai baju seragam sekolahnya. Setelah dia naik ke mobil, kembali kulihat matanya tetap seperti habis menangis.
Lalu kutanya, “War…, habis perang lagi yaa?, soal apa lagi?”.
“Oom, ceritanya nanti saja deh”, katanya agak malas.
“Kita mau kemana Oom?”, Tanyanya.
“Lho…, terserah War saja.., Oom sih ikut saja”.
“Oom…, saya kepingin ke tempat yang agak sepi dan nggak ada orang lain…, jadi kalau-kalau War nangis, nggak ada yang melihatnya kecuali Oom”.
Sambil memutar mobilku kembali ke arah Cirebon, aku berpikir sejenak mau ke tempat mana yang sesuai dengan permintaan War, dan segera teringat kalau di pinggiran kota Cirebon yang ke arah Kuningan ada sebuah lapangan Golf dan Cottage CPN.
Segera saja kukatakan padanya, “War… Tempat yang sesuai dengan keinginanmu itu kayaknya agak susah, tapi…, bagaimana kalau kita ke CPN saja..?”.
“Dimana itu Oom dan tempat apaan?”,tanya War.
Aku jadi agak susah menjelaskannya, tapi kujawab saja, “Tempatnya sih nggak jauh yaitu sedikit di luar Cirebon dan…, begini saja deh.., War.., kita ke sana dulu dan kalau War kurang setuju dengan tempatnya, kita cari tempat lain lagi”.

Setelah sampai di tempat dan mendaftar di receptionist serta memesan minuman ringan serta mengambil kunci kamarnya, segera aku kembali ke mobil dan kutanyakan pada War–“gimana War.., kamu mau disini..?, lihat saja tempatnya sepi (maklum saja masih pagi-pagi. Receptionistnya saja seperti terheran-heran, sepertinya berfikir kok ada tamu pagi-pagi sekali dan nomor mobilnya bukan dari luar kota).

Setelah mobil kuparkir di depan kamar, sebelum turun kutanya dia kembali, “War…, gimana.., mau di sini? atau mau cari tempat lain?”. War tidak segera menjawab pertanyaanku, tapi dia ikut turun dari mobil dan mengikutiku ke arah pintu kamar motel. Segera setelah sampai di dalam, dia langsung duduk di tempat tidur sambil memperhatikan seluruh ruangan. Karena kulihat dia tetap diam saja, aku jadi merasa tidak enak dan segera kudekati dia yang masih tetap duduk di pinggiran tempat tidur dan sambil agak berlutut, kucium keningnya beberapa saat dan tiba-tiba saja War memelukku dan terdengar tangisan lirih sambil terisak-isak. Sambil masih memelukku, kuangkat berdiri dari duduknya dan kuelus-elus rambutnya, sambil kucium pipinya serta kukatakan, “War coba tenangkan dirimu dan ceritakan semua masalah mu pada Oom…, siapa tahu Oom bisa membantumu dalam memecahkan masalahmu itu”. War masih saja memelukku tapi senggukan tangisnya mulai mereda. Beberapa saat kemudian kubimbing dia ke arah tempat tidur dan perlahan kutelentangkan War di tempat tidur dan kurangkulkan tangan kiriku di bahunya dan kupandangi wajahnya, sambil kukatakan, “War cobalah ceritakan masalahmu itu dan biar Oom bisa mengetahui permasalahanmu itu”.

War tetap diam saja dan memejamkan matanya, tapi tak lama kemudian, sambil menyeka air matanya dia membuka matanya dan memandang ke arahku yang jaraknya antara wajahnya dan wajahku sangat dekat sekali.
“Oom…”, katanya seperti akan memulai bercerita, tapi lalu dia diam lagi. “War…”, kataku sambil kucium pipinya dan kuusap-usapkan jari tangan kananku di rambutnya, “cerita lah”.

Lalu War mulai bercerita dan dia menceritakan secara panjang lebar soal kehidupan keluarganya yang miskin, dia anak pertama dari 3 bersaudara, tentang pacarnya di sekolah tapi lain kelas yang sudah 2 tahun pacaran dan sekarang sudah meninggalkan dia karena mendapatkan pacar baru di kelasnya dan dia juga menceritakan kalau orang tuanya sudah menjodohkan dengan tetangganya yang sudah punya istri dan anak, tapi kaya dan rumahnya tidak terlalu jauh dari rumah War dan dia harus segera berhenti dari sekolahnya karena akan dikimpoikan pada bulan Maret akan datang. War katanya kepingin sekolah dulu dan belum pingin kimpoi, apalagi kimpoi dengan orang yang sudah punya Istri dan anak. War punya keinginan mau lari dari rumahnya, tapi tidak tahu mau ke mana. War juga menceritakan bahwa sebetulnya dia masih cinta kepada kawan sekolahnya itu, apalagi dia sudah telanjur pernah tidur bersama sewaktu piknik ke Kuningan dulu, walaupun katanya dia tidak yakin kalau punya pacarnya itu sudah masuk ke vaginanya apa belum, karena belum apa-apa sudah keluar katanya.

“Jadi…, gimana.., Oom.., apa yang harus saya perbuat dengan masalah ini, katanya setelah menyelesaikan ceritanya.
“War”, kataku sambil kembali kuelus-elus rambutnya dan kucium pipinya di dekat bibirnya.
“War…, masalahmu kok begitu rumit, terutama persoalan lamaran tetanggamu itu. Begini saja War…, sebaiknya kamu minta kepada orangtuamu untuk menunda perkimpoian itu sampai kamu selesai sekolah. Bilang saja…, kalau ujian SMA-mu hanya tinggal beberapa bulan lagi”.

“Katakan lagi…, sayang kalau biaya yang telah dikeluarkan selama hampir tiga tahun di SMA harus hilang percuma tanpa mendapatkan Ijasah. War…, sewaktu kamu mengatakan ini semua, jangan pakai emosi, katakan dengan lemah lembut, mudah-mudahan saja orang tuamu mau mengerti dan mengundurkan perjodohanmu dengan tetanggamu itu”.
“Kalau orang tuamu setuju, jadi kamu bisa konsentrasi untuk menyelesaikan sekolahmu dan yang lainnya bisa dipikirkan kemudian”.
Setelah selesai memberikan saran ini, lalu kembali kucium pipinya seraya kutanya…, “War…, bagaimana pendapatmu dengan saran Oom ini?”.
Seraya saja War bangkit dari tidurnya dan memelukku erat-erat sambil menciumi pipiku dan berkata, “Ooom…, terima kasih.., atas saran Oom ini…, belum terpikir oleh saya sebelumnya hal ini…, Oom sangat baik terhadap War entah bagaimana caranya saya membalas kebaikan Oom”, dan terasa air matanya menetes di pipiku.

Setelah diam sesaat, kembali kurebahkan badan War telentang dan kulihat dari matanya yang tertutup itu sisa air matanya dan segera kucium kedua matanya dan sedikit demi sedikit cimmanku kuturunkan ke hidungnya dan terus turun ke pipi kirinya, setelah itu kugeser ciumanku mendekati bibirnya. Karena War masih tetap diam dan tidak menolak, keberanianku semakin bertambah dan secara perlahan-lahan kugeser ciumanku ke arah bibirnya, dan tiba-tiba saja War menerkam dan memelukku serta mencari bibirku dengan matanya yang masih tertutup. Aku berciuman cukup lama dan sesekali lidahku kujulurkan ke dalam mulutnya dan War mengisapnya. Sambil tetap berciuman, kurebahkan badannya lagi dan tangan kananku segera kuletakkan tepat di atas buah dadanya yang terasa sangat kenyal dan sedikit kuremas. Karena tidak ada reaksi yang berlebihan serta War bukan saja mencium bibirku tapi seluruh wajahku, maka satu persatu kancing baju SMU-nya berhasil kulepas dan ketika kusingkap bajunya, tersembul dua bukit yang halus tertutup BH putih tipis dan ukurannya tidak terlalu besar.

Ketika kucoba membuka baju sekolahnya dari tangan kanannya, War kelihatannya tetap diam dan malah membantu dengan membengkokkan tangannya. Setelah berhasil melepas baju dari tangan kanannya, segera kucari kaitan BH-nya di belakang dan dengan mudah kutemukan serta kulepaskan kaitannya, sementara itu kami masih tetap berciuman, kadang dibibir dan sesekali di seluruh wajah bergantian. BH-nya pun dengan mudah kulepas dari tangan kanannya dan ketika kusingkap BH-nya, tersembul buah dada War yang ukurannya tidak terlalu besar tapi menantang dan dengan puting susunya berwarna kecoklatan.

Dan dengan tidak sabar dan sambil meremas pelan payudara kanannya, kuturunkan wajahku menyelusuri leher dan terus ke bawah dan sesampainya di payudaranya, kujilati payudara War yang menantang itu dan sesekali kuhisap puting susunya, sementara War meremas-remas rambutku seraya terdengar suara lirih, “aahh…, aahh…, ooomm…, ssshh…, aahh”. Aku paling tidak tahan kalau mendengar suara lirih seperti ini, serta merta penisku semakin tegang dan kugunakan kesempatan ini sambil tetap menjilati dan menghisap payudara War, kugunakan tangan kananku untuk menelusuri bagian bawah badan War

Ketika sampai di celana dalamnya serta kuelus-elus vaginanya, terasa sekali ada bagian CD yang basah. Sambil masih tetap menjilati payudara War, kugunakan jari tanganku menyusup masuk dari samping CD-nya untuk mencari bibir vaginanya dan ketika dapat dan kuelus, badan War terasa menggelinjang dan membukakan kakinya serta kembali terdengar, “aahh…, ssshh…, ssshh…, aahh”. Aku jadi semakin penasaran saja mendengar suara War mengerang lirih seperti itu. Segera kulepas tanganku yang ada di vaginanya dan sekarang kugunakan untuk mencari kancing atau apapun yang ada di Rok sekolahnya untuk segera kulepas. Untung saja rok sekolah yang dipakai adalah rok standard yaitu ada kaitan sekaligus ritsluiting, sehingga dengan mudah kutemukan dan kubuka kaitan dan ritsluitingnya, sehingga roknya menjadi longgar di badan War.

Lalu perlahan-lahan kuturunkan badanku serta ciumanku menelusuri perut War seraya tanganku berusaha menurunkan roknya. Roknya yang sudah longgar itu dengan mudah kuturunkan ke arah kakinya dan kuperhatikan War mengenakan CD warna merah muda dan kulihat juga vaginanya yang menggunung di dalam CD-nya.

Badan War menggelinjang saat ciumanku menelusuri perut dan pada saat ciumanku mencapai CD di atas gunungan vaginanya, gelinjang badan War semakin keras dan pantatnya seakan diangkat serta tetap kudengar suaranya yang lirih sambil meremas-remas rambutku agak keras serta sesekali memanggil, “ssshh…, aahh…, ssshht…, ooom…, aahh”. Sambil kujilati lipatan pahanya, kuturunkan CD-nya perlahan-lahan dan setelah setengahnya terbuka, kuperhatikan vagina War masih belum banyak ditumbuhi bulu sehingga terlihat jelas belahan vaginanya dan basah.

Setelah berhasil melepas CD-nya dari kedua kaki War yang masih menjulur di lantai, kuposisikan badanku diantara kedua paha War sambil merenggangkan kedua pahanya. Dengan pelan-pelan kujulurkan lidahku dan kujilati belahan vaginanya yang agak terbuka akibat pahanya kubuka agak lebar. Bersamaan dengan jilatanku itu, tiba-tiba War bangun dari tidurnya dan berkata, “Jaa…, ngaan…, Ooom”, sambil mencoba mengangkat kepalaku dengan kedua tangannya.

Karena takut War akan marah, maka dengan terpaksa aku bangkit dan kupeluk War serta berusaha menidurkannya lagi sambil kucium bibirnya untuk menenangkan dirinya. War tidak memberikan komentar apa-apa, tapi kami kembali berciuman dan War sepertinya lebih bernafsu dari sebelumnya dan lebih agresif menciumi seluruh wajahku. Sementara itu tanganku kugunakan untuk melepas baju dan BH War yang sebelah dan yang tadi belum sempat kulepas, War sepertinya mendiamkan saja, malah sepertinya membantuku dengan memiringkan badannya agar bajunya mudah kulepas. Sambil tetap berciuman, sekarang aku berusaha untuk melepas baju dan celanaku sendiri.

Setelah aku berhasil melepas semua pakaianku termasuk CD-ku, lalu dengan harap-harap cemas karena aku takut War akan menolaknya, aku menempatkan diriku yang tadinya selalu di samping kiri atau kanan badan War, sekarang aku naik di atas badan War. Perkiraanku ternyata salah, setelah aku ada di atas badan War, ternyata dia malah memelukkan kedua tangannya di punggungku sambil sesekali menekan-nekan. Dalam posisi begini, terasa penisku agak sakit karena tertindih di antara badanku dan paha War. Karena tidak tahan, segera kuangkat kaki kananku untuk mencari posisi yang nikmat, tapi bersamaan dengan kakiku terangkat, kurasakan War malah merenggangkan kedua kakinya agak lebar, tentu saja kesempatan ini tidak kusia-siakan, segera saja kutaruh kedua kakiku di bagian tengah kedua kakinya yang dilebarkan itu dan sekarang terasa penisku berada di atas vagina War. War masih memelukkan kedua tangannya di punggungku dan meciumi seluruh wajahku.

Sambil masih tetap kujilat dan ciumi seluruh wajahnya, kuturunkan tanganku ke bawah dan sedikit kumiringkan badanku, perlahan-lahan kuelus vagina War yang menggembung dan setelah beberapa saat lalu kupegang bibir vaginanya dengan jariku dan kurasakan kedua tangan War serasa mencekeram di punggungku dan ketika jari tengahku kugunakan untuk mengelus bagian dalam vaginanya, terasa vagina War sangat basah dan kurasakan badan bawah War bergerak perlahan-lahan sepertinya mengikuti gerakan jari tanganku yang sedang mengelus dan meraba bagian dalam vaginanya dan sesekali kupermainkan clitorisnya dengan jari-jariku sehingga War sering berdesis, “Ssshh…, ssshh…, aahh…, ssshh”, sambil kurasakan jari kedua tangannya menusuk punggungku.

Setelah sekian lama kupernainkan vaginanya dengan jariku, kemudian kulepaskan jariku dari vagina War dan kugunakan tangan kananku untuk memegang penisku serta segera saja penisku kuarahkan ke vagina War sambil kugosok-gosokan ke atas dan ke bawah sepanjang bagian dalam vagina War, serta kembali kudengar desis suaranya, “ssshh…, ssshh…, ooom…, aahh…, ssshh”, dan pantatnya diangkat naik turun pelan-pelan. Karena kulihat War sudah sangat terangsang nafsunya, segera saja kuhentikan gerakan tanganku dan kutujukan penisku ke arah bawah bagian vaginanya dan setelah kurasa pas, segera kulepaskan tanganku dan kutekan pelan-pelan penisku k edalam vagina War.

Kuperhatikan wajah War agak mengerenyit seperti menahan rasa sakit serta menghentikan gerakan pantatnya serta bersuara pelan tepat di dekat telingaku, “Aduuuhh…, ooomm…, Jangaannn…, sakiiittt…, Asiihh.., takuuut., Oom”. Mendengar suaranya yang sedikit menghiba itu, segera kuhentikan tusukan penisku dan kuelus-elus dahinya sambil kucium telinganya serta kubisikan, “Tidak…, apa-apa…, sayaang…, Oom…, pelan-pelan saja…, kok”, untuk menenangkan ketakutan War. War tidak segera menanggapi kata-kataku dan tetap diam saja dengan tetap masih memelukkan kedua tangannya di punggungku.

Karena dia diam saja dan memejamkan kedua matanya, segera secara perlahan-lahan, kutusukan kembali penisku ke dalam vaginanya dan terdengar lagi War berkata lirih di dekat telingaku, “Aduuuhh…, sakiiittt…, ooom…, Asihh.., takuuut”, padahal kurasakan kalau War mulai lagi menggerakkan pantatnya perlahan-lahan.

Mendengar kata-katanya yang lirih ini, kembali kuhentikan tusukan penisku tapi masih tetap ditempatnya yaitu di lubang vaginanya, dan kembali kuciumi bibir dan wajahnya serta kuelus-elus rambutnya sambil kubisiki, “Takut apa sayang..”. War tidak segera menjawab pertanyaanku itu. Sambil menunggu jawabannya, kuteruskan ciumanku di bibirnya dan War mulai lagi melayani ciumanku itu dengan memainkan lidahku yang kujulurkan ke dalam mulutnya dan kurasakan War mulai memindahkan kedua tangannya dari punggung ke atas pantatku. Aku tetap bersabar menunggu dan tidak terburu-buru untuk menusukkan penisku lagi. Tetap dengan masih menghisap lidahku, kurasakan kedua tangan War sedikit menekan pantatku, entah perintah supaya aku menusukkan penisku ke vaginanya atau hanya perasaanku saja.

Sementara aku diamkan saja dan dengan masih berciuman, kutunggu reaksi War selanjutnya. Ketika ciumanku kualihkan ke daerah dekat telinganya, kulihat War berusaha mengelak mungkin karena kegelian dan kembali kurasakan kedua tangannya seperti menekan pantatku. Lalu kembali kulumat bibirnya dan perlahan tapi pasti, kembali kutekan penisku ke dalam liang kewanitaannya, tapi War tidak kuberi kesempatan untuk berkata-kata karena mulutnya kusumpal dengan mulutku dan penisku makin kutekankan ke dalam vaginanya serta kulihat mata War menutup rapat-rapat seperti menahan sakit.

Karena penisku belum juga menembus vaginanya, lalu sedikit kuangkat pantatku dan kembali kutusukkan ke dalam vagina War dan, “Bleeesss”, terasa penisku sepertinya sudah menembus vagina War dan, “aahh…, sakiiit…, ooom

Ketika sampai di celana dalamnya serta kuelus-elus vaginanya, terasa sekali ada bagian CD yang basah. Sambil masih tetap menjilati payudara War, kugunakan jari tanganku menyusup masuk dari samping CD-nya untuk mencari bibir vaginanya dan ketika dapat dan kuelus, badan War terasa menggelinjang dan membukakan kakinya serta kembali terdengar, “aahh…, ssshh…, ssshh…, aahh”. Aku jadi semakin penasaran saja mendengar suara War mengerang lirih seperti itu. Segera kulepas tanganku yang ada di vaginanya dan sekarang kugunakan untuk mencari kancing atau apapun yang ada di Rok sekolahnya untuk segera kulepas. Untung saja rok sekolah yang dipakai adalah rok standard yaitu ada kaitan sekaligus ritsluiting, sehingga dengan mudah kutemukan dan kubuka kaitan dan ritsluitingnya, sehingga roknya menjadi longgar di badan War.

Lalu perlahan-lahan kuturunkan badanku serta ciumanku menelusuri perut War seraya tanganku berusaha menurunkan roknya. Roknya yang sudah longgar itu dengan mudah kuturunkan ke arah kakinya dan kuperhatikan War mengenakan CD warna merah muda dan kulihat juga vaginanya yang menggunung di dalam CD-nya.

Badan War menggelinjang saat ciumanku menelusuri perut dan pada saat ciumanku mencapai CD di atas gunungan vaginanya, gelinjang badan War semakin keras dan pantatnya seakan diangkat serta tetap kudengar suaranya yang lirih sambil meremas-remas rambutku agak keras serta sesekali memanggil, “ssshh…, aahh…, ssshht…, ooom…, aahh”. Sambil kujilati lipatan pahanya, kuturunkan CD-nya perlahan-lahan dan setelah setengahnya terbuka, kuperhatikan vagina War masih belum banyak ditumbuhi bulu sehingga terlihat jelas belahan vaginanya dan basah.

Setelah berhasil melepas CD-nya dari kedua kaki War yang masih menjulur di lantai, kuposisikan badanku diantara kedua paha War sambil merenggangkan kedua pahanya. Dengan pelan-pelan kujulurkan lidahku dan kujilati belahan vaginanya yang agak terbuka akibat pahanya kubuka agak lebar. Bersamaan dengan jilatanku itu, tiba-tiba War bangun dari tidurnya dan berkata, “Jaa…, ngaan…, Ooom”, sambil mencoba mengangkat kepalaku dengan kedua tangannya.

Karena takut War akan marah, maka dengan terpaksa aku bangkit dan kupeluk War serta berusaha menidurkannya lagi sambil kucium bibirnya untuk menenangkan dirinya. War tidak memberikan komentar apa-apa, tapi kami kembali berciuman dan War sepertinya lebih bernafsu dari sebelumnya dan lebih agresif menciumi seluruh wajahku. Sementara itu tanganku kugunakan untuk melepas baju dan BH War yang sebelah dan yang tadi belum sempat kulepas, War sepertinya mendiamkan saja, malah sepertinya membantuku dengan memiringkan badannya agar bajunya mudah kulepas. Sambil tetap berciuman, sekarang aku berusaha untuk melepas baju dan celanaku sendiri.

Setelah aku berhasil melepas semua pakaianku termasuk CD-ku, lalu dengan harap-harap cemas karena aku takut War akan menolaknya, aku menempatkan diriku yang tadinya selalu di samping kiri atau kanan badan War, sekarang aku naik di atas badan War. Perkiraanku ternyata salah, setelah aku ada di atas badan War, ternyata dia malah memelukkan kedua tangannya di punggungku sambil sesekali menekan-nekan. Dalam posisi begini, terasa penisku agak sakit karena tertindih di antara badanku dan paha War. Karena tidak tahan, segera kuangkat kaki kananku untuk mencari posisi yang nikmat, tapi bersamaan dengan kakiku terangkat, kurasakan War malah merenggangkan kedua kakinya agak lebar, tentu saja kesempatan ini tidak kusia-siakan, segera saja kutaruh kedua kakiku di bagian tengah kedua kakinya yang dilebarkan itu dan sekarang terasa penisku berada di atas vagina War. War masih memelukkan kedua tangannya di punggungku dan meciumi seluruh wajahku.

Sambil masih tetap kujilat dan ciumi seluruh wajahnya, kuturunkan tanganku ke bawah dan sedikit kumiringkan badanku, perlahan-lahan kuelus vagina War yang menggembung dan setelah beberapa saat lalu kupegang bibir vaginanya dengan jariku dan kurasakan kedua tangan War serasa mencekeram di punggungku dan ketika jari tengahku kugunakan untuk mengelus bagian dalam vaginanya, terasa vagina War sangat basah dan kurasakan badan bawah War bergerak perlahan-lahan sepertinya mengikuti gerakan jari tanganku yang sedang mengelus dan meraba bagian dalam vaginanya dan sesekali kupermainkan clitorisnya dengan jari-jariku sehingga War sering berdesis, “Ssshh…, ssshh…, aahh…, ssshh”, sambil kurasakan jari kedua tangannya menusuk punggungku.

Setelah sekian lama kupernainkan vaginanya dengan jariku, kemudian kulepaskan jariku dari vagina War dan kugunakan tangan kananku untuk memegang penisku serta segera saja penisku kuarahkan ke vagina War sambil kugosok-gosokan ke atas dan ke bawah sepanjang bagian dalam vagina War, serta kembali kudengar desis suaranya, “ssshh…, ssshh…, ooom…, aahh…, ssshh”, dan pantatnya diangkat naik turun pelan-pelan. Karena kulihat War sudah sangat terangsang nafsunya, segera saja kuhentikan gerakan tanganku dan kutujukan penisku ke arah bawah bagian vaginanya dan setelah kurasa pas, segera kulepaskan tanganku dan kutekan pelan-pelan penisku k edalam vagina War.

Kuperhatikan wajah War agak mengerenyit seperti menahan rasa sakit serta menghentikan gerakan pantatnya serta bersuara pelan tepat di dekat telingaku, “Aduuuhh…, ooomm…, Jangaannn…, sakiiittt…, Asiihh.., takuuut., Oom”. Mendengar suaranya yang sedikit menghiba itu, segera kuhentikan tusukan penisku dan kuelus-elus dahinya sambil kucium telinganya serta kubisikan, “Tidak…, apa-apa…, sayaang…, Oom…, pelan-pelan saja…, kok”, untuk menenangkan ketakutan War. War tidak segera menanggapi kata-kataku dan tetap diam saja dengan tetap masih memelukkan kedua tangannya di punggungku.

Karena dia diam saja dan memejamkan kedua matanya, segera secara perlahan-lahan, kutusukan kembali penisku ke dalam vaginanya dan terdengar lagi War berkata lirih di dekat telingaku, “Aduuuhh…, sakiiittt…, ooom…, Asihh.., takuuut”, padahal kurasakan kalau War mulai lagi menggerakkan pantatnya perlahan-lahan.

Mendengar kata-katanya yang lirih ini, kembali kuhentikan tusukan penisku tapi masih tetap ditempatnya yaitu di lubang vaginanya, dan kembali kuciumi bibir dan wajahnya serta kuelus-elus rambutnya sambil kubisiki, “Takut apa sayang..”. War tidak segera menjawab pertanyaanku itu. Sambil menunggu jawabannya, kuteruskan ciumanku di bibirnya dan War mulai lagi melayani ciumanku itu dengan memainkan lidahku yang kujulurkan ke dalam mulutnya dan kurasakan War mulai memindahkan kedua tangannya dari punggung ke atas pantatku. Aku tetap bersabar menunggu dan tidak terburu-buru untuk menusukkan penisku lagi. Tetap dengan masih menghisap lidahku, kurasakan kedua tangan War sedikit menekan pantatku, entah perintah supaya aku menusukkan penisku ke vaginanya atau hanya perasaanku saja.

Sementara aku diamkan saja dan dengan masih berciuman, kutunggu reaksi War selanjutnya. Ketika ciumanku kualihkan ke daerah dekat telinganya, kulihat War berusaha mengelak mungkin karena kegelian dan kembali kurasakan kedua tangannya seperti menekan pantatku. Lalu kembali kulumat bibirnya dan perlahan tapi pasti, kembali kutekan penisku ke dalam liang kewanitaannya, tapi War tidak kuberi kesempatan untuk berkata-kata karena mulutnya kusumpal dengan mulutku dan penisku makin kutekankan ke dalam vaginanya serta kulihat mata War menutup rapat-rapat seperti menahan sakit.

Karena penisku belum juga menembus vaginanya, lalu sedikit kuangkat pantatku dan kembali kutusukkan ke dalam vagina War dan, “Bleeesss”, terasa penisku sepertinya sudah menembus vagina War dan, “aahh…, sakiiit…, ooom�.”, kudengar suara War sambil seperti menahan rasa sakit dan berusaha menarik pantatku. Untuk sementara tidak kugerakkan pantatku dan setelah kulihat War mulai tenang dan kembali mau menciumi wajahku, lalu perlahan-lahan kutekan penisku yang sudah menembus vaginanya supaya masuk lebih dalam lagi

“aahh…, oom…, pelan…, pelaan..”, kudengar War berkata lirih.
“Iyaa…, sayaang…, ooom pelah-pelan”, jawabku serta kubelai rambutnya. Setelah kudiamkan sebentar, lalu kugerakkan pantatku naik turun sangat pelan agar War tidak merasa kesakitan, dan ternyata berhasil, wajah War keperhatikan tidak tegang lagi sehingga pergerakan penisku keluar masuk vagina War sedikit kupercepat dan belum berapa lama terdengar suara War, “ooom…, ooom…, aaduuuhh…, ooomm…, aahh”, sambil kedua tangannya mencengkeram punggungku dengan kuat dan menciumi keseluruhan wajahku dengan sangat bernafsu dan badannya berkeringat, lalu War berteriak agak keras, “aahh…, ooomm…, aduuuhh..”, lalu War terkapar dan terdiam lemas dengan nafas terengah-engah. Rupanya Aku yakin kalau War sudah mencapai orgasmenya padahal nafsuku baru saja akan naik. Karena kulihat War sepertinya sedang kelelahan dengan kedua matanya tertutup rapat, jadi timbul rasa kasihanku, lalu sambil kuseka keringat wajahnya kuciumi pipi dan bibirnya dengan lembut, tapi War tidak bereaksi dan tanpa kuduga di gigitnya bibirku yang sedang menciumnya seraya berkata lirih, “ooom…, nakal…, yaa, War baru sekali ini merasakan hal seperti tadi”, sambil mencubit punggungku. Aku tidak menjawab komentarnya tapi yang kuperhatikan adalah nafasnya sudah mulai teratur dan secara perlahan-lahan aku mulai menggerakkan penisku lagi keluar masuk vagina War.

Kuperhatikan War mulai terangsang lagi, War mulai menghisap bibirku dan mulai mencoba menggerakkan pantatnya pelan-pelan dan gerakannya ini membuat penisku seperti di pelintir keenakan. Gerakan penisku keluar masuk semakin kupercepat dan demikian juga War mulai makin berani mempercepat gerakan putaran pantatnya, sambil sesekali kedua tangannya yang dipelukkan dipinggangku berusaha menekan sepertinya menyuruhku untuk memasukkan penisku ke dalam vaginanya lebih dalam lagi dan kudengar War mulai bersuara lagi…, “aahh…, aahh…, ooohh…, oomm…, aah”, dan tidak terasa akupun mulai berkicau, “aacchh…, aahh…, Siiihh…, enaakk…, teruuus…, Siiih”. Ketika nafsuku sudah mulai memuncak dan kudengar juga nafas War semakin cepat, dengan perlahan-lahan kupeluk badan War dan segera kubalik badannya sehingga sekarang War sudah berada di atasku dan kupelukkan kedua tanganku di pantatnya, sedangkan wajah War ditempelkan di wajahku.

 Bacaan sex top: Cerita Dewasa Terbaru 4 Wanita Lawan 1 Pria

Dengan sedikit makan tenaga, kucoba menggerakkan pantatku naik turun dan setiap kali pantatku naik, kugunakan kedua tanganku menekan pantat War ke bawah dan bisa kurasakan kalau penisku masuk lebih dalam di vagina War, sehingga setiap kali kudengar suaranya sedikit keras, “aahh…, oooh”. Dan mungkin karena keenakan, sekarang gerakan War malah lebih berani dengan menggerakkan pantatnya naik turun sehingga kedua tanganku tidak perlu menekannya lagi dan setiap kali pantatnya menekan ke bawah sehingga penisku serasa masuk semuanya di vagina War, kudengar dia bersuara keenakan, “Aahh…, aah disertai nafasnya yang semakin cepat, demikian juga aku sambil berusaha menahan agar maniku tidak segera keluar.

Gerakan War semakin cepat saja dan kurasakan wajahnya semakin ditekankan ke wajahku sehingga kudengar nafasnya yang sangat cepat itu di dekat telingaku dan, “Aduuuh…, aahh…, aahh…, ooomm.., War…, mauuu.., keluaar…, aah”.
“Tungguuu…, Waarrr.., kitaa…, samaa…, samaa., ooom.., Jugaa.., mauuu…, keluarr”.
“aahh…, aahh…, ooomm”, teriak War sambil mengerakkan pantatnya menggila dan akupun karena sudah tidak tahan menahan maniku dari tadi segera kegerakkan pantatku lebih cepat dan, “Crreeettt…, ccrreeett…, ccccrrreeett…, dan “aahh…, siiihh…, ooom keluaar”, sambil kutekan pantat War kuat-kuat.

Setelah beristirahat sebentar, kuajak War ke kamar mandi untuk membersihkan badan dan War kembali menjatuhkan badannya di tempat tidur, mungkin masih merasakan kelelahan. Tak terasa jam sudah menunjukkan hampir jam 12 siang dan segera saja kupesan makan siang. – Situs dewasa sex online terlengkap, novel sex terupdate, novel sex dewasa, novel xxx terbaru, novel cerita hot, novel cerita bokep, novel cerita porno, novel mesum, novel abg ml, novel tante selingkuh, novel janda hypersex, novel sex terpanas, novel perawan suka bugil.

Cerita Sex / Cerita Dewasa / Cerita Mesum / Cerita Panas / Cerita Porno / Cerita Bokep / Cerita Sex Tante / Cerita Sex ABG / Cerita Sex Janda / Cerita Sex Perawan / Cerita HOT / Kisah Sex / Sex Bergambar / Foto Seks

Novel Cerita Hot SEX 2018 Kuambil Selaput Dara Kasihmu

Cerita Bokep Mesum, Cerita Dewasa Bergambar, Cerita Dewasa Sex Terbaru, Cerita Dewasa Terbaru, Cerita Mesum Bergambar, Cerita Mesum Terbaru, Cerita Ngentot, Cerita Ngentot Hot, Cerita Ngewe Panas, Cerita Pemerkosaan Perawan, Cerita Seks Bergambar, Cerita Seks Terbaru, Cerita Sex Tante, Cerita XXX Terbaru, Kumpulan Cerita Seks Terbaru 2018, Situs Cerita Sex Terbaik Saya sekarang belajar di Universitas Negeri Bandung, dan saya punya kenalan bernama Rika teman kuliah saya diam-diam tidak banyak bicara tapi kalau sudah tahu orangnya begitu keluar seperti yang anda rasakan sekarang jadilah temannya, dengan jilbab yang menghiasi wajahnya. Lebih manis dan tubuh montoknya. Suatu ketika aku melihatnya mengenakan kemeja biasa tanpa jilbab, saat aku bermain di kosnya. wow, ternyata Rika sangat seksi ..

Novel Cerita Hot SEX 2018 Kuambil Selaput Dara Kasihmu

Tapi penglihatannya hanya singkat, karena dengan cepat dia mengganti baju tidurnya dengan jilbabnya. Ini mengingatkan saya pada saudara laki-laki saya dan membuat saya ingin menyentuh tubuhnya lebih jauh lagi. Namun dia selalu bisa menolak. Paling-paling, kami hanya berciuman, tapi tidak pernah lebih dari itu.

Sore itu kuajak Rika berjalan, tur hutan di sebelah utara kota B. Setelah parkir, saya akan menemukan tempat yang nyaman untuk mengobrol dan strategis untuk berpacaran. Begitu kita bisa, kita sibuk mengobrol ngalor ngidul.

Tanpa disadari, tanganku membelai jari-jarinya di pahanya. Rikapun menatapku dengan sekilas. Segera cium bibir mungilnya. Rika juga disambut dengan antusias.
Lidahnya dengan gesit memutar lidahku untuk membuatku terkesiap. Aku memeluknya erat, sementara tangan kananku mencoba meremas pantat pantatnya dan dia tidak menolaknya.

Tubuhnya gemetar hebat. Lenganku perlahan merangkak melintasi roknya yang panjang dan mengusap pahanya yang begitu halus sehingga aku bahkan bisa menyentuh jari-jariku di celana dalamnya.

Mas, jangan ahhh, malu melihat orang? katanya sambil mencoba mencegah tanganku untuk bertindak lebih jauh.

? Pindahkan tempat yuk, mana yang lebih aman,? Saya mengajak sambil mencoba meremas payudaranya.
Rika langsung menggelinjang.

Payudaranya yang matang mulai mengeras, pertanda Rika mulai bersemangat. Matanya yang sedih terlihat kotor, tanda Rika diliputi oleh dorongan gairah yang luar biasa. Kami segera membersihkan, perbaiki baju yang sudah hancur berantakan.

Kami pulang ke rumah dengan segera dan saya membawa Rika ke rumah kontrakan saya, karena saya berada di kota B mengontrak sebuah rumah kecil dan tinggal sendirian. Saat itu, hari sudah gelap.

Sebenarnya aku tidak tahan menciumnya lagi, dan tahu selanjutnya. Tapi bagaimana lagi, lha wong Rika hanya tertegun. Aku sangat takut, mungkin dia minta maaf karena sudah lama kuajak tinggal di rumahku.

? Em, apa yang kamu pikirkan? Bagaimana kabarmu? Tanyaku saat dia mendekatinya.
Rika hanya melirikku.
? Tolong, hanya berbaring di kasur, aku akan tidur di sofa nanti. Aku janji aku tidak akan menyentuhmu kecuali Rika mau, kan? Kataku lagi saat aku menuju sofa.

Tiba-tiba Rika menangis dan aku menarik diri untuk memeluknya dan menghiburnya, Rika tidak menolaknya. Setelah sedikit kedamaian, saya mengatakan kepadanya bahwa dia terlihat cantik malam ini apalagi dia mengenakan jilbab yang sangat saya sukai dari wanita yang memakai jilbab.
Rika tersenyum dan menatapku dalam-dalam, lalu memejamkan mata. Aku mencium bibirnya, hangat, dia menerimanya. Aku menciumnya lebih kencang dan dia menjawab, lalu tangannya memeluk bahuku. Kami berciuman penuh gairah.

Aku menarik kepalanya menutupi lehernya dan aku turun ke lehernya, Rikapun menghela napas
? aaaahh? Mendengar itu aku menendang dadanya yang montok.
Rika menghela napas lagi, dan menyambar rambutku. Setelah beberapa saat aku membiarkannya pergi. Rika telah terangsang, saya mengangkat baju panjangnya, bra hitamnya terlihat sangat menyayangi saya, kumulai meremas payudara yang masih terbungkus bra, dia bersiul terangsang.

Lalu aku mulai menggesekkan bra hitam itu ke pegunungan kembar yang pas di tanganku, dengan punting merah-cokelat keras yang telah mengeras. Aku membasahi jari telunjukku dan membelainya, Rika hanya memejamkan mata dan menggigit bibirnya.

Aku terus mengungkap roknya yang panjang, memakai CD renda transparan untuk mengungkapkan sebagian rambutnya yang lembab. Saya sengaja tidak melepas jilbab dan bajunya, karena Rika terlihat lebih seksi dengan hanya mengenakan jilbab dan pakaiannya dilipat.
Saya mulai menurunkan CD hitam dan WOW, itu tidak terlalu tebal dan rapi, rambut di bibir penisnya bersih, hanya di bagian atas. Dan kemaluannya terasa kencang dengan klitoris yang cukup besar dan mulai menjadi basah.

? Kamu rajin mencukur ya, Saya bertanya.
Dengan wajah memerah dia bilang iya. Aku menciumnya dan mulai menciumnya lagi, dan sapuan lidahku mulai berkonsentrasi pada puntingnya, kujilati, kutekan bahkan sedikit menggigit gigiku, Rika menggelinjang keasyikan, dan mendesah merasakan rangsangan kenikmatan.
Tangan kananku mulai memainkan klitorisnya, banjir, klitorisnya kugesek dengan jari tengahku, perlahan, mendesah dan mengerang lebih dan lebih aku dengar.

Novel Cerita Hot SEX 2018 Kuambil Selaput Dara Kasihmu

Seiring dengan sapuan lidahku di puntingnya, Rika semakin terangsang, dia bahkan meraih rambutku dan menekan kepalaku ke payudaranya,
Mas, enakh? sangat? enakh ?? Dia mendesah dan erangannya.
Kira-kira 5 menit dari kumulai, tubuhnya mulai berkedut dan
? Mas? Rika? mo? keluaaaarrr! Sambil menertawakan orgasme Rika, denyutan ayamnya terasa di tangan kananku. Rika lalu berdiri.
Sekarang giliran anda ,? dia berkata.
Celana saya segera dilucuti senjata dan saya disuruh berbaring. Salah satu tangannya memegangi palu dan yang lainnya memegang bantengnya, dia mengelusnya dengan lembut
? mmmmhhh?,? Aku menghela napas.
? Ya, ya, Mas?
Aku juga mengangguk.

Rika mulai mencium eranganku dan membelai rahangnya, dan mengemutnya dan mengguncangnya dengan mulutnya. Sepertinya ada jutaan arus listrik yang mengalir ke tubuh saya, shufflenya lezat. Saya heran, sejak saat ia belajar mengisap dan menggoyang alat kelamin laki-laki. Sepertinya dia sangat pandai mengocok genital pria.

? Belajar dari mana Rik, gimana sebenarnya gesit ?, tanyaku.
? Hmmm, aku pernah melihat BF bersama teman-temanku di kostku. Saya pikir itu sangat bagus, dan memang benar, bukan? jawab Rika sambil terus mengisap pangkal pahaku.

Rika terlihat seksi dengan jilbab yang masih terpasang di wajahnya, tapi payudaranya keluar karena bajunya terangkat. Bibir mungilnya sibuk menghancurkan pangkal pahaku.
Aku memegang kepalanya, aku mengikuti naik turun, sesekali aku menekankan kepalanya saat dia turun. Sesaat kemudian ia berhenti. Cerita Seks Langka 2016

Mas, kontra kamu cukup besar dan panjang yach, susah lagi, aku jadi terangsang nich?
Aku hanya tersenyum, lalu aku mengajaknya bermain 69, dia mau. Ayam pedasnya benar di wajahku, merah dan kencang, sementara Rika masih mengocok pangkal pahaku. Saat itu saya baru saja menikmati lagi alat kelamin wanita, setelah saudara perempuan saya menikah.

Aku mulai menjilati kemaluannya, bau sabun dan bau cairan femininnya, dan klitorisnya memerah dan aku menyedot cairannya, tiba-tiba dia berteriak saat aku mengisap kepalanya keras-keras.

? Misa? Aku mencintainya, babbyy ?, dia menjerit dan aku tahu bahwa dia sudah mencapai klimaks lagi karena kujilanya adalah kujilat dan saat itulah aku merasakan cairan wanita lagi selain memiliki kakak laki-lakiku yang asam pahit tapi lezat.

Setelah dia mencapai klimaks, dia bilang dia lelah tapi saya tidak peduli karena saya belum keluar dan saya mengatakan kepadanya bahwa saya tidak puas, saat itulah permainan dilanjutkan.

Dia mulai melakukan gaya anjing dan saya mulai meletakkan kontra saya di sela pahanya yang menggoda dan saya menarik dorongan itu untuk sementara waktu. Pinnanya baru hanya dijepit, sudah di awan. Apalagi kalau pangkal pahaku bisa masuk ke kepalanya.

Setelah beberapa saat, saya bosan dengan gaya itu, dan saya menyuruhnya berada di bawah saya. Rika melirik saya. Segera puting kukulum yang terlihat mengeras itu, uangnya dia menggelegar hebat.

Ternyata putingnya adalah titik rangsangan. Aku diam-diam mulai menempelkan eranganku ke dadanya yang sudah basah lagi. Gesekan Kugesek dan saya pers pers kemaluanku ke kemaluannya karena saya tidak ingin mngambil kelerawanannya, karena saya cinta dan mencintainya.

Saat aku berada di puncak Rika, aku kujilati payudaranya yang merah dan dia menjerit pelan dan mendesah di telingaku dan membuatku lebih bergairah dan tanpa berpikir lama lagi, aku mulai menekannya dengan nafsu dan
? Massa? Saya ingin melakukannya? dan saya juga menjawabnya
? Em? Saya pikir saya terlalu maau ?? Tidak sampai 2 atau 3 detik, tubuhku dan Rika gemetar dan aku merasakan sesuatu yang keluar dari pangkal pahaku di atas kemaluannya dan aku juga merasa ada pelembab yang sangat basah.

Setelah itu, Rika terdiam karena kelelahan dan aku mulai mencium bibir dan wajahnya yang kecil. Aku mulai membelai rambutnya dan karena dia terlalu lelah dia tertidur.

Keesokan harinya aku terbangun dan melihat Rika sudah mengenakan pakaian dan syalnya dengan rapi, lalu dia memelukku dan berkata
? Mas makasih kamu tidak ambil keperawanku saya, tapi saya tidak tahan untuk merasakan ayam besar anda? Aku tersenyum lalu berkata
? Membran dari Anda akan saya minta pada malam pertama setelah kita menikah nanti?
Setelah kejadian itu, kita sering melakukan lagi tapi hanya sebatas oral dan petting saja. – Situs seks seks online paling komprehensif, novel seks yang diperbarui, novel seks dewasa, novel terbaru dari novel, novel cerita panas, novel bokep, novel novel porno, novel abg ml, novel tante cheat, novel jangkung hypersex, perawan baru seperti telanjang.

Novel Cerita Sex Dewasa Terbaru Merenggut Keperawanan Anak SMA

Cerita Bokep Mesum, Cerita Dewasa Bergambar, Cerita Dewasa Sex Terbaru, Cerita Dewasa Terbaru, Cerita Mesum Bergambar, Cerita Mesum Terbaru, Cerita Ngentot, Cerita Ngentot Hot, Cerita Ngewe Panas, Cerita Pemerkosaan Perawan, Cerita Seks Bergambar, Cerita Seks Terbaru, Cerita Sex Tante, Cerita XXX Terbaru, Kumpulan Cerita Seks Terbaru 2018, Situs Cerita Sex Terbaik Hari telah matahari terbenam awan, gadis SMA di kota tampaknya tersebar dari ruang ruang olahraga. Mereka mengakhiri latihan chorus.

Novel Cerita Sex Dewasa Terbaru Merenggut Keperawanan Anak SMA

Tawa dan lelucon khas gadis sekolah menengah diiringi mereka untuk bubar, satu demi satu mereka keluar dari halaman sekolah yang gelap. Sementara bunyi guntur terdengar tanda hujan akan segera turun. Beberapa dijemput oleh orang tua mereka, yang membawa mobil pribadi, dan ada pula yang menggunakan kendaraan umum.

Saya sangat akrab dengan kegiatan anak-anak SMA ini, karena sudah hampir sebulan saya bekerja sebagai pelukis sekolah ini. Saya tidak lagi muda, umur saya 48 tahun. Saya seorang duda, istri saya telah lama meninggalkan saya setelah mengetahui bahwa saya sedang menjalin hubungan
akrab dengan keponakannya Reputasiku sebenarnya lebih banyak di dunia hitam yang biasa kuhubungkan dengan perdagangan ganja. Tapi beberapa bulan yang lalu semua wanita yang saya hijacking terkena serangan dan kemudian bisnis ganjaku saya hancur setelah utusan yang biasa membawa ganja mati ditembak oleh aparat.

Di sekolah ini saya bersama seorang teman bernama Charles yang merupakan seorang residivis yang berulang. Dia tidak begitu jauh dengan saya yang berusia 46 tahun, perawakannya besar dan rambutnya panjang dan lusuh. Kami berdua sengaja bergerak. Kami bukan pekerja tetap di sekolah ini, kami baru saja memesan lukisan kusen pintu kelas di sekolah ini.

Kami tidak dibayar mahal tapi kami memiliki kebebasan untuk tinggal di lingkungan sekolah ini. Kita adalah nomaden pengembara nomaden. Di antara anak perempuan, ada yang paling menonjol. Aku sangat akrab dengannya. Karena dia cantik, hidup dan aktif dalam kegiatan sekolah, maka saya sering melihat dia mondar-mandir di sekolah.

Adinda Wulandari namanya. Postur tubuhnya kecil, wajahnya cantik dan imut, kulitnya putih bersih dan harum selalu, rambutnya yang panjang keriting bahu dan selalu diikat dengan model ekor kuda. Penampilannya sangat modis, seragam sekolahnya yang dia kenakan selalu berukuran ketat, rok seragam abu-abunya dipotong satu inci di atas lutut sehingga pahanya yang putih mulus terlihat, roknya sangat ketat sehingga pantatnya begitu menonjol. Bahkan garis celana dalamnya pun terlihat jelas melintang menghiasi lekuk pantatnya, jangan lupa kaus kaki putih selalu menutupi betis halus putih.

Saya tidak dapat menyangkal bahwa saya jatuh cinta padanya. Tapi cintaku pada Adinda lebih didominasi oleh seks saja. Hasrat saya memuncak saat saya menatapnya saat saya sedang bekerja di sekolah ini. Ingin aku segera menidurinya. Ada banyak pelacur saya nikmati gadis perawan muda seksi seperti Adinda ini. Saya ingin mendapatkan kepuasan itu dengan Adinda.

Informasi yang saya kumpulkan dari orang sekolah, dari penjaga sekolah, dari petugas parkir, dari staf sekolah. Dari mereka aku tahu nama gadis itu. Dan dari orang-orang yang saya tahu bahwa Adinda adalah seorang siswa yang duduk di kelas 2, baru 16 tahun. Beberapa saat yang lalu ia merayakan ulang tahunnya yang ke 16 di kafetaria sekolah dengan teman-teman sekelasnya. Ia juga termasuk siswa yang berprestasi, aktif dalam kegiatan koor dan paskibra di sekolah ini. Dan informasi terakhir yang saya dapatkan adalah bahwa dia adalah salah satu model final yang diselenggarakan oleh majalah khusus untuk gadis remaja terkenal di negara ini dan bulan depan dia akan berada di tahap akhir seleksi.

Novel Cerita Sex Dewasa Terbaru Merenggut Keperawanan Anak SMA

Setelah sekolah itu sunyi, salah satu gadis di paduan suara merintih di depanku. Dia adalah gadis terakhir yang tersisa di sekolah ini, yang lucu bercanda dengan teman-temannya melalui telepon genggamnya, sementara yang lainnya telah meninggalkan halaman sekolah. Beberapa menit yang lalu, melalui pertarungan yang tidak seimbang, saya berhasil menariknya, tangannya terikat erat di belakang tubuhnya, dan mulutnya berpakaian lap. Setelah itu saya menyeret tubuhnya ke balai olahraga di belakang gedung sekolah.

Tidak salah lagi gadis itu adalah Adinda, gadis cantik sekolah prima donna itu sudah cukup lama. Saya sangat terbiasa dengan kebiasaannya menunggu mobil pengemudi naik pada akhir latihan sore hari dan pengemudi selalu terlambat jam buka jam latihan. Jadi dia baru saja meninggalkan halaman sekolah. Sekarang dia meringkuk di hadapanku, dengan teriakannya teredam oleh kain compang-camping yang kutaruh di mulutnya.

Sepertinya dia memohon saya untuk sesuatu tapi apa yang saya pedulikan, air mata mengalir di wajahnya yang cantik. Sesekali sepertinya dia berusaha meraih tangannya, tapi sia-sia aku mengikatnya erat-erat dengan berbagai simpul.
Ambil Perawan Sekolah Tinggi Primadonna High School
Posisinya sekarang sujud di depanku, tangisnya semakin memilukan, aku menyadari sepenuhnya bahwa dia sekarang dalam keputusasaan dan ketakutan yang dalam dalam dirinya. Aku menyalakan sebatang rokok dan mengisap embusan embusan rokok saat aku menatap keras dan menatap tubuh gadis cantik itu, tubuh nian cantik, kulit putih bersih, tapi pantatnya terisi.

Nikmati erangan dan tangisan gadis cantik yang terpukul oleh rasa takut, seperti seseorang yang sedang menikmati musik di ruangan yang sunyi. Suara tangis yang teredam itu memecahkan kesunyian gym di sekolah tua ini. Sesekali ia berusaha melepaskan tali yang mengacungkan kedua tangannya.

Akhirnya aku melihat tubuhnya mulai melemah, isak tidak lagi nyaring dan sekarang dia sudah tidak lagi berjuang mungkin sudah kehabisan energinya setelah lama menangis meratap dengan mulutnya yang sudah tersumbat. Sepertinya dalam hatinya dia menyesali mengapa pembalapnya Heru selalu terlambat menjemputnya, mengapa tidak mengantarkan teman baiknya kepada Desy yang telah membawanya pulang bersama, mengapa tidak keluar dari lingkungan sekolah pada akhir latihan. , kenapa malah asyik dengan bercanda HP bercanda dengan temannya Fifi. Yah, sudah terlambat untuk memaafkan dia, dan sekarang sesuatu yang mengerikan akan menimpanya.

? Yon salah .., gerbang depan sudah tutup dan gembok ?, terdengar suara seseorang yang sedang masuk bangsal.

Rupanya Charles dengan langkah yang agak naif ia menutup pintu bangsal yang mulai gelap.

? Oke .. Sip, aku punya anak, kita tinggal pake aja ..?, Kataku pada Charles sambil tersenyum.

Kebetulan malam ini Pak Parijan penjaga sekolah dan keluarganya yang tinggal di lingkungan sekolah ini pulang ke rumah, lusa mereka kembali ke sekolah ini. Mereka segera mempercayakan kami untuk menjaga sekolah ini selama mereka pergi.

Jadi kita tinggal bersama Adinda yang masih di sekolah ini. Pintu gerbang sekolah telah menjadi rantai kita. Pak Heru pengemudi yang memilih Adinda pasti mengira Adinda sudah pulang, setelah melihat situasi sekolah.

Aku menatap kembali tubuh Adinda yang lemas, tubuhnya gemetar karena ketakutannya yang paling dalam. Hujan mulai turun, ruangan di dalam lingkungan semakin gelap angin dingin bertiup ke bangsal, Charles menyalakan lampu TL tepat di atas kita, jadi hanya menyinari daerah sekitar saja. Saya mengisap rokok saya lalu saya mematikannya. Mulailah membuka bajuku satu per satu, sampai akhirnya aku telanjang. Selangkanganku sudah lama ada sejak mendirikan Adinda di teras sekolah.

“Dulu aku …” kataku pada Charles.

“Ok bos ..?, Jawab Charles saat dia pergi dan keluar dari bangsal.

Aku dekat dengan tubuh Adinda yang tergeletak di lantai, meraba-raba bagian belakang gadis itu, merasakan denyut nadinya berdegup kencang, lalu tanganku sampai ke dasar pantatnya, dengan lembut menggosok pantatnya, merasakan kelembutan dan kelembutannya. Bokong sesekali kutepok-tepok. Tubuh Adinda kembali aku merasa gemetar, menangis kembali kedengarannya, seperti dia lagi mengemis sesuatu, tapi karena mulutnya masih tersumbat suaranya tidak jelas dan aku tidak peduli akan hal itu.

Dari area pantatku, tanganku jatuh ke daerah lututnya lalu masuk roknya dan memanjat pahanya. Saya merasa lembut dan mulus begitu paha Adinda, penyeka terus naik sampai ke pangkal paha yang masih tertutup celana dalamnya.

Karena saya tidak tahan lagi, maka saya memosisikan tubuh Adinda kembali bersujud, dengan kepala menempel di lantai, dengan kedua tangan masih terikat. Aku membentangkan rok seragam abu-abu SMA-nya ke pinggang.

? Waw nian cantik .. gadis ini? gunamku sambil melotot paha dan pantat gadis ini.

Lalu aku menanggalkan celana dalam putihnya, melihat dua benjolan pantat sekali gadis itu putih murni. Sementara Adinda terus menangis sekarang, aku memosisikan diri berlutut menghadap pantat gadis itu, membentangkan kedua kakinya dengan lebar. Dengan jari telunjukku, aku mencoba meraba-raba selangkangan gadis itu. Saat jari tengah saya menempel pada bagian paling pribadi dari tubuhnya, tiba-tiba tubuh gadis ini berkedut. Mungkin pertama kalinya kemaluannya tersentuh tangan seorang pria.

Ketika saya mendapatkan bibir kemaluannya dan kemudian dengan jari saya, saya memukul lubang kemaluannya. Dengan niat untuk mendapatkan sedikit keluar dari kewanitaannya dari lubang kemaluannya. Tubuhnya langsung menggeliat saat lubang cortical korteks-punch, suara desahan terdengar dari mulut Adinda, tak lama setelah kemaluannya mulai basah oleh lendir yang keluar dari lubang vagina.

Setelah itu saya langsung menarik jari tengah saya dan kubimbing batang pangkal paha dengan tangan kiri saya ke bibir vagina Adinda. Hal pertama yang saya pakai adalah gaya anjing, inilah gaya kesukaan saya. Dan ..

? Hmmpphh ..?, Mendengar erangan dari mulut Adinda sambil kulesakkan batang bibir pussy bibir pussy.

Dengan segenap kekuatan saya, saya mulai mendorong selangkangan saya ke dalam lubang kemaluannya. Rasanya sangat tajam, karena sempitnya lubang gadis perawan ini. Aku mencoba menahan tangkai pangkal pahaku dari alat kelaminnya dengan bantuan tanganku erat-erat di pinggulnya.

Kulihat tubuh Adinda berkedut, kepala dan sesekali menggeliat. Saya tahu sekarang bahwa dia merasa sakit dan tidak sehat. Keringat terus menuangkan seragam sekolahnya, tapi keharuman parfumnya masih berbau, membuat bau segar Adinda saat itu, erangan dari mulutnya yang masih tersumbat.

Dan akhirnya setelah sekian lama saya terus menebarkan batang pangkal paha, kini lubang kolaps lubang kemaluan Adinda. Saya telah berhasil menanam semua selangkangan saya di lubang vaginanya. Aku merasakan kehangatan seluruh pangkal pahaku, dinding vagina Adinda berdenyut seakan sedang menyortir pangkal pahaku.

Sejenak aku menendang tongkat tanggul yang tertanam di lubang vagina, menikmati denyut nadi-oleh dinding vagina Adinda yang kencang dengan kencang meraih pangkal pahaku. Selanjutnya saya merasa ada cairan menuangkan ke pangkal pahaku dan kemudian menumpahkannya menetes. Ah .. Ternyata itu darah, berarti aku sudah mengambil keperawanan dari gadis cantik ini. – cerita seks, update novel seks, novel dewasa seks, novel xxx terbaru, novel hot story, cerita bokep novel, novel cerita porno.

Novel Cerita Sex Perawan 2018 ABG Memek Sempit Horny

Cerita Bokep Mesum, Cerita Dewasa Bergambar, Cerita Dewasa Sex Terbaru, Cerita Dewasa Terbaru, Cerita Mesum Bergambar, Cerita Mesum Terbaru, Cerita Ngentot, Cerita Ngentot Hot, Cerita Ngewe Panas, Cerita Pemerkosaan Perawan, Cerita Seks Bergambar, Cerita Seks Terbaru, Cerita Sex Tante, Cerita XXX Terbaru, Kumpulan Cerita Seks Terbaru 2018, Situs Cerita Sex Terbaik Malam itu aku menginap di rumah Mbak Kristin, karena begitu ngantuk aku tertidur di sofa. Pukul 4 pagi saya terbangun, saya masih telanjang tapi ditutupi selimut, tapi Mbak Kristin tidak di sofa ah mungkin, dia pindah ke kamarnya dan tidur dengan anaknya.

Novel Cerita Sex Perawan 2018 ABG Memek Sempit Horny

Aku berdiri dan mencari celanaku karena suasana gelap aku menyalakan lampu. Saat lampu menyala terdengar suara wanita menjerit, ternyata seorang wanita berusia belasan tahun 15 tahun, dia kaget mungkin karena melihat saya telanjang, saya menutup mulut dengan jari saya, yaitu menyuruhnya untuk menutupnya. naik.

Saya mendekati dia, saya jelaskan bahwa saya adalah temannya Mbak Kristin, saya menginap di sini, dia mengerti dan mengatakan kepada saya bahwa dia secara spontan terkejut karena tidak pernah melihat pria dewasa telanjang, dia mengatakan bahwa dia adalah pembantunya Mbak Kristin, namanya adalah Ulfa. Ulfa tidak bersekolah sejak lulus SMP, dia bergabung dengan Mbak Kristin hanya sekitar 3 bulan. Saya tanya kenapa kenapa kaget melihat saya telanjang memang belum pernah punya pacar. Dia mengaku pernah punya pacar tapi belum pernah melihatnya telanjang.

Aku bertanya lagi, lanjutkan kalau berkencan ngapain, jawab jujur ​​dia bilang jangan pernah mencium dan meraba-raba susunya oleh pacarnya, tapi jangan sampai telanjang. Ah masih perawan? Dia menganggukkan kepala dengan malu-malu. Aku melihat matanya melirik sedikit ke penisku tapi tetap malu. Saya berpura-pura tidak tahu dan mengabaikannya dan dengan sengaja tidak segera memakai celana saya. Saya masih telanjang dan memintanya untuk mengambil celana saya, saya duduk di ruang makan yang hanya membatasi bifet dari ruang tamu.

Dia membawa pakaianku dan perlahan-lahan membawa celana dalamku dengan sengaja menaruhnya di depan Ulfa. Dia melewati saya ke dapur, melirik penis saya lagi. Dia tidak melihat di depannya ada kemejaku dan celana saya, dia tersandung gesperku dan terbanting jatuh, aku meraih tangannya, dan menarik dirinya sampai aku hampir jatuh sendiri. Dengan kondisi seperti itu kita sengaja memeluk sedikit, wajah dan wajah sangat dekat, saya ingin mencium tapi tetap takut.

Aku melepaskan tubuhnya, dia juga memperbaiki pendirianku, tapi secara tidak sengaja tangannya menyentuh penisku, dia meminta maaf, aku tersenyum dan bahkan menyuruhnya untuk menyentuh lagi, dia tersipu, aku meraih tangannya dan mengarahkan ke penisku, ayo Ulfa , ga papa, ga malu, dia bilang kamu belum lihat dick kan? Sekarang Anda bisa bertahan, dia malu dan menutup matanya dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya memeluk penisku dengan malu-malu.

Saya juga merasa enak disentuh oleh tangan remaja, saya mengarahkan tangannya bolak-balik ke penis saya, saya mengajari dia cara mengguncang penisku. Dia kemudian terus berurutan penisku pelan tapi malu melihatnya, tapi biar yang penting aku merasakan kenikmatan yang disortir oleh tangan yang sama masih mulus, meski pembantu tapi dia cukup cantik, mungkin kalau dia orang kaya dan baik- Anak laki-laki terawat ke salon, wajahnya tak kalah cantik dibanding asmirandah. Kulitnya berwarna kuning, bersih, payudaranya besar untuk ukuran remaja, pantatnya juga seksi dan montok.

Saya melihat dia sepertinya senang untuk tetap mengurutkan penisku, sekarang dia mulai tidak malu melihat penisku, tangan kiri yang sudah memejamkan mata, sekarang aku menarik ke leherku. Agar kita semakin dekat, aku menarik pinggulnya ke tubuhnya, dadanya menyentuh dadaku, jantungnya berdegup kencang, dia tampak sedikit takut.

Novel Cerita Sex Perawan 2018 ABG Memek Sempit Horny

Aku berbisik ke telinganya, ke kamarmu yuk, tidak baik kalau disini entrang Mbak Kristin terbangun, entar aku ajarin yang lebih baik. Tanpa banyak protes, dia berjalan ke kamarnya, saya mengikutinya dari belakang, saya melihat pantatnya yang begitu lembut, pahanya yang mulus terlihat karena dia mengenakan baju tidur dan rok panjang berlutut. Warnanya juga transparan dan tipis sehingga tali BH dan celana dalamnya terlihat samar-samar.

Ketika sampai di kamarnya, aku menutup pintu dan menguncinya dari dalam. Aku menyandarkan tubuhku di depan pintu, aku menarik tubuhnya kembali dan aku meraih tangannya untuk terus mengocok penisku, sekarang tubuhnya bersandar ke tubuhku, sambil terus menggoyang penisku, tapi gerakannya masih sangat lembut dan lembut, Mungkin karena dulu tapi aku menikmatinya.

Tolong angkat bahu penisku, dia menggelengkan kepalanya, aku memegang kepalanya dan duduk di depanku, mengarahkan penisku ke mulutnya, aku menempelkan pipinya untuk membuka mulutnya dan perlahan memasukkan penisku ke dalam mulutnya, dia tetap terlihat tidak nyaman dan malu, tapi untuk beberapa saat penisku masuk juga di mulutnya meski sebentar, tapi aku tidak mau memaksakannya karena ini adalah pengalaman pertama baginya. Aku menarik tubuhnya dan memeluk erat-erat, lalu perlahan mencium bibirnya, dia cantik juga meski pembantu saya tidak khawatir mencium bibirnya, karena menurut saya Ulfa juga cantik dan saya beruntung jika Ulfa menginginkan saya entot, karena dia masih perawan.

Aku memeluknya erat-erat, dan aku mencium bibirnya sementara tanganku mulai bergoyang-goyang perlahan ke pantatnya, dari belakang aku mengangkat celananya, sehingga aku menemukan lipatan celana dalamnya, aku menyelipkan tanganku dan meremas pantatnya, tangannya menahan Tanganku, tapi aku mengabaikannya sambil terus meremas pantatnya, perlahan-lahan aku menurunkan celana dalamnya saat aku terus meremas dan aku menarik pantatnya ke depan, sehingga penisku sekarang berhubungan dengan vagina, tangannya berhenti mengibaskan penisku dan memegangi p pinggul, saya menarik tangannya ke atas leher saya agar tidak mengganggu penis saya menyentuh vaginanya yang mulai terasa hangat,

Aku mengangkat tubuhnya dengan sedikit kugendong, sehingga penisku tepat di depan lubang pussy, kugesek-menggesekkan penisku ke dalam vagina, aku mendorongnya ke sisi ranjang, dan membaringkannya di kasur semua yang membuatnya hancur, kugesek- Gesek penisku lebih cepat, dia menutup, gaunnya untuk membuka dadanya, aku melepaskan bra, dan puting putingnya, Ulfa terdiam dan menutup matanya.

Saya tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, takut butuh waktu terlalu lama untuk menghangatkan Ulfa dan berhenti melayani hawa nafsu saya, saya langsung membuka pahanya lebar-lebar, saya melihat vaginanya terlihat seperti daging dengan garis tipis di tengahnya, tidak ada rambut. sama sekali, itilnya juga tidak nampak keluar, kuilih penisku ke pintu memeknya,

Kugesek-gesek dengan bantuan tanganku sambil mencari-cari lubang senggama, setelah aku ketemu kudorong penisku masuk ke dalam, tapi susah dipancing lagi dan dorong perlahan lagi, sekarang kepala penisku mulai masuk ke pussy Ulfa, aku mengeluarkan pelan-pelan. dan mencoba mendorong lebih dalam lagi, Ulfa memelukku erat-erat dan memintaku untuk melambat, sakit katanya.

Aku menariknya perlahan-lahan dan mencoba lagi, tapi kecil dan sempit, tapi penisku terasa sedikit kehangatan, aku menggoyang-goyangkan pantatku ke atas dan ke bawah sehingga penisku sedikit lebih dalam lagi, sepertinya penisku menyentuh sesuatu, mungkin. Selaput dara ini, hatiku mengibas pantatku, kasihan jika Ulfa kesakitan, lalu aku mengambil penisku.

Aku mengambil bantal di sebelah Ulfa diletakkan di bawah pantat Ulfa, dengan posisi perut dan pus Ulfa ini terangkat, ini akan membantuku memasukkan penisku lebih dalam di dinding pussy Ulfa, lagi aku mengarahkan penisku ke vagina Ulfa, aku meletakkan setengah dan menyentuh Perut lagi perawan yang belum bisa saya tembus, saya mendorong lebih dalam dengan hati-hati, tubuh Ulfa mengepalkan tangannya erat-erat di ujung bantal, matanya terpejam seperti rasa sakit.

Ku beri sedikit tenaga untuk membantu pantatku, dan slep? Saya berhasil menembus selaput dara Ulfa, dan penis saya merasakan sensasi kehangatan yang luar biasa, saya berhasil menembus dinding ulfa vagina. Ah? Sungguh menyenangkan, saya kemudian mengocok penis saya keluar ke vagina Ulfa, dinding vagina begitu sempit sehingga membuat penis saya sangat nikmat, saya melihat air mata Ulfa, mungkin karena rasanya sakit, tapi sekarang dia mulai bergabung dengan saya. sedikit menggoyangkan pantatnya, oh dia telah menikmati permainan saya. Tiba-tiba ohhhh?

Ternyata vagina perawan ini membuat benteng saya tak terbendung, hanya beberapa menit di vagina Ulfa sperma saya keluar, begitu saya menarik penis dan kugesek-menggesek paha halus Ulfa, gesper kugesek berlanjut dan ohhhh sperma saya. muncrat juga?

Croootttt? .. ohhhhh begitu baik, saya sangat puas malam ini, saya sudah berhasil mengonsumsi keperawanan Ulfa, vaginanya enak, ahhhh terima kasih Ulfa. Aku kembali mengenakan bajuku, aku melihat Ulfa masih awam lemas tak berdaya, aku perlahan keluar dari ruangan, dan terus tidur lagi di sofa, takut mbak Kristin besok pagi bangun, kalau aku masih di kamar ulfa, apa yang dikatakan dunia?
Aku menarik selimutku dan kembali tidur, tapi aku membayangkan betapa menyenangkannya menjadi perawan, terima kasih Ulfa.

Cerita Porno Terbaru 2018 Hubungan Seks Pertamaku dengan Boss Baru

Cerita Seks Bergambar, Cerita Seks Terbaru, Cerita Mesum Bergambar, Cerita Dewasa Bergambar, Cerita Dewasa Terbaru, Cerita Mesum Terbaru, Cerita Pemerkosaan Perawan, Cerita Sex Tante, Cerita Ngentot, Cerita Dewasa Sex Terbaru, Kumpulan Cerita Seks Terbaru 2018, Cerita Bokep Mesum, Cerita Ngentot Hot, Cerita XXX Terbaru, Cerita Ngewe Panas, Situs Cerita Sex Terbaik Ketika saya berumur 23 tahun saat keperawanan saya hilang oleh atasan saya, saya sedang bekerja di satu perusahaan telekomunikasi, Perkenalkan nama saya Tini, sekarang saya memiliki suami yang berprofesi sebagai guru, karena masalah seks di tempat tidur suami suami saya harus dihitung. polos, sudah ejakulasi dulu. Dalam pikiran saya mungkin karena tidak ada pengalaman, padahal saya memiliki sedikit banyak berhubungan seks di luar nikah.
Seakan mau kontak dengan suami saya, saya tidak puas, untungnya suami saya tidak berdosa dalam hubungan seks, ya karena dia tidak bertanya tentang pendarahan saat melakukan hubungan pertama dengan saya, untuk seks pertamaku saya ingin berbagi sedikit cerita dengan bos saya.

Cerita Porno Terbaru 2018 Hubungan Seks Pertamaku dengan Boss Baru

Hari telah tiba ketika saya bekerja di kantornya atasan saya, sangat kecewa dan sedih hari ini ada pengumuman bahwa bossku akan diganti dengan orang baru, dan ingin dipindahkan dari Bandung ke Jakarta, dimana saya bekerja terlihat paling muda dari yang lain. Karyawan sekitar 8-10 tahun dari saya, karena mulai minggu depan saya punya atasan baru, saya harus bisa beradpatasi dengan atasan baruku.

Kandidat bos baru juga datang karena hari ini akan menjadi hari penyerahan de facto kantor cabang Bandung dari bos lama ke atasan baru. Ternyata atasan baru ini masih belia, umurnya masih sekitar 26-27 tahun dengan tubuh besar dan cukup ganteng dengan kumis tebal. Pak Yanto adalah nama atasan baruku, dia punya keluarga dengan dua orang anak; anak perempuan dan anak laki-laki

Pak Yanto ternyata membawa gaya kepemimpinan yang sama sekali berbeda dan membawa moderenisasi dalam bekerja. Karyawan yang terbiasa dengan pekerjaan individual sekarang dipaksa bekerja secara kolektif dalam kerja tim. Semua karyawan tanpa terkecuali harus melek teknologi dan agar bos baru itu tidak segan turun dari ajarannya sendiri. Sebagai sekretaris saya juga belajar banyak dari dia hal-hal yang rapi dan karena saya adalah orang kebanyakan yang berinteraksi dengannya tentu saja saya memiliki banyak kesempatan untuk belajar.

Secara bertahap mulai muncul kekaguman saya kepada Pak Yanto dan mulai mendambakan mendapatkan pasangan seperti dia atau mendekati kemampuannya. Tidak seperti pegawai laki-laki lain yang suka melihat ke bawah dan bahkan melecehkan sesama pegawai wanita, Pak Yanto sangat sopan terhadap kedua pegawai wanita tersebut dan bukan. Hal ini membuat perasaan saya untuk Pak Yanto karena saya merasa bisa berlindung padanya.

Kombinasi rasa hormat, kagum dan kasih sayang membuatku merasa ingin selalu dekat dengannya, jadi saat kita sendirian, aku kadang-kadang bersikap sedikit manja dan sepertinya tidak masalah. Secara bertahap saya mulai melihat bahwa Pak Yanto juga mulai merasa nyaman jika dekat dengan saya. Meski begitu, kesempatan kami hanya bisa di kantor, jadi semua bisnis terkait dengan pekerjaan itu dan Pak Yanto tidak pernah mencoba membawa saya keluar dari bisnis perkantoran.

Sampai pada suatu waktu kantor Bandung harus bertindak sebagai tuan rumah pelatihan produk baru dari perusahaan dan pada akhir acara semua peserta ingin berwisata ke Ciater Subang. Meski saya bukan trainee, tapi sebagai perwakilan panitia saya harus menemani mereka berwisata ke sana. Seperti yang saya takuti sebelumnya, karena satu-satunya wanita di mana peserta lainnya adalah laki-laki, saya menjadi bulan yang pelecehan.

Beruntung Pak Yanto langsung melihatnya sehingga dia bisa menarikku dan membawaku pulang lebih awal karena teman-teman kantor Bandung lainnya tidak bisa diandalkan untuk melindungiku. Akhirnya saya pulang ke rumah sendirian dengan Pak Yanto dan dalam perjalanan pulang ke Bandung kita gunakan untuk ngobrol diluar pekerjaan bahkan untuk hal yang agak personal.

? Hampir sampai ke Bandung? kata Pak Yanto? Kemudahan dimana ya?
? Kamu tahu? kenapa tidak langsung pulang? ? Kataku tercengang? Bukankah ayah dulu pernah tampil bersama keluarga jika malam minggu seperti sekarang ??
? Seharusnya aku pulang ke rumah malam ini untuk istriku untuk nemenin orang-orang itu? jelas Pak Yanto

? Lalu terserah kamu bapak? Saya katakan dengan perasaan campur aduk antara kesenangan bersamanya pada Sabtu malam dengan takut bepergian dengan suami pria.
Baik? Jadi malam ini kita akan menjadi malam mingguan bersama? Dia berkata sambil tersenyum.
Malam itu kami seperti orang yang baru berkencan, meski masih canggung tapi penuh semangat gairah. Apalagi dia juga langsung bergerak cepat tanpa ragu lagi memeluk dan mencium pipiku setiap kesempatan.

Menjelang tengah malam Pak Yanto mengantarku pulang dan untuk pertama kalinya aku merasakan ciuman di bibir seorang pria di dalam mobil sesaat sebelum dia memasuki rumah.
Sepanjang malam aku hampir tidak bisa tidur karena semua jam dengan atasanku seperti yang dimainkan berulang-ulang di kepalaku. Perasaan saya sangat bahagia karena cinta langsung meski cinta itu dilarang. Saya tidak pernah benar-benar berkencan dengan beberapa orang yang bergantian mencoba mendekati saya, mereka hanya membuat saya berteman dekat sampai mereka berhasil lolos sendiri.

Sejak hari itu Pak Yanto selalu mengundang saya keluar setiap hari Sabtu, kebanyakan dari pagi sampai sore, jarang menginap setiap minggu. Terkadang kita juga keluar malam hari dari tempat kerja untuk menonton film di bioskop atau makan malam bersama. Meski begitu saya anggap kita punya? Diciptakan ?, apalagi Pak Yanto telah mengajari saya mencium bibir dengan permainan lidah.

Tidak sampai sebulan payudara saya sudah mulai menguleni saat kita berciuman. Pertama kali itu dilakukan hanya dari luar kemeja tapi untuk yang berikutnya sudah mencapai tepat di belakang bra saya setelah melepas kancing dan mengangkat piala BHku. Terus terang saya sama sekali tidak menolak tindakan bosku ini karena saya sendiri sangat menikmatinya, apalagi jika sensasinya diselingi dengan permainan jarinya di putingku.

Tak puas dengan meremas payudaraku, ia juga mulai menggosok vagina saya jika kebetulan memakai rok. Atas tindakan ini saya menolak karena saya masih perawan dan itulah yang saya katakan kepadanya, tapi atasan saya mengatakan bahwa dia hanya akan menghapusnya dari bagian luar celana dalamnya agar tidak segera menyentuh vagina saya. Meski awalnya ragu tapi akhirnya aku mengizinkannya? Apalagi sentuhannya di vagina membuat saya mulai tahu apa nama orgasme.

? Bapaaaa? Tini sudah ga tahaaannnn? Itulah teriakan khasku saya saat mencapai orgasme yang rasanya ingin sekali buang air kecil tapi penuh kenikmatan. Kata bossku saya memiliki libido yang tinggi karena cukup dengan ciuman panjang dengan meremas di payudara dan permainan jari di luar vagina, saya bisa mencapai orgasme berkali-kali sampai celana dalam saya basah kuyup saat mengompol tapi cairannya lebih tebal dan sangat lengket

Sebenarnya saya sangat gugup karena kita selalu melakukannya di dalam mobil yang diparkir di tempat umum atau di ruang kantornya. Apalagi biasanya Pak Yanto seketika bisa membuat baju saya berantakan. Tapi dengan urusan cinta terlarang seperti kita, hampir tidak mungkin melakukannya di rumah sampai akhirnya tiba hari itu?

Suatu hari saya memberi tahu Pak Yanto bahwa minggu ini saya sendirian di rumah sampai hari Minggu karena orang-orang di rumah tersebut pulang ke Bumi Ayu (Jawa Tengah) kampung halaman saya. Jadi saya menawarkan kepadanya untuk berkencan di rumah saya sendiri untuk menemani saya menjaga rumah. Pada saat itu hubungan kami telah berlangsung selama hampir tiga bulan dan saya tidak tahu apa yang akan terjadi jika saya sendirian dengan atasan saya di rumah kosong itu.

Sabtu pagi saya tidak sabar menunggu Pak Yanto di rumah saya, ada perasaan bahagia di hati saya karena akan bisa berkencan dengannya tanpa ada kekhawatiran seperti dulu. Perasaan gembira ini menyebabkan rasa tidak enak kepada Pak Yanto, tapi baru kemarin kami masuk ke mobil saat dia pulang. Akhirnya ia datang juga dengan sekantong kecil warna gelap (yang belakangan saya temukan mengandung kondom dan pelumas). Sesuai permintaan saya sebelum dia memarkir mobilnya agak jauh dari rumah saya agar tetap memberi kesan rumah saya kosong sehingga tanggal kami tidak terganggu oleh saudara atau teman yang tiba-tiba datang berkunjung.

Setelah mengunci pagar dari luar dan mengunci pintu masuk, saya langsung jatuh dan memeluk Pak Yanto yang saat ini memasukkan kunci mobil dan tas kecilnya di atas meja makan. Ia langsung menanggapinya dengan menciumku penuh kehangatan seolah baru bertemu denganku. Tanpa melepaskan bibir kami bergerak untuk duduk di karpet depan TV. Pak Yanto sengaja mendudukkan saya di bantal yang ada agar tinggi badan kita seimbang.

Setelah puas melepas ciuman dengan berciuman, Pak Yanto lalu melepas bajuku lalu BHku dilepas sehingga bagian atas tubuhku sekarang telanjang. Saya hanya bisa membungkuk karena malu karena belum pernah dibumbui sampai saya benar-benar melepas bajuku. Setelah saya tunggu beberapa saat saya mulai bertanya-tanya karena Pak Yanto juga tidak langsung bertindak setelah menelanjangi tubuh bagian atas. Saya mencoba berani mengangkat wajah saya untuk melihatnya, ternyata Pak Yanto sedang memperhatikan payudara saya dengan ekspresi kagum. Bossku ini rupanya juga sudah melepas kemeja topnya jadi kita sama-sama bertelanjang dada sekarang.

“Tini, saya baru sadar itu begitu besar payudara anda! Akhirnya dia berkomentar? Bukan hanya besar tapi benar-benar hampir bulat sempurna dengan meletakkan di tengah?
? Ba .. ayah tidak suka ?? Kukatakan sedikit khawatir karena aku tahu ukuran payudara istrinya cukup normal sementara semua wanita di payudara keluargaku besar, bahkan ukuran payudaraku masih tergolong kecil bila dibandingkan dengan mereka.

Saya suka itu, terutama karena bentuknya yang sangat bulat? Jawabannya? Saya hanya terkejut karena saya tidak berharap hal ini apalagi bila dilihat dari ukuran tubuh kecil anda?
? Tapi jelas payudara Anda sangat kenyal? dia melanjutkan dengan senyuman nakal? Sehingga tampilannya selalu membengkak meski tidak lagi menggunakan BH?

Saat berbicara Pak Yanto mulai memegang kedua payudaraku dengan kedua tangan lalu langsung menyusut bibirku. Ciumannya kali ini tidak hanya pada bibir, tapi juga di leher saya leher saya, dada saya dan juga puting payudara saya berwarna coklat kehitam-hitaman. Peras pada satu payudara bersamaan dengan mengisap disertai gigitan kecil pada puting payudara lainnya membuat saya cepat merasa mengambang.

Ahhhh? ahhhh bapaaaa aaahhh Saya mengoceh dengan mulut dan mata yang menganga yang sulit dipusatkan untuk memiliki kesenangan yang datang tiba-tiba.

Posisi tubuh saya kemudian berubah menjadi setengah terbengkalai sehingga bossku bisa lebih bebas menggumbuku. Nafsu saya meningkat dengan cepat, saya mulai merasakan celana dalam saya menjadi damper oleh cairan yang keluar dari sana.

? Bapaaaaa? Apakah ini ga ga tahaaaan? Saya berteriak seperti biasa saat mencapai orgasme saya. Saat itu saya ingin pak Yanto membelai vagina basah saya dari bagian luar celana dalam saya, tapi sekarang dia tidak melakukannya mungkin karena saya masih memakai jeans?
Tapi karena kekasihku sudah sampai di puncak kepala maka aku menarik tangan kanan Yanto ke selangkanganku sebagai isyarat keinginanku. Sepertinya dia bisa menangkap maksud saya, tapi karena diblokir oleh celana jeans, dia mengambil inisiatif untuk membuka kancing celana dan ritsleting saya dengan satu tangan untuk meraih celana dalam saya.

Bagian pinggang jinsku yang tinggi (sampai pusar) rupanya masih membuatnya sulit membuatnya tidak sabar. Dia kemudian berhenti membelai saya dan dengan gerakan cepat dia menarik jeans dan celana dalam saya sekaligus sampai dilepaskan. Jangan berhenti sampai di situ, Pak Yanto kemudian melepas celana dan celana dalamnya sendiri dengan masih duduk di atas karpet sehingga kita berdua sekarang dalam keadaan telanjang.

Tubuh telanjang saya berada dalam posisi tubuh setengah berbaring di atas karpet yang bertumpu pada bantal dengan kedua kaki terentang. Saat itu saya tidak begitu peduli dengan situasi saya karena yang saya inginkan adalah Pak Yanto segera membelai vagina saya seperti biasa.

Tanpa menunggu lama Pak Yanto langsung tumpang tindih lalu mencium bibirku sementara tangan kanannya membelai celana pussy tanpa rintangan lagi. Sentuhan langsung tangan bossku di vagina ternyata terasa jauh lebih enak dari biasanya sehingga ketegangan perut saya mulai naik lagi setelah orgasme pertama tadi. Apalagi saat Pak Yanto menggunakan jari-jarinya untuk bermain dengan klitoris saya sambil menggosok vagina saya yang sudah menjadi lebih basah.

? Hhhhmmmmpphhh? Hmmmmmppphhhh? ..? Teriakanku masih tertahan oleh ciuman Yanto.
Dia kemudian mengganti ciuman dan menjilat kedua puting payudara saya secara bergantian membuat tubuhku berelong dengan geli diserang sehingga menimbulkan kenikmatan luar biasa. Jari-jarinya di dalam vagina juga terus mendengar aksi berputar mengelilingi liang sehingga vagina saya terasa mulai retak dan menjadi lebih basah.
? Ahhhh? bapa? Ahhhh? Ahhhhh? enaakkk? ahhh Aku hanya bisa menjerit sebagai ekspresi kesenangan.

Cerita Porno Terbaru 2018 Hubungan Seks Pertamaku dengan Boss Baru

Pak Yanto adalah orang pertama yang saya anggap sebagai pacar dan juga yang pertama menyentuh tubuh saya. Cara dia memperlakukan saya membuat saya tidak dapat menolak permintaannya, bahkan membuat saya selalu kecanduan dan merindukannya untuk melakukannya lagi, lagi dan lagi. Meski selama tiga bulan keperawanan saya masih belum terganggu, tapi kali ini jadi ceritanya berbeda?
? Ga berdiri pa? Tini tidak tahan dengan Bapa? ooohhhhh? Saya berteriak saat merasakan orgasme lagi.
Setelah tegang beberapa kali karena kenikmatan luar biasa yang saya rasakan, tubuh saya menjadi lemas lemas.

Aku mengangkat tanganku ke arahnya sebagai tanda pelukan, tapi Pak Yanto terbangun dan berlutut di antara kakiku sambil menarik kakiku sedikit agar posisiku terbaring dengan sempurna. Kakiku melebar lebar dan tanpa ragu dia langsung mengangkat bahuku dengan bibir dan lidahnya jadi sekarang kepala bosku ada di pangkuanku.

? Ayah apa itu? .Uuuuhhhhhh? .. akkkkhhhhhhhh? .. shhhhhhhh? Saya kaget dan ingin bertanya apa yang dia lakukan tapi sebelum kalimat saya selesai saya disergap lagi rasa senang lidah dan bibirnya di vagina saya.

Bibirnya mulai mencium klitorisku sementara lidahnya menari-nari di sisi dalam vaginaku yang sudah patah. Terkadang ujung lidahnya seakan bergerak masuk dan keluar ke dalam vagina saya meski tak terlalu dalam namun membawa sensasi yang luar biasa. Aku mulai mengusap pinggul dan bokongku dengan tarian lidahnya sementara tanganku meremas rambut bosku dengan kencang.

Pak Yanto sepertinya mengabaikan cairan vagina yang mulai membanjiri dan bibir vagina saya membengkak. Dia bahkan mulai menggigit klitoris saya dan diselingi oleh sapuan kasar lidahnya di seputar kulit rami saya yang sensitif yang membuat tubuh saya mulai terguncang dengan kegembiraan yang luar biasa untuk menahan kenikmatan hebat.

? Akkkkkhhhhhhhhhhh ?? ga tahan? Ayah? Tini ga tahan lagi ?? .kkkkkkhhhhh? Aku mengerang dengan tubuh hampir melenting karena senang.

Pada saat nafas saya masih memburu dan mengi karena tertegun, saya melihat Pak Yanto kembali berlutut dan masih berada di antara kedua kaki saya. Lalu ia maju lebih dekat ke selangkangan saya, tangan kanannya seolah menggenggam sesuatu yang kemudian ia arahkan ke vagina saya.

Saya belum pernah melihat penis atau penis dewasa, saya hanya pernah melihat penis keponakan anak saya saat saya diminta untuk memandikannya. Meski bentuk dan ukurannya jauh berbeda, tapi saya yakin? Yang dia pegang adalah penisnya sendiri. Pengetahuan seksku saya sangat minim jika tidak praktis nol, tapi naluri saya mengatakan kepada saya bahwa Pak Yanto sekarang berniat untuk meniduri saya.

Tiba-tiba timbul ketakutan saya dan juga merasa kasihan karena telah mengundang Pak Yanto ke rumah kosong saya agar kita bisa membuat cinta lebih bebas. Tapi tubuh saya sangat lemah karena tiga kali orgasme dan ketakutan membuat saya semakin lemah sehingga akhirnya hanya bisa merasa pasrah dengan keadaan ini. Saya hanya berusaha memejamkan mata sehingga pikiran saya tidak merekam ingatan visual sebuah peristiwa yang mungkin saya anggap menyesali kehidupan.

Saya merasa Pak Yanto sudah berada di tubuh saya dengan kedua tangannya tertidur di sebelah kirinya, sementara tangan kanannya mengusapkan kepala penisnya ke klitoris saya. Rasa senang yang dihasilkannya sedikit lebih mulai mengurangi kegelisahan karena rasa takut saya tadi. Pak Yanto juga sesekali membawa penisnya ke wajah vagina saya dan melakukan gerakan berputar seakan untuk menaikkan ukuran liang yang saya tahu sangat sempit.
? Shhhhhhh? Shhhhh? Sapa ?? Saya tidak bisa menahan diri untuk tidak membuat mulut saya terasa seperti ritme mendesis yang selaras dengan gerakan tangan kanannya.

Tiba-tiba saya merasa kepala penis Yanto tidak lagi berputar-putar di mulut vagina saya, tapi saya merasa penis Yanto mulai terasa sesak di dalam vagina saya. Daging penisnya yang padat terasa pedih saat memasuki vagina vagina saya yang sudah basah dan licin.

? Aduuuuuhh? sakiiit Aduuuhhh? Ayah? Sangat sakit? Aduuhhhh? Aku hanya bisa menggeram perlahan sambil mengangkat tanganku untuk berpegangan pada tepi bantal yang menopang kepalaku sehingga aku bisa meremasnya saat aku merasa sakit.
BLESSSSS? Seluruh batang penisnya akhirnya masuk sempurna tanpa terlalu sulit karena sudah siap? Karena pembantaian yang luar biasa dilakukan sebelumnya.
? Sakit ya sayang ?? Tanya bossku sambil memperbaiki posisi tubuhnya tanpa mengubah posisi penisnya di vagina saya.

Aku hanya mengangguk pelan dan tak berdaya ada air mata di sudut mataku yang tertutup. Pak Yanto dengan lembut mencium air mata di ujung mataku dan membelai rambutku yang panjang dan tebal.

? Uuuuhhhhhh? Sekali lagi saya mengeluh dengan lembut saat Pak Yanto mulai bergerak maju mundur di penisnya pelan. Dia kemudian memelukku erat-erat sehingga kedua tanganku sekarang berada dalam posisi yang melingkari punggungnya. Rasa sakit itu berangsur-angsur berkurang dan berubah menjadi perasaan senang jauh melampaui apa yang pernah saya rasakan sebelumnya.
? Aarkkkhhh? arkkhhhhh? .arkkkhhh? Aku mengomel aneh saat Pak Yanto mulai mempercepat gerakannya sambil tetap berada di pelukanku.

? Bapaaaa? aduuuhhh? bapaaa Tini sudah tidak tahu? Hanya dalam beberapa menit saja saya sudah meneriakkan kata-kata khas orgasmeku. Pak Yanto menanggapi dengan gerakan yang semakin pesat dan diakhiri dengan hujaman yang dalam dan dilanjutkan dengan gerakan penis berputar seakan membuka lubang rahim saya. Aku tersandung pada kesenangan sambil menaikkan pantatku untuk mengimbangi gerakannya, sementara tanganku sekarang berbalik untuk meremas pantatnya.

? Ooohhhhhhhhh ??.? Akhirnya aku kembali terbaring lemas dengan senang hati, Pak Yanto menghentikan gerakannya setelah melihat reaksiku.

Saya membuka mata dan memberikan senyum termanis kepada atasan saya yang telah memberi saya kesenangan luar biasa dan secara ajaib menghapus semua perasaan menyesal yang pernah saya rasakan sebelumnya. Lalu kami berciuman cukup lama sambil saling membelai wajah dan rambut masing-masing.
Setelah puas mencium Pak Yanto lalu melepas pelukannya dan duduk tegak tanpa mengeluarkan penisnya dari vagina saya.

? Di sini, Anda melihat darah perawan Anda? Bawa Pak Yanto
Saya mencoba mengangkat tubuh saya sedikit dengan tangan didukung sambil melihat ke arah selangkangan saya. Penis Yanto hanya terlihat basis saja karena sisanya masih di dalam vagina saya. Selain penuh dengan urat nadi menonjol, penis juga terlihat sedikit cairan merah di beberapa bagian. Noda merah sama yang saya lihat juga pada bulu pangkal paha, perut, paha bagian dalam dan perut Pak Yanto. Ternyata itu disebut darah dara atau darah malam pertama oleh orang-orang selama ini. Sebagai perempuan Jawa, warna kulit saya lebih gelap dari pada wanita Sunda, begitu juga kulit gelap berkulit gelap saya sampai ke kedalaman sehingga titik darah tidak begitu terlihat jika tidak diamati dengan seksama.

Sebelum saya bisa membuka mulut untuk berkomentar, dia mulai memindahkan penisnya bolak-balik, yang memaksa saya untuk berbaring lagi. Kedua kakiku satu demi satu dibesarkan di bahunya sehingga tubuhku hampir terlipat di pak Yanto. Pada posisi seperti itu Pak Yanto memompa penisnya semakin kencang sehingga membuat tubuh saya bergetar.

? Oooowww? .ahhhh? Apakah Aku menjerit senang? Bapaaa ..aaaaaaaaa? nii iii..kk? mmmaa? aaa..aatttt sssee? eee? kkkaa aaa llliiiii ?? suaraku terputus karena kerasnya syokku.

CROK? CROK? CROK? CROK? Aku mulai mendengar suara seperti air berlumpur menepuk keras. Nanti saya temukan itu adalah suara cairan yang sempat membanjiri vagina saya dipompa keras oleh penisnya Pak Yanto untuk busa.
Tubuh kami saya mulai berkeringat sehingga terlihat berkilau, setetes dua tetes keringat Pak Yanto mulai jatuh ke tubuh saya. Tak lama kemudian keringat Pak Yanto semakin membanjiri dan menuangkan ke dalam perut saya bercampur dengan keringat saya sendiri.

CROK? CROK? CROK? CROK? CROK? suaranya menjadi lebih keras
Saya rasa saya hampir pingsan karena gelombang demi gelombang kenikmatan yang semakin membesar seakan tak aka batas nada. Tapi tiba-tiba aku merasa tubuh pak Yanto mulai bergetar, pussy penisnya makin irama ireguler.

? TINNNIIII? Saya ingin outrrrr ?? yanto berteriak Pak Yanto yang saat itu saya tidak tahu maknanya.
Saya merasa Pak Yanto menekan penisnya dengan kuat di vagina saya, tidak lama kemudian penisnya berdenyut kencang dan kemudian seperti muntah sesuatu yang hangat berkali-kali di tubuh saya. Pulsasi penisnya, disertai semburan cairan hangat, perbanyak kesenangan yang saya rasakan.

Bapppaaaaa? Oohhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh ??? Saya juga mengikuti masalah desahan panjang kenikmatan sampai semburan penis Yanto berhenti.
Tubuh Yanto kemudian roboh kelelahan di tubuh saya setelah sebelumnya menurunkan kaki saya dari pundaknya. Untuk sesaat Mr. Yanto tidak bereaksi sama sekali, jadi saya mencoba memeluknya erat saat dia membelai kepalanya dengan kasih sayang. Beberapa saat kemudian ia mulai bergerak bangun dan langsung mencium bibirku.
? Tini, kamu bisa merasakan nikmatnya sayang ?? Dia bertanya setengah hati di telingaku.

Aku hanya mengangguk pelan dan tersenyum padanya.
? Sekarang ayah telah mencicipi milik Tini yang paling berharga dan hanya ada satu? Kataku spontan yang dijawab dengan senyuman dan ciuman dari Pak Yanto.
? Tapi malah Tini sudah merasakan kenikmatan yang luar biasa? Jadi apakah Tini benar-benar tidak tahu apakah harus meyesal atau bersyukur?
Sekali lagi dia menjawabnya dengan senyuman sambil menatapku erat sehingga aku menjadi malu diriku sendiri untuk membungkam malu. Sekali lagi saya dibombardir dengan ciuman kecil dan ciuman pendek yang sangat berarti bagi saya.

? Aaaaahhhhhhhhhhhhhhh? Tangisanku terhenti saat Yanto tiba-tiba menarik penisnya keluar.
Pak Yanto lalu berdiri dan berjalan ke halaman belakang untuk mengambil handuk yang dikeringkan di sana, lalu dengan halus dia menyeka keringat dan keringatnya sendiri dan akhirnya mengusap vaginaku dan penisnya.

Hari itu kami telanjang sepanjang hari di rumah, entah itu saat memasak di dapur, makan siang, nonton TV atau sekedar ngobrol bersama. Kondisi telanjang kita membuat kita selalu mudah terangsang lagi untuk melakukan hubungan intim, sehingga antara satu aktivitas dengan aktivitas lain kita diselingi dengan hubungan intim.

Dalam persetubuhannya yang terus berlanjut, dia selalu menggunakan kondom yang dia bawa. Saat itu saya dengan polos memprotes penggunaan kondom untuk mengurangi kenikmatan bersenggama saat pertama kali bersenggama saat dia tidak menggunakan kondom. Sambil menyeringai dia menjelaskan bahwa yang pertama dia harus memakai kondom, tapi dia khawatir saya sadar dan menolak untuk melanjutkan saat memasang kondomnya.

Sore harinya Mr. Yanto akhirnya pulang setelah total empat kali bercinta dengan saya sepanjang hari.

Hubungan kita semakin panas? Karena selama dua tahun pertama saya benar-benar kecanduan berhubungan intim dan untuk itulah saya bersedia disetubuhi kemana saja dan dalam segala kondisi, tentunya hanya dengan Pak Yanto saja. Seringkali saya di kantor meminta orang bodoh sambil berdiri atau dalam posisi menungging di atas meja dengan pakaian lengkap. Jika saya menemani Yanto keluar dari kantor atau saat dia dibawa pulang pada siang hari, terkadang saya suka merengek untuk perjalanan ke melati atau motel untuk memuaskan pelarian saya. Tidak dihitung hubungan intim yang kami lakukan di mobil yang biasanya kami parkir di tempat parkir umum yang besar namun gelap.

Pak Yanto tidak pernah menolak permintaan saya, tapi dia mewajibkan saya untuk selalu membawa kondom di tas saya karena dia tidak dapat membawa persediaan kondom yang memadai tanpa tertangkap oleh istrinya.

Tapi nafsu saya yang terlalu tinggi akhirnya menyebabkan konsekuensi fatal ketika saya bersikeras untuk menjadi kacau saat pasokan kondom hilang. Saat itu saya meminta untuk melakukan hubungan intim dengan posisi saya diatas dan pada saat Pak Yanto akan ejakulasi saya tidak mengindahkan isyarat Pak Yanto untuk mengeluarkan vagina saya dari penisnya karena saya belum sampai orgasmeku ketiga sehingga akhirnya spermanya tumpah. di tubuhku

Akibatnya dua bulan kemudian saya pasti hamil!
Rasa bersalah membuat saya tidak berani berbicara langsung dengan Pak Yanto sehingga bayi saya bertambah besar. Pak Yanto akhirnya ketahuan setelah dia kaget karena saya mau disetubuhi pada tanggal biasanya saya mendapat menstruasi dan juga merasakan payudara saya semakin besar.

Karena bertambahnya jumlah saya, Pak Yanto membawa saya ke dokter kandungan untuk dibatalkan dengan cara yang aman. Dokter ingin melakukan aborsi karena saya dikenali sebagai istri mudanya yang tidak diizinkan memiliki anak dari istri lamanya. Sangat ironis memang?

Kehamilan dan aborsi yang tidak diinginkan yang saya lakukan membuat Pak Yanto meminta saya untuk memasang AKDR sehingga kami berdua tidak perlu lagi khawatir untuk kebobrokan. Jadi sekarang aktivitas seksual kita berdua tampak lebih intensif dan tanpa disadari mulai terlalu demonstratif sehingga membuat orang kantor mulai bertanya-tanya tentang hubungan spesial antara kita.
Akhirnya, untuk mencegah kecurigaan orang-orang kantor yang sering melihat saya keluar dengan nafas berburu dan lipstik memudar dari ruang bosnya hampir dua kali sehari, Pak Yanto merekomendasikan saya ke perusahaan lain yang dikelola oleh pelanggan perusahaan kami.

Lalu aku menyewa sebuah kamar kos yang memungkinkannya datang kapan saja. Hampir setiap sore setelah kembali dari kantor dia datang untuk bercinta saya sebelum dia pulang ke rumah dan kadang pagi juga mengajak saya bekerja setelah melakukan hubungan intim terlebih dahulu.

Setelah hampir empat tahun berurusan dengan Pak Yanto tanpa status yang jelas, akhirnya saya menerima sebuah aplikasi dari teman SMA saya yang ingin mengajak saya menikah tanpa melalui pacaran. Awalnya Pak Yanto keberatan dengan keputusan saya, tapi akhirnya dia menerimanya setelah saya berjanji untuk tetap melayani dia jika ditanya. Aku bisa membuktikan bahwa, saat aku mengandung anak pertamaku, aku masih rela berhubungan seks dengannya.

Saya tidak pernah bisa melupakan mantan bosku ini, bukan karena dialah yang telah mengerutkan kening keperawanan saya, tapi karena saya mencintainya.

Cerita Bokep Dewasa Terbaru 2018 Gadis ABG Masih Sma Cantik

Cerita Seks Bergambar, Cerita Seks Terbaru, Cerita Mesum Bergambar, Cerita Dewasa Bergambar, Cerita Dewasa Terbaru, Cerita Mesum Terbaru, Cerita Pemerkosaan Perawan, Cerita Sex Tante, Cerita Ngentot, Cerita Dewasa Sex Terbaru, Kumpulan Cerita Seks Terbaru 2018, Cerita Bokep Mesum, Cerita Ngentot Hot, Cerita XXX Terbaru, Cerita Ngewe Panas, Situs Cerita Sex Terbaik Inilah kisah teman saya Mitha, dia sering menceritakan kepada saya tentang ceritanya bahwa ketika saya bersekolah di kelas 1, sebelum kita berteman dari kecil, memang dari Mitha kecil telah melihat aura parasitik yang indah, cerpennya Saya menulis sebagian besar tanpa rekayasa atau dibuat untuk kisah nyata teman saya Mitha ini.

Cerita Bokep Dewasa Terbaru 2018 Gadis ABG Masih Sma Cantik

Dengan wajah yang sangat cantik, kulit putih, dan ukuran payudara 36B, tak heran semua mata pria saat ia bersekolah di mata mata Mitha, tergoda oleh orang-orang disekitarnya, tapi sampai hari ini juga Mitha belum pernah memiliki kekasih, boleh oleh orang tua atau penolakan baik bila seseorang ingin mengekspresikan cinta kepada Mitha? Maaf ya ,, kita temenan aja dulu?, Jadi permisi kalau ada yang mau berkencan dengan Mitha. Itu adalah Mitha, gadis cantik dan cantik dari kota metropolitan Jakarta dimana dia tinggal. Mitha mungkin akan bertahan cukup lama dalam ketidakbersalahannya jika hal itu tidak terjadi.

Pagi telah selesai bersiap untuk pergi, Mitha sedikit tergesa-gesa menjalankan Honda Supra-nya. Tanpa sadar dari kejauhan tiga pasang mata mulai mencintainya. Anton, seorang mahasiswa berusia 25 tahun dari salah satu universitas swasta yang telah ditolak oleh Mita, mengundang dua rekan sejawatnya yang terkenal (Iwan dan Tejo) untuk mengajar Mitha sebuah pelajaran sejak Anton adalah playboy terlama untuk menjadi ditolak, terutama oleh seorang gadis seperti Mitha.

Tepat di jalan sempit yang hampir habis, Anton dan teman-temannya mengemudikan Toyota Land Cruser mereka, karena mereka tahu persis bahwa Mitha sedang melewati jalan pintas ini ke sekolahnya. Sedikit terkejut melihat mobil menghalangi jalan, Mitha gugup dan terjatuh dari motornya. Anton yang ada di dalam mobil keluar.

? Hi Mit .., nih ya .. ?? kata Anton santai.
Apa yang kau ..? Mau bunuh aku ya .. ?? Mitha menyalak kesal.
? Tidak .., hanya ingin kamu jadi pacarku, jangan tolak lagi lho ..! Ntar ?? kata Anton yang belum sempat menyelesaikan kata-katanya.
? Ntar apa .. ?? potong Mitha yang masih dengan wajah jengkel.
? Ntar aku pemerkosaan lo ..!?
“Sialan dasar, cepetan keluar aku sudah terlambat ya ..!” Bentak Mitha.
Air mata di pipinya mulai menetes karena Anton terus menghalangi jalannya.
? Anton tolong .., minggir ..!? ketidaksabaran itu tidak lagi tidak sabar.

Anton mulai mendekati Mitha yang gemetar karena tidak tahu harus menghadapi bajingan ini lagi. Tiba-tiba dari belakang sebuah pukulan mematikan mendarat di tengkuk Mitha yang membuat dia pingsan seketika. Ternyata Iwan yang sudah bersembunyi di balik pohon dengan delapan orang lainnya sudah tidak bisa menunggu lagi.

Mari kita transportasi dia ..!? Anton memerintahkan kepada teman-temannya.
Singkat cerita, Mitha dibawa ke sebuah rumah kosong di pinggir kota. Lokasi rumah itu jauh dari rumah lain, jadi apapun yang terjadi di dalamnya tidak akan diketahui siapa pun.

Sebuah tamparan di pipinya membuatnya mulai sadar kembali. Dengan tampilan gairah dari dua pria yang sama sekali tidak diketahui kecuali satu, Anton. Mitha mulai ketakutan melihat-lihat. Apa yang akan terjadi adalah samar-samar menjulang di matanya. Jelas dia akan diperkosa oleh 3 orang. Rupanya mereka tidak sabar untuk segera memperkosa Mitha. Tangan mereka mulai merobek pakaian gadis itu dengan sangat kasar tanpa teriakan amprum dan tangisan Mitha.

Setelah melucuti Mitha maka Mitha benar-benar telanjang. Seorang Iwan menyentakkan rambut Mitha dan menariknya, sehingga tubuh Mitha yang kikuk di lantai terangkat dalam posisi berlutut menghadap Iwan.

? An .., lo mau aku apain nih cewek .. ?? kata Iwan sambil melirik Anton.
? Terserah saya .., emang saya pikir ..!?
Iwan menatap sebentar pada Mitha yang ketakutan itu, air mata mengalir dan, PLAC …!? tamparan Iwan melayang di pipinya.

Cerita Bokep Dewasa Terbaru 2018 Gadis ABG Masih Sma Cantik

Anton dan yang lainnya mulai saling menanggalkan pakaian, sehingga sekejap orang di ruangan itu semua telanjang. Mitha yang duduk di lantai karena mencampakkan Iwan lagi mendapat perlakuan serupa dari Anton yang menarik kembali rambutnya, hanya saja tidak menarik diri, tapi turun, jadi sekarang posisi Mitha terlentang. Teman-teman Anton memegang kedua tangan dan kaki Mitha, sementara Anton duduk tepat di atas payudaranya. Penis Anton mengeras dengan panjang 18 cm ditempelkan di bibir Mitha.

? Ayo isep penisku ..!? Anton bentak tak sabar.
Karena Mitha tidak membuka mulutnya, Anton menampar Mitha berkali-kali. Karena tidak mampu menahannya, akhirnya mulut mitha mulai terbuka. Tanpa memaafkan anton yang tidak sabar mengeluarkan penisnya, bohlam kepala penis Anton muncul di tenggorokan Mitha. Anton mulai menyodok penisnya di mulut Mitha selama 5 menit tanpa memberi Mitha kesempatan untuk bernafas. Mitha kesakitan dan mulai kehabisan nafas, Anton bukannya kasihan tapi malah lebih brutal menempelkan penisnya.

Setelah beberapa saat, Anton mengeluarkan penisnya dari mulut Mitha, dan segera digantikan oleh penis Iwan yang panjangnya hampir 20 cm. Tejo yang telah menahan kaki Mitha mulai menjalankan aksinya. Paha Mitha berhenti dan mengarahkan penisnya ke dalam vagina Mitha.

Tejo penis terbesar diantara kedua koleganya tidak terlalu mudah menembus vagina Mitha yang sangat sempit, karena masih perawan. Tapi Tejo tidak peduli, kontolnya terus ditekan ke dalam vagina Mitha dan tak lama kemudian Mitha tampak meringis kesakitan, namun tak mampu berbicara karena mulutnya tersumbat penis Iwan yang kira-kira menembus tenggorokannya.

Tejo mengemudikan penisnya ke dalam vagina Mitha dan darah yang terlihat mulai menetes dari vaginanya. Keperawanan Mitha telah dicabik-cabik oleh Tejo. Iwan tidak puas dengan? Layanan? Mitha tampak kesal.
? Ayo isep atau aku tersedak lo ..!? dia membentak Mitha, yang sudah kedinginan di matanya.
Mitha yang putus asa hanya bisa menuruti keinginan Iwan. Mulutnya bolak-balik sambil mengisap penis Iwan.
?Ayo cepat..!? kata Iwan lagi.

Karena dalam posisi terlentangnya, agak sulit bagi Mitha untuk mengangkat kepalanya ke bawah untuk menyedot penisnya, tapi Iwan rupanya tidak peduli. Mitha memeluk pinggang Iwan, jadi dia bisa sedikit mempercepat gerakannya seperti yang diinginkan Iwan.
Hampir 30 menit berlalu, Iwan hampir ejakulasi, rambut Mitha ditarik ke bawah sehingga wajahnya mendongak. Iwan menarik penisnya dari mulut Mitha.

Buka lebar dan keluar lidah lo ..!? bentaknya lagi.
Mitha membuka mulutnya lebar-lebar dan menjulurkan lidahnya. Iwan meletakkan setengah penisnya kembali ke mulut Mitha dan, “Ah .., crot? Crot? Crot ..! Banyak sperma Iwan masuk ke mulut Mitha.

? Menelan semuanya ..!
Mitha terpaksa menelan semua sperma Iwan ke dalam mulutnya, meski ada beberapa yang mengalir melalui bibirnya.

Tejo yang juga hampir ejakulasi menarik penisnya dari vagina Mitha dan mengangkatnya ke dada Mitha dan pada saat bersamaan Iwan menarik penisnya dari mulut Mitha. Tejo memasukkan penisnya ke mulut Mitha sampai masuk ke dalam tenggorokannya.

Dan,? Crot .. crot .. crot ..!? Kali ini sperma Tejo langsung menembus tenggorokan Mitha.
Anton yang selama ini menyaksikan aksi kedua rekannya melakukan hal yang sama dilakukan Tejo, hanya Anton yang menyemprotkan spermanya ke dalam vagina Mitha.

Jadi, masing-masing lagi memperkosa Mitha sehingga Anton, Tejo dan Iwan bisa merasakan kenikmatan vagina Mitha dan kehangatan bibir Mitha yang mengepung penis mereka. Mereka benar-benar melampaui batas denominasi Mitha yang bulat.

Sebelum meninggalkan Mitha sendirian di sebuah rumah kosong, mereka sempat membuat foto bugil Mitha biasa mengancam Mitha jika dia membuka mulutnya. Foto-foto tersebut akan didistribusikan ke seluruh sekolah Mitha jika Mitha benar-benar melaporkannya kepada orang lain.

Keesokan harinya dengan berbagai ancaman, Mitha terpaksa mengundurkan diri diperkosa lagi oleh Anton dan kawan-kawan hingga puluhan kali. Dan setiap saat diperkosa, jumlahnya selalu meningkat, sampai Mitha terakhir memperkosa 40 orang, dan terpaksa menelan sperma setiap pemerkosa. Ini tak disangka nasib Mitha.